LUWU TIMUR — Temuan Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam soal siswa yang masih belajar melantai kini menemukan titik terang. Siswa yang dimaksud berada di SMP Negeri 1 Tomoni Timur.
Persoalannya bukan karena sekolah tidak memiliki ruang kelas. Empat ruang kelas baru (RKB) telah selesai dibangun, namun belum dilengkapi meja dan kursi. Kondisi itu membuat ruang kelas yang sebenarnya sudah tersedia belum bisa digunakan secara ideal.
Sekolah pun memanfaatkan fasilitas seadanya agar proses belajar mengajar tetap berjalan. Temuan ini sekaligus memperlihatkan bahwa masalah sarana pendidikan tidak selalu soal ada atau tidaknya bangunan.
Viral Luwu Timur: Empat dari 21 Ruang Kelas Tanpa Mobiler
Data kondisi ruang sekolah menunjukkan terdapat 21 ruang kelas asli. Dari jumlah tersebut, empat ruang tercatat belum memiliki meja dan kursi.
Kondisi inilah yang membuat sebagian siswa harus mengikuti pembelajaran dengan fasilitas yang jauh dari ideal. Ruang kelas yang sudah berdiri belum dapat dipakai sepenuhnya karena mobiler belum tersedia.
Bagi siswa, meja dan kursi bukan sekadar pelengkap ruang kelas. Fasilitas tersebut menjadi bagian penting agar proses belajar berlangsung lebih nyaman dan layak, mulai dari menulis, membaca, hingga mengerjakan tugas di kelas.
Kasus ini menjadi sorotan karena menyentuh langsung keseharian siswa. Belajar sambil melantai membuat konsentrasi mudah terganggu dan menambah kelelahan, terutama pada jam pelajaran terakhir.
Perintah Bupati: Meja dan Kursi Segera Ada
Persoalan siswa belajar sambil melantai mendapat perhatian langsung dari Bupati Luwu Timur. Ia meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Luwu Timur segera berkoordinasi untuk menyelesaikan kebutuhan mobilier di sekolah tersebut.
“Segera koordinasikan antara Kabid dan Kadis. Saya minta minggu depan fasilitas meja dan kursi sudah terealisasi untuk sekolah yang siswanya masih belajar di lantai,” perintah Irwan.
Perintah itu sekaligus memberi batas waktu penyelesaian. Persoalan fasilitas yang ditemukan pada awal September ini ditargetkan tidak berlarut-larut.
Penanganan cepat menjadi penting karena menyangkut kegiatan belajar yang berjalan setiap hari. Semakin lama kekurangan mobiler dibiarkan, semakin lama pula siswa belajar dengan fasilitas yang belum layak.
Sekolah Diminta Perbarui Data Sarpras Secara Real-Time
Selain meminta kebutuhan meja dan kursi segera dipenuhi, Bupati Irwan juga meminta seluruh sekolah lebih serius memperbarui data kondisi sarana dan prasarana. Pihak sekolah diminta melakukan penginputan kondisi sarpras melalui aplikasi One Data Dikbud Luwu Timur.
Langkah ini diperlukan agar pemerintah memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi fasilitas setiap sekolah, termasuk tingkat kerusakannya.
“Penginputan data secara nyata pada aplikasi One Data Dikbud Luwu Timur. Data tersebut membantu pemerintah mengklasifikasikan tingkat kerusakan baik ringan, sedang, maupun berat. Sehingga program perbaikan dapat dilakukan secara tepat sasaran,” ujar Irwan.
Dengan data tersebut, pemerintah tidak hanya mengetahui sekolah mana yang membutuhkan perbaikan, tetapi juga dapat melihat tingkat kerusakannya. Data yang diperbarui secara berkala menjadi penting untuk menentukan sekolah mana yang perlu mendapat perhatian lebih dulu.
Kenapa Data Sarpras Menentukan Prioritas Perbaikan
Selama ini usulan perbaikan sekolah sering bergantung pada laporan lisan atau hasil kunjungan sesaat. Akibatnya, kebutuhan yang paling mendesak bisa tertutup oleh sekolah yang laporannya lebih cepat sampai.
One Data Dikbud menyediakan jalur yang lebih teratur. Sekolah mengisi kondisi nyata setiap ruang, kemudian dinas memverifikasi sebelum menyusun anggaran.
Mekanisme itu membuat urutan prioritas lebih dapat dipertanggungjawabkan. Sekolah dengan kerusakan berat atau kekurangan fasilitas pokok bisa ditangani lebih dahulu tanpa mengabaikan yang lain.
Pemetaan yang sama juga membantu menghindari pembangunan ruang kelas baru di sekolah yang sebenarnya hanya kekurangan mobiler. Kesalahan jenis intervensi membuat anggaran tidak efisien sekaligus memperlambat perbaikan yang dirasakan siswa.
Pembahasan sarana pendidikan di Luwu Timur sebelumnya juga muncul dalam pemberitaan SuaraLutim, termasuk pada artikel sarana sekolah Luwu Timur yang didesak segera dibenahi. Kanal pendidikan SuaraLutim juga memuat perkembangan lain, seperti data kemutakhiran pendidikan di daerah ini.