Viral hari ini di dunia bisnis teknologi: OpenAI disebut hampir menutup putaran pendanaan baru senilai hingga 30 miliar dolar Amerika Serikat. Valuasi pra-uang yang dipakai dalam negosiasi mencapai 1,25 triliun dolar, atau sekitar Rp22.100 triliun bila memakai kurs Rp17.703 per dolar. Angka itu menempatkan pembuat ChatGPT sebagai perusahaan swasta termahal dalam sejarah bila putaran benar-benar selesai.
Laporan pertama datang dari CNBC pada Kamis, 22 Oktober 2026, dengan sumber orang yang mengetahui negosiasi. TechCrunch mengutip laporan yang sama dan menyebut Coatue serta sejumlah investor Uni Emirat Arab memimpin putaran. OpenAI menolak berkomentar soal rincian kesepakatan yang masih berjalan.
Yang menarik bukan hanya besarannya, tetapi arah angkanya. Valuasi 1,25 triliun dolar itu lebih rendah dari 1,4 triliun dolar yang beredar pada akhir September 2026. Selisih sekitar 150 miliar dolar menunjukkan harga masih dinegosiasikan dan belum final.
Viral Hari Ini: Rincian Angka yang Beredar
Menurut laporan CNBC, dana yang diincar mencapai 30 miliar dolar dengan valuasi pra-uang 1,25 triliun dolar. Artinya, angka itu dihitung sebelum uang baru masuk ke kas perusahaan. Bila seluruh 30 miliar dolar terkumpul, valuasi pasca-uang akan berada di kisaran 1,28 triliun dolar.
OpenAI dilaporkan meminta investor menandatangani komitmen paling lambat akhir pekan depan. Ukuran akhir putaran belum ditetapkan dan syaratnya masih bisa berubah. Perusahaan memposisikan dana ini sebagai jembatan sebelum penawaran umum perdana.
Rincian itu dirangkum TechCrunch dari pemberitaan CNBC. Sebelumnya, Bloomberg pada 29 September 2026 melaporkan target 30 miliar dolar dengan valuasi sekitar 1,4 triliun dolar. Dua laporan itu tidak saling membatalkan, tetapi menunjukkan pergeseran harga.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Jejak Valuasi OpenAI dalam Tujuh Bulan
Pada Maret 2026, OpenAI menutup pendanaan sekitar 122 miliar dolar dengan valuasi pasca-uang 852 miliar dolar. Investor yang terlibat saat itu antara lain Amazon, Nvidia, dan SoftBank. Amazon disebut berkomitmen hingga 50 miliar dolar.
Sejak itu, angka yang dibicarakan pasar bergerak naik. Pada September 2026, investor membicarakan valuasi sekitar 1,2 triliun dolar, lalu 1,4 triliun dolar, dan kini 1,25 triliun dolar. Naik turunnya angka menggambarkan negosiasi yang tidak berjalan satu arah.
Dibandingkan posisi Maret 2026, angka 1,25 triliun dolar berada sekitar 47 persen di atas valuasi pasca-uang 852 miliar dolar saat itu. Bila dana 30 miliar dolar masuk seluruhnya, valuasi pasca-uang akan berada di kisaran 1,28 triliun dolar. Perhitungan sederhana itu memberi gambaran seberapa cepat ekspektasi pasar berubah.
Mengapa Dana Ini Disebut Jembatan Sebelum IPO
OpenAI sudah menyerahkan dokumen rahasia untuk penawaran umum perdana pada Juni 2026. Namun perusahaan memilih menambah dana privat sebelum melangkah ke pasar saham. Pilihan itu memberi ruang lebih besar untuk mengatur waktu dan harga dibandingkan langsung mencatatkan saham.
Menurut laporan Yahoo Finance yang mengutip pemberitaan CNBC, Direktur Keuangan OpenAI Sarah Friar pernah menyampaikan bahwa pencatatan saham bisa terjadi pada 2027. Dana baru memberi perusahaan modal kerja untuk membiayai kapasitas komputasi yang mahal sebelum pasar publik ikut menanggung risikonya.
Ada pula pembicaraan terpisah soal pasokan komputasi dari Uni Emirat Arab. Dana dan kesepakatan komersial itu dibahas berdekatan, meski keduanya bukan satu paket yang sama. Kebutuhan daya komputasi menjadi alasan utama mengapa OpenAI terus mencari uang dalam jumlah besar.
Tekanan dari Sisi Belanja Infrastruktur
Model bahasa kelas atas menuntut pusat data, cip, dan listrik dalam skala yang belum pernah ada. Sebagian laporan menyebut target belanja komputasi OpenAI sampai 2030 mencapai ratusan miliar dolar. Angka itu menjelaskan mengapa pendanaan baru terus dicari meski pendapatan tumbuh.
Pendapatan tahunan OpenAI dilaporkan mencapai sekitar 40 miliar dolar pada Agustus 2026. Meski besar, angka itu masih jauh di bawah komitmen belanja infrastruktur yang sudah diumumkan. Selisih inilah yang membuat investor menilai perusahaan butuh tambahan modal sebelum arus kas seimbang.
Pola serupa terlihat di perusahaan AI lain yang mengumpulkan dana besar untuk membangun pusat data. Di Indonesia, kebutuhan modal sebesar itu juga muncul di sektor lain, misalnya saat emiten tambang melakukan rights issue Rp8,19 triliun untuk membiayai ekspansi.


