SUARALUTIM.COM, PALOPO — Sinergi antar pengurus dinilai menjadi modal utama agar program dakwah dan layanan sosial benar-benar sampai ke rumah warga. Bagi Wahdah Lutim, pertemuan pengurus se-Luwu Raya di Markaz DPD Wahdah Islamiyah Palopo, Ahad (1/11/2026), bukan sekadar seremoni organisasi: forum itu menjadi ruang menyamakan persepsi antara pengurus daerah dan lima cabang kecamatan yang tersebar dari Nuha sampai Tomoni.
Upgrading pengurus itu diikuti perwakilan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Wahdah Islamiyah dari empat kabupaten/kota, yakni Palopo, Luwu, Luwu Timur, dan Luwu Utara. Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Wahdah Islamiyah Sulawesi Selatan Ustaz Irfani, S.E., M.M., bersama Ketua Bidang 1 Ustaz Hasmar Hasan, A.Md., seperti dilaporkan laman resmi wahdah.or.id pada 3 November 2026.
Wahdah Lutim dan Makna Upgrading Pengurus se-Luwu Raya
Dalam struktur Wahdah Islamiyah, DPD adalah simpul yang menghubungkan kebijakan wilayah dengan kerja harian di kecamatan. Karena itu, kualitas pengurus di tingkat daerah menentukan apakah program yang dirancang di ruang rapat bisa berubah menjadi layanan nyata di tingkat desa.
Luwu Timur masuk dalam empat DPD yang mengikuti upgrading tersebut. Bagi organisasi yang wilayah kerjanya membentang dari kawasan Danau Matano hingga pesisir Wotu, pertemuan lintas daerah punya arti praktis: pengurus bisa bertukar pengalaman soal apa yang berjalan dan apa yang tersendat di lapangan.
Wahdah Islamiyah Sulsel menyebut kegiatan ini sebagai wadah peningkatan kapabilitas dalam mengelola amanah kepengurusan, sekaligus sarana silaturahmi dan penyamaan persepsi. Rumusan itu terdengar sederhana, tetapi menyangkut hal mendasar: bagaimana seorang pengurus memahami batas tugasnya, siapa yang ia layani, dan dengan cara apa pekerjaan itu dipertanggungjawabkan.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Amanah yang Tidak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Ustaz Irfani dalam penyampaiannya meminta setiap pengurus memahami amanah dan tanggung jawabnya. Ia mengingatkan agar jabatan tidak berhenti sebagai catatan struktur yang rapi di dokumen, sementara pelaksanaannya minim.
“Jangan sampai amanah hanyalah catatan struktur yang ramai di atas kertas, tetapi minim dalam pelaksanaan,” ujarnya dalam laporan resmi tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa empat DPD di Luwu Raya merupakan kekuatan besar yang harus disatukan. Organisasi, katanya, tidak seharusnya dibangun sendiri-sendiri, melainkan tumbuh bersama dalam semangat kebersamaan.
Pesan berikutnya menyangkut hasil. Upgrading, menurut Ustaz Irfani, bukan sekadar menambah pengetahuan, tetapi harus melahirkan perubahan dalam pola pikir, sikap, dan kinerja kepengurusan. Hasilnya diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teori, melainkan langsung diimplementasikan dalam program kerja.
Bagi warga Luwu Timur, kalimat itu punya terjemahan konkret. Program pendidikan, pembinaan keislaman, layanan sosial, dan pendampingan mustahik hanya terasa bila pengurus di tingkat cabang tahu persis apa yang harus dikerjakan dan kapan harus selesai.
Lima Cabang, Lima Pintu Pelayanan
Wahdah Islamiyah Luwu Timur menjalankan pekerjaannya lewat DPD dan lima Dewan Pimpinan Cabang, yaitu DPC Nuha, Towuti, Malili, Kalaena, dan Tomoni. Lima wilayah itu adalah pintu masuk paling dekat ke rumah-rumah warga.
Jaraknya tidak bisa diabaikan. Perjalanan antarkecamatan di Luwu Timur bisa memakan waktu berjam-jam, terutama dari kawasan Towuti dan Nuha menuju pesisir Wotu atau Malili. Dalam kondisi seperti itu, koordinasi yang rapi bukan kemewahan, melainkan syarat agar kegiatan tidak menumpuk di satu titik saja.
Karena itu pula, forum lintas daerah se-Luwu Raya dinilai relevan. Persoalan yang dihadapi cabang di Luwu Timur sering mirip dengan yang dihadapi cabang di Luwu atau Luwu Utara: keterbatasan tenaga dai, jarak tempuh, dan kebutuhan pembinaan kader yang berkelanjutan.


