Kamis, 5 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pendidikan

Luwu Timur: Empat Siswa Juara Dua FTBI Sulawesi Selatan

3 November 2026 • Admin • 25 kali dibaca
Empat siswa Luwu Timur penerima juara FTBI Sulawesi Selatan di Makassar
Gambar: Dok. Luwuraya.com (penyerahan penghargaan FTBI Sulawesi Selatan di Makassar, 31 Oktober 2026).
ASM Group
Iklan

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Tata Atur
Iklan

SUARALUTIM.COM, MALILI — Luwu Timur mencatat prestasi di tingkat provinsi. Empat siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama asal Kabupaten Luwu Timur meraih juara kedua pada Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Sulawesi Selatan yang digelar di Kota Makassar, Sabtu (31/10/2026). Penghargaan diserahkan di Hotel Novotel Makassar dalam kegiatan yang diadakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan.

Prestasi itu tidak datang dari satu sekolah saja. Dua siswa berasal dari SDN 227 Puncak, Kecamatan Malili; satu siswa dari SDN 272 Parahua, Kecamatan Towuti; dan satu siswa dari SMPN 1 Tomoni, Kecamatan Tomoni. Sebaran itu menunjukkan bahwa pembinaan bahasa daerah di Luwu Timur tidak terpusat di ibu kota kabupaten.

Bagi daerah yang warganya berasal dari beberapa latar budaya, hasil ini punya arti lebih dari sekadar piala. Bahasa daerah adalah bagian dari cara warga Luwu Timur memahami diri dan lingkungannya, dan festival semacam ini memberi ruang agar bahasa itu dipakai di depan publik, bukan hanya di rumah.

Luwu Timur dan Peta Juara FTBI Sulawesi Selatan

Empat kategori yang dimenangkan memperlihatkan variasi yang menarik. Dari SDN 227 Puncak, Ar Rahman Sulkarnain meraih juara kedua pada kategori komedi tunggal putra bahasa Bugis, sementara Alikha Mim Aquinha meraih juara kedua pada komedi tunggal putri bahasa Toraja. Dua kategori berbeda, dua bahasa berbeda, dari satu sekolah yang sama.

Dari SDN 272 Parahua, Kecamatan Towuti, Faera Watydiah meraih juara kedua pada kategori pidato putri bahasa Toraja. Adapun Meyshean dari SMPN 1 Tomoni meraih juara kedua pada cabang komedi tunggal putri bahasa Toraja.

Pola itu menunjukkan sesuatu yang khas Luwu Timur. Bahasa Bugis dan bahasa Toraja sama-sama hidup di kabupaten ini, dan keduanya dipakai dalam kegiatan sekolah. Dalam banyak festival bahasa daerah, peserta dari satu daerah cenderung terpusat pada satu bahasa karena komposisi penduduknya. Di Luwu Timur, dua bahasa itu tampil berdampingan dalam satu kontingen.

Komedi tunggal sebagai pintu masuk

Menarik dicatat bahwa tiga dari empat prestasi itu diraih pada cabang komedi tunggal. Cabang ini menuntut kemampuan berbeda dibanding pidato. Peserta tidak hanya perlu menguasai kosakata dan pelafalan, tetapi juga timing, intonasi, dan keberanian tampil di depan penonton yang tidak semuanya memahami bahasanya.

Bagi siswa, komedi tunggal sering lebih mudah didekati karena materinya bisa diambil dari pengalaman sehari-hari: kebiasaan di rumah, kejadian di sekolah, atau tingkah warga di kampung. Ketika materi tumbuh dari pengalaman sendiri, bahasa daerah tidak terasa sebagai pelajaran, melainkan sebagai alat bercerita.

Mengapa Bahasa Daerah Butuh Panggung

Bahasa daerah tidak hilang dalam semalam. Ia mundur perlahan ketika orang tua mulai berbicara dalam bahasa Indonesia di rumah, ketika anak-anak lebih sering menonton konten berbahasa asing, dan ketika bahasa daerah tidak lagi dipakai di ruang publik. Karena itu, upaya pelestarian paling efektif biasanya bukan berupa larangan atau imbauan, melainkan penyediaan panggung agar bahasa itu terasa berguna dan membanggakan.

Festival seperti FTBI bekerja pada level itu. Ketika seorang siswa tampil dan mendapat tepuk tangan karena bercerita dalam bahasa Toraja atau bahasa Bugis, pengalaman tersebut membentuk penilaian bahwa bahasa daerah layak dipelajari. Efeknya berbeda dibanding ceramah tentang pentingnya pelestarian budaya.

Namun, festival hanya satu titik. Keberlanjutan bergantung pada hal yang lebih membosankan: jam pelajaran muatan lokal, ketersediaan guru, dan bahan bacaan. Di banyak daerah, tiga hal itu menjadi kendala. Guru bahasa daerah yang kompeten terbatas, sementara materi ajar sering tidak diperbarui.

Peran sekolah dan orang tua

Empat siswa yang berprestasi itu tidak bekerja sendirian. Di baliknya ada guru pembimbing yang meluangkan waktu, dan orang tua yang mengizinkan anaknya berlatih. Peran sekolah biasanya terlihat pada dua hal kecil: memberi ruang latihan setelah jam pelajaran, dan mengizinkan siswa tampil dalam kegiatan sekolah.

Di tingkat keluarga, peran orang tua lebih sederhana tetapi menentukan. Anak yang terbiasa mendengar bahasa daerah di rumah akan lebih percaya diri saat harus tampil. Sebaliknya, anak yang baru berlatih ketika lomba biasanya menghadapi dua beban sekaligus: menguasai bahasa dan mengatur keberanian.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga