Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
SUARALUTIM.COM, CENDANA — Anggota Satuan Tugas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Kodim 1403/Palopo tidak hanya mengerjakan jembatan dan bronjong di Desa Cendana, Kecamatan Burau, Luwu Timur. Di sela pekerjaan fisik itu, mereka mendatangi kebun kakao milik warga untuk mempelajari teknik pembibitan dan budidaya. Kegiatan berlangsung pada 23 Oktober 2026.
Langkah tersebut menjadikan TMMD di Luwu Timur bukan sekadar proyek infrastruktur. Ada dimensi lain yang ikut dibawa: pemindahan pengetahuan dari petani ke prajurit, dan sebaliknya. Bagi desa yang menggantungkan penghasilan keluarga dari kakao, kehadiran satgas di kebun warga menjadi semacam ruang belajar dua arah.
Kapten Inf. Galy menjelaskan bahwa proses belajar dari petani memberi keuntungan bagi kedua pihak. Satgas memperoleh pengetahuan lapangan tentang praktik pertanian lokal, sementara petani mendapat perhatian atas komoditas yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi keluarga di Desa Cendana.
Luwu Timur dan Program TMMD ke-130
TMMD ke-130 Kodim 1403/Palopo berjalan di Kabupaten Luwu Timur dengan sasaran pembangunan fisik di tingkat desa. Sebelumnya, pada pertengahan Oktober 2026, program ini dibuka dan mulai mengerjakan jalan desa di lokasi sasaran. Ulasan mengenai pembukaan itu bisa dibaca pada artikel TMMD ke-130 Bangun Jalan Desa Baru.
Di Desa Cendana, pekerjaan yang berjalan mencakup jembatan dan bronjong. Keduanya termasuk infrastruktur dasar yang menentukan mobilitas warga: jembatan menghubungkan permukiman dengan kebun dan sawah, sedangkan bronjong menahan gerusan tanah pada titik-titik rawan. Pekerjaan semacam ini biasanya menjadi prioritas desa karena dampaknya langsung terasa, terutama saat musim hujan.
Namun, pengalaman TMMD di banyak daerah menunjukkan bahwa pekerjaan fisik saja tidak cukup. Desa yang jembatannya bagus tetapi sumber penghasilan warganya lemah tetap menghadapi persoalan. Karena itu, inisiatif satgas mendatangi kebun kakao menjadi pelengkap yang masuk akal, terutama di desa yang ekonominya bertumpu pada satu komoditas.
Belajar dari Kebun Kakao Warga
Dalam kunjungan itu, anggota satgas diperkenalkan pada sejumlah tahap budidaya kakao. Menurut keterangan Kapten Inf. Galy, materi yang dipelajari mencakup pemilihan biji hingga pencegahan hama. Dua hal itu memang menjadi penentu utama kualitas tanaman: bibit yang berasal dari biji pilihan memiliki vigor lebih baik, sementara pengendalian hama menentukan apakah produksi bisa dipertahankan dari musim ke musim.
Bagi prajurit, pengetahuan seperti ini punya nilai jangka panjang. Kapten Galy menyebut keterampilan bertani bisa diterapkan dalam usaha pertanian yang mungkin digeluti setelah masa tugas. Dengan kata lain, kunjungan ke kebun warga bukan sekadar kegiatan pendampingan, tetapi juga pembekalan keterampilan bagi anggota satgas.
Apa yang Dipelajari Satgas
- Pemilihan biji. Menentukan mutu bibit dan keseragaman pertumbuhan tanaman.
- Teknik pembibitan. Cara menyiapkan media tanam dan merawat bibit sebelum dipindahkan ke lahan.
- Pencegahan hama. Pengenalan gejala serangan dan langkah pengendalian yang biasa dipakai petani setempat.
- Praktik budidaya lokal. Kebiasaan bertani yang sudah terbukti berhasil di Desa Cendana.
Yang dipelajari satgas bukan teori dari ruang kelas, melainkan pengalaman petani yang bertahun-tahun menggarap kebun di desa itu. Model belajar seperti ini sering lebih efektif karena langsung menyentuh kondisi tanah, iklim mikro, dan kebiasaan warga setempat.
Kakao sebagai Penopang Keluarga di Cendana
Kakao dianggap sebagai komoditas yang sangat vital bagi keluarga di Desa Cendana. Laporan ThreeNews menyebut tanaman ini menjadi sumber penghasilan dan potensi ekonomi yang dapat dikembangkan. Pernyataan itu sejalan dengan posisi kakao sebagai salah satu komoditas perkebunan rakyat di Sulawesi, yang sebagian besar diusahakan petani kecil dengan lahan terbatas.
Ketika satu komoditas menjadi penopang utama, kualitas budidaya menjadi penentu pendapatan. Perbedaan kecil dalam pemilihan bibit, pemupukan, atau pengendalian hama bisa berdampak besar pada hasil panen. Karena itu, pendampingan teknis di tingkat kebun sering lebih dibutuhkan daripada bantuan yang bersifat seremonial.


