Berita viral hari ini datang dari dek kapal perang terbesar yang dimiliki Indonesia. TNI Angkatan Laut menggelar latihan pengoperasian helikopter di atas KRI Sriwijaya-100 pada Senin, 2 November 2026. Latihan itu melibatkan lima helikopter dan menjadi salah satu uji kemampuan pertama kapal induk ringan tersebut setelah resmi masuk jajaran TNI.
Berita Viral: Lima Helikopter di Dek Kapal Induk
Kepala Dinas Penerangan TNI AL Laksamana Pertama TNI Tunggul menyebut latihan melibatkan tiga helikopter AS565 MBe Panther dari Skuadron Udara 100. Dua helikopter lainnya adalah Bell 412 dari Skuadron Udara 400 Wing Udara 2.
Kelima helikopter tidak hanya berlatih lepas landas dan mendarat di dek. Mereka juga menjalani simulasi penanggulangan bencana yang dioperasikan dari kapal, seperti dilaporkan ANTARA berdasarkan siaran pers resmi TNI AL.
Menurut Tunggul, seluruh rangkaian latihan berjalan aman dan lancar. Ia berharap kemampuan penerbang TNI AL dalam menjalankan operasi dari kapal induk semakin terasah setelah latihan itu.
Mengoperasikan helikopter dari dek kapal bukan pekerjaan sederhana. Penerbang harus menghitung gerak kapal, arah angin, dan ruang terbatas, sementara awak dek mengatur posisi dan pengikatan helikopter agar tidak bergeser.
Latihan semacam ini biasanya dilakukan bertahap, mulai dari lepas landas siang hari sampai pendaratan pada kondisi laut yang lebih menantang. Setiap tahap memerlukan prosedur keselamatan yang berbeda.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Mengapa Kapal Ini Disebut Tonggak Baru
KRI Sriwijaya-100 adalah kapal induk pertama yang dimiliki Indonesia. Kapal ini sebelumnya bernama ITS Giuseppe Garibaldi dan dibeli dari Italia, lalu diresmikan masuk jajaran TNI pada 24 September 2026.
Panglima TNI menyebut kehadiran kapal ini sebagai simbol modernisasi alat utama sistem senjata. Menurut keterangan yang dikutip ANTARA Kupang, kapal ini diposisikan sebagai pusat komando operasi laut, sarana diplomasi pertahanan, dan pendukung bantuan kemanusiaan.
Spesifikasinya tidak kecil untuk ukuran Indonesia. Panjangnya 180 meter, lebar 33 meter, dan bobot penuh sekitar 13.850 ton. Kecepatan maksimumnya disebut 30 knot dengan daya jelajah hingga 7.000 mil laut pada kecepatan 20 knot.
Sebagai kapal bekas, riwayat perawatannya menjadi pertimbangan tersendiri. Pemeriksaan kondisi lambung, mesin, dan sistem kelistrikan harus tuntas sebelum kapal dipakai untuk operasi rutin dalam waktu lama.
Fokus pada Operasi Militer Selain Perang
Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali berulang kali menegaskan bahwa kapal ini diprioritaskan untuk operasi militer selain perang. Alasannya sederhana: Indonesia menghadapi banyak bencana dan membutuhkan platform yang bisa membawa banyak helikopter.
Dalam skema itu, kapal induk berfungsi sebagai pangkalan helikopter yang bergerak. Bantuan logistik bisa diangkut lebih cepat ke daerah terpencil yang sulit dijangkau lewat darat, terutama saat bandara setempat tidak bisa dipakai.
Fungsi tersebut juga terlihat dalam latihan 2 November. Simulasi penanggulangan bencana menjadi bagian dari skenario, bukan hanya latihan rutin lepas landas dan mendarat.
Dalam skenario bencana, kapal bisa berperan sebagai gudang logistik terapung. Bantuan bisa dikumpulkan di satu titik, lalu didistribusikan memakai helikopter ke lokasi yang jalan daratnya terputus.
Kesiapan untuk Karhutla dan Water Bombing
TNI AL menyiapkan penerbang helikopter dari Pusat Penerbang Angkatan Laut untuk menjalankan operasi water bombing. Menurut Tempo, rencana itu disampaikan langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut di atas dek KRI Sriwijaya-100.
Kapal induk disebut bisa dipakai sebagai pangkalan helikopter terdekat dari lokasi kebakaran hutan dan lahan. Dengan begitu, waktu tempuh helikopter menuju titik api bisa dipersingkat dan jumlah penyiraman per hari bertambah.
Namun pilihan itu masih akan dihitung. Menurut Muhammad Ali, keputusan menggunakan kapal atau pangkalan darat bergantung pada efisiensi dan efektivitas masing-masing opsi di lokasi kejadian.


