Minggu, 1 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Berita Indonesia: Desa Mulai Pasok Biomassa ke PLTU

31 Oktober 2026 • zul • 24 kali dibaca
Ilustrasi kompleks PLTU Suralaya di pesisir Banten yang menjadi tujuan pasokan biomassa desa
satari, CC BY 3.0, via Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Program desa memasok biomassa ke pembangkit listrik resmi berjalan. Dalam berita Indonesia hari ini, PLN Group bersama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal meluncurkan skema co-firing berbasis partisipasi warga desa. Peluncuran berlangsung di Serang, Banten, Sabtu, 31 Oktober 2026, dengan pasokan perdana dari Desa Salira ke PLTU Suralaya.

Berita Indonesia: Skema Co-firing Biomassa Desa

Co-firing adalah pencampuran biomassa dengan batu bara di pembangkit listrik tenaga uap. Biomassa yang dipakai berasal dari limbah pertanian dan industri. Sekam padi, jerami, tongkol jagung, serbuk gergaji, hingga cangkang sawit masuk dalam daftar bahan baku, seperti dijelaskan dalam laporan ANTARA dari Serang.

Dalam skema ini, desa tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah. Badan Usaha Milik Desa diarahkan mengumpulkan, mengolah, dan mengirim biomassa sesuai standar pembangkit. Perannya bergeser dari penerima program menjadi pelaku rantai pasok.

Direktur Utama PLN Energi Primer Indonesia Rakhmad Dewanto menyebut tujuan program ini ganda. Selain menekan emisi, kegiatan itu menggerakkan ekonomi warga desa yang mengolah limbah di sekitar instalasi pembangkit.

Tata Atur
Iklan

Peluncuran di Serang menandai realisasi kerja sama yang sudah disiapkan sebelumnya. Kementerian Desa meneken nota kesepahaman dengan PLN, lalu perjanjian kerja sama dengan anak usaha PLN di bidang energi primer. Jalannya acara dilaporkan langsung oleh detikcom.

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Desa Salira dan Pasokan Perdana ke PLTU Suralaya

Desa Salira di Kabupaten Serang menjadi titik awal. Pasokan pertamanya diarahkan ke PLTU Suralaya, pembangkit besar di pesisir Banten. Lokasi itu dipilih karena jaraknya dekat dengan sumber bahan baku.

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyebut proyek percontohan ini akan dipetakan ulang. Pemerintah ingin melihat desa mana yang punya pusat jagung, kelapa, atau komoditas lain yang menyisakan limbah.

Menurutnya, banyak limbah selama ini dibuang begitu saja. Tongkol jagung, batok kelapa, dan serabut kelapa bisa diubah menjadi bahan bakar. Nilai ekonominya baru terasa bila ada pembeli tetap seperti pembangkit listrik.

Detail teknis pasokan diatur dalam perjanjian antara BUMDes dan pihak PLN. Kesepakatan mencakup volume, mutu, dan jadwal pengiriman. Rincian harga tidak dipublikasikan dalam peluncuran.

Angka 2,4 Juta Ton Batu Bara yang Digantikan

PLN menargetkan sekitar 2,4 juta ton batu bara digantikan biomassa sepanjang 2026. Menurut Rakhmad, substitusi itu setara pengurangan emisi 2,4 juta ton karbon dioksida. Angka tersebut disampaikan dalam peluncuran di Serang.

Yandri menyebut potensi biomassa dari desa jauh lebih besar. Ia mengutip proyeksi sekitar 8,3 juta ton, sementara yang sudah termanfaatkan baru sekitar 2,5 juta ton dan bergerak menuju 3 juta ton. Selisih itu yang ingin ditutup lewat pasokan desa.

Pemerintah mendata sekitar 75.266 desa di seluruh Indonesia. Tidak semua desa punya bahan baku biomassa. Pemetaan dilakukan agar pasokan tidak menumpuk di satu wilayah dan biaya angkut tetap masuk akal.

PLN menyusun pengembangan bertahap. Tahun pertama tiga lokasi, tahun berikutnya enam lokasi, lalu sepuluh lokasi pada tahap lanjutan. Jumlah itu mengikuti arahan Kementerian Desa dan kesiapan jaringan pasokan.

Angka-angka tersebut masih berupa target. Realisasinya bergantung pada kemampuan desa memasok secara rutin dengan mutu yang diterima pembangkit.

Mengapa Pembangkit Butuh Campuran Biomassa

Batu bara masih menjadi bahan bakar utama pembangkit di Indonesia. Menggantinya sekaligus tidak mungkin dilakukan dalam waktu singkat. Co-firing menjadi jalan tengah untuk menurunkan intensitas emisi tanpa membangun pembangkit baru.

Kebijakan energi juga bergerak ke arah pengurangan batu bara untuk pembangkit tertentu, seperti dibahas dalam artikel PLTU captive yang akan keluar dari hitungan DMO. Perubahan itu membuat pembangkit makin perlu mencari bahan bakar campuran yang murah dan tersedia lokal.

Biomassa punya keunggulan dari sisi sirkularitas. Limbah yang sebelumnya menjadi beban berubah menjadi komoditas. Pembakaran bersama batu bara juga tidak menuntut modifikasi besar pada banyak unit.

Namun ada syarat mutu yang ketat. Kadar air, ukuran partikel, dan nilai kalor harus mendekati spesifikasi pembangkit. Bila tidak, efisiensi turun dan peralatan bisa cepat rusak.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga