SUARALUTIM.COM, WASUPONDA — Berita Lutim dari dunia pendidikan: enam sekolah dasar di Kabupaten Luwu Timur mengikuti Pendampingan Digitalisasi Pembelajaran BOS Kinerja Terbaik (BOSKIN) Tahun 2026. Kegiatan dipusatkan di UPT SDN 259 Balambano, Kecamatan Wasuponda, Selasa (3/11/2026), dan menjadi forum berbagi praktik antar sekolah penerima program.
Enam sekolah itu bukan nama sembarang. Dari Wasuponda ada UPT SDN 259 Balambano, SDN 261 Limbua, dan SDN 245 Tole-Tole. Dari Malili ada SDN 229 Waru, SDN 227 Puncak, dan SDN 226 Patande. Enam sekolah, dua kecamatan, satu agenda: memastikan dana kinerja benar-benar berujung pada perbaikan cara mengajar.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan melalui penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), penguatan literasi dan numerasi, serta digitalisasi pembelajaran berbasis pemanfaatan interaktif digital (PID).
Berita Lutim: Enam Sekolah yang Harus Membuktikan Kinerjanya
BOS Kinerja adalah skema dana BOS yang diberikan kepada sekolah dengan kinerja terbaik. Karena itu, sekolah penerima berada di posisi yang menarik: mereka mendapat tambahan dana, tetapi juga dituntut menunjukkan bahwa dana itu dipakai untuk sesuatu yang bisa dilihat hasilnya.
Dalam pendampingan tersebut, setiap perwakilan sekolah mempresentasikan program dan praktik yang telah dilaksanakan di satuan pendidikan masing-masing. Mereka memaparkan implementasi pemanfaatan dana BOSKIN untuk mendukung proses belajar mengajar yang lebih interaktif dan inovatif.
Cara ini berbeda dari pola pelatihan satu arah. Sekolah tidak hanya mendengar materi, tetapi harus menjelaskan apa yang sudah dikerjakan, apa yang gagal, dan apa yang akan diperbaiki. Bagi sekolah yang baru pertama menerima program, presentasi semacam itu bisa terasa menegangkan—sekaligus berguna.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Literasi, Numerasi, dan Multimedia Pembelajaran
Pembahasan difokuskan pada pemanfaatan multimedia pembelajaran interaktif untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik. Melalui pendekatan ini, guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik, efektif, dan sesuai kebutuhan siswa.
Persoalan literasi dan numerasi di sekolah dasar sering disederhanakan menjadi soal “bisa membaca” atau “bisa berhitung”. Padahal, keduanya mencakup kemampuan memahami teks, menafsirkan angka, dan menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.
Di wilayah dengan sebaran sekolah yang berjauhan seperti Luwu Timur, pembelajaran berbasis digital punya dua sisi. Sisi terangnya, guru bisa mengakses bahan ajar dan contoh soal yang tidak tersedia di perpustakaan sekolah. Sisi gelapnya, koneksi dan perangkat tidak selalu setara antarsekolah.
- Perangkat: tidak semua sekolah memiliki proyektor atau laptop yang memadai.
- Jaringan: sinyal di sejumlah desa masih tidak stabil.
- Kapasitas guru: tidak semua guru nyaman menyusun media pembelajaran sendiri.
Karena itu, pendampingan yang menyasar guru, bukan hanya pengadaan alat, menjadi pilihan yang masuk akal. Alat tanpa kemampuan memakainya hanya menambah barang di ruang penyimpanan.
Fasilitator dan Sekolah yang Berbagi Pengalaman
Kegiatan menghadirkan fasilitator dari Kecamatan Nuha, Indra Wulan, S.Pd., M.Pd. Ia memberikan pendampingan sekaligus mendorong sekolah agar semakin optimal menerapkan digitalisasi pembelajaran.
Perwakilan UPT SDN 259 Balambano, Baharuddin, turut memaparkan implementasi BOSKIN di sekolahnya, khususnya dalam pengembangan pembelajaran interaktif berbasis digital. Ia menjelaskan pentingnya sosialisasi dan berbagi pengetahuan agar pemanfaatan pembelajaran interaktif dapat dipahami dan diterapkan lebih banyak guru.
Pernyataan itu menyentuh persoalan yang sering luput: pengetahuan tentang media pembelajaran cenderung berhenti pada satu atau dua guru yang antusias. Ketika guru tersebut pindah atau pensiun, praktiknya ikut hilang. Berbagi antar sekolah adalah cara memperpanjang umur praktik baik.
Yang juga perlu diperhatikan adalah beban administratif guru. Setiap program baru hampir selalu menuntut laporan, dokumentasi, dan unggahan berkas. Bila tidak dikelola, tambahan pekerjaan itu justru memakan waktu yang seharusnya dipakai menyiapkan pembelajaran. Sekolah perlu menunjuk satu penanggung jawab data agar guru lain tidak terbagi fokusnya.


