Sabtu, 31 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Tambang & Industri

Hilirisasi Nikel Naik Kelas ke Baja Nirkarat Krakatau Steel

29 Oktober 2026 • Admin • 57 kali dibaca
ASM Group
Iklan

Jakarta — PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menyiapkan proyek hilirisasi nikel menjadi stainless steel slab berkapasitas 1,2 juta ton per tahun. Estimasi investasinya US$350 juta, dengan proyeksi pendapatan tahunan di atas US$2 miliar.

Rencana itu dipaparkan Direktur Infrastruktur dan Operasi Krakatau Steel, Sidik Darusulistyo, pada sesi Investor Showcase ajang Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, 26–28 Oktober 2026. Keterangan itu dikutip ANTARA pada Kamis (29/10/2026).

Apa yang Disiapkan Krakatau Steel

“Pengembangan fasilitas ini ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah produk olahan nikel melalui pengolahan lebih lanjut menjadi Stainless Steel,” kata Sidik dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Corporate Secretary Krakatau Steel, Rariya Budi Harta, menyebut hilirisasi teknologi butuh dukungan ekosistem industri agar inovasi bisa diterapkan dalam skala komersial. “Melalui pengembangan advanced materials dan hilirisasi teknologi, kami berkomitmen mendukung penguatan rantai pasok, membuka peluang investasi, serta meningkatkan daya saing industri nasional,” ujarnya.

Tata Atur
Iklan

Jejak kerja sama ke arah itu sudah terlihat sejak Juli 2026. Saat itu Krakatau Steel menandatangani nota kesepahaman Collaboration on Advanced Materials Development bersama MIND ID, Defend ID, dan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas).

Bulan yang sama, perseroan juga meneken nota kesepahaman dengan Steel Authority of India Limited (SAIL) soal pengembangan stainless steel, dalam rangkaian kunjungan Perdana Menteri India.

DTIIF 2026 digagas Danantara untuk mempertemukan calon mitra dengan proyek strategis. CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menyebut tiga ambisinya: memperkuat kemitraan jangka panjang, menggerakkan modal global, dan memastikan kolaborasi menjadi inisiatif konkret.

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Dari Produk Antara ke Baja Nirkarat

Selama ini sebagian besar nilai tambah nikel Indonesia berhenti di produk antara. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyoroti hal itu di sela Investor Daily Summit 2026, 7 Oktober lalu.

“Ini kan oversupply, makanya harganya lagi jatuh. Kita dapat pertimbangkan untuk industri yang setengah jadi ini kita mulai mencoba untuk meminimalisir, bahkan mungkin kita melakukan moratorium, sementara yang kita dorong adalah industri-industri yang produk hilirnya langsung,” kata Bahlil, dikutip CNBC Indonesia (14/10/2026).

Rantai nilainya panjang: bijih nikel diolah menjadi feronikel, NPI, atau matte, lalu stainless steel slab, dan berlanjut ke lembaran canai dingin. Setiap tahap menambah nilai, tetapi menuntut mutu bahan baku dan kestabilan pasokan yang berbeda.

Karena itu, pabrik slab di dalam negeri mengubah posisi Indonesia: selama ini produk antara dikirim keluar, lalu baja nirkaratnya kembali masuk sebagai barang jadi.

Yang belum jelas adalah bahan bakunya. Krakatau Steel belum menyebut resmi apakah pabrik itu menyerap NPI, feronikel, atau matte dari smelter di Sulawesi, termasuk Luwu Timur. Lokasi pabrik dan jadwal konstruksi juga belum diumumkan.

Hilirisasi Nikel dan Target Ekspor US$45 Miliar

Arah hilir yang lebih dalam sejalan dengan target pemerintah. Koordinator Kerja Sama dan Investasi Minerba Ditjen Minerba Kementerian ESDM, Yan Abrar, memaparkan bahwa nilai ekspor produk nikel hilir naik dari sekitar US$3,3 miliar pada 2017 menjadi sekitar US$40 miliar pada 2025.

“Pada Agustus 2026, angka tersebut telah mencapai sekitar US$25,6 miliar, hampir US$26 miliar, dengan pemerintah menargetkan setidaknya US$45 miliar untuk setahun penuh,” kata Yan dalam Indonesia-Korea Energy Forum (IKEF) di The Meru Sanur, Denpasar, Bali, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (29/10/2026).

Dengan asumsi kurs Rp18.155 per dolar AS, target US$45 miliar setara Rp817,01 triliun. Realisasi hingga Agustus 2026 sebesar US$25,6 miliar setara Rp464,79 triliun.

Yan menegaskan pemerintah memilih jalur hilir selektif. “Kami ingin memprioritaskan proyek-proyek yang layak secara komersial, sesuai secara teknologi, bertanggung jawab terhadap lingkungan, dan terhubung dengan permintaan industri yang sebenarnya,” ujarnya.

Menurut Yan, merek nikel kelas 1 asal Indonesia sudah diakui London Metal Exchange (LME), tanda produk olahan Indonesia memenuhi standar pasar internasional.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga