Kamis, 5 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Advertorial

PAN Luwu Timur: Firman Udding Kawal Nasib Petani Desa

14 Oktober 2026 • Admin • 23 kali dibaca
Firman Udding menyapa petani dalam advertorial PAN Luwu Timur
Dok. Istimewa via Tekape.co
ASM Group
Iklan

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Tata Atur
Iklan

SUARALUTIM.COM, MALILI — PAN Luwu Timur dalam kerja legislatif kembali dikaitkan dengan isu pertanian. Firman Udding, S.IP., M.P., anggota DPRD Luwu Timur yang tercatat sebagai Wakil Ketua Fraksi PAN, menilai Hari Tani Nasional harus menjadi momentum memperjuangkan kebijakan nyata bagi petani desa.

Pernyataan Firman dimuat Tekape.co pada Rabu, 24 September 2025. Ia menegaskan bahwa petani tidak cukup diberi perhatian seremonial, melainkan membutuhkan kebijakan konkret yang menyentuh kebutuhan mereka. Artikel ini memakai kategori Advertorial karena memuat sisi positif kerja politik anggota Fraksi PAN di DPRD Luwu Timur.

Catatan penting: Firman Udding disebut dalam sumber verifikasi sebagai anggota Fraksi PAN DPRD Luwu Timur, tetapi pada penetapan KPU ia tercatat berasal dari PKS. Karena itu, penyebutan yang tepat dalam artikel ini adalah anggota Fraksi PAN atau legislator dari Fraksi PAN, bukan kader PAN.

PAN Luwu Timur dan Pesan Keberpihakan kepada Petani

Firman menyampaikan bahwa petani di Luwu Timur masih berjuang dengan berbagai keterbatasan. Pemerintah, menurutnya, harus hadir melalui kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan petani, bukan sekadar simbol. Pesan ini relevan karena sektor pertanian masih menjadi penopang hidup banyak keluarga di desa.

Dalam pemberitaan Tekape.co, Firman menyebut sektor pertanian sebagai tulang punggung kehidupan masyarakat Luwu Timur. Ia bahkan menekankan bahwa sekitar 80 persen penduduk menggantungkan hidup di bidang ini. Karena itu, alokasi anggaran dan program pertanian perlu diarahkan agar petani semakin mandiri dan tidak terpinggirkan.

Bagi Fraksi PAN, isu petani bukan sekadar narasi ekonomi. Di daerah seperti Angkona, Kalaena, Wotu, Burau, Mangkutana, dan Tomoni Timur, persoalan petani sering berkaitan dengan irigasi, jalan tani, harga hasil panen, benih, pupuk, gudang, serta akses modal. Setiap titik masalah dapat memengaruhi pendapatan keluarga.

Kebutuhan yang Disebut Firman Udding

Firman menyebut beberapa kebutuhan mendesak yang harus mendapat perhatian. Di antaranya perbaikan irigasi, pembangunan jalan tani, ketersediaan gudang penyimpanan hasil panen, dukungan benih unggul, pupuk berkualitas, dan permodalan yang mudah diakses. Daftar ini menunjukkan bahwa pertanian tidak bisa dilihat hanya dari proses tanam.

Irigasi menentukan kepastian air. Jalan tani menentukan biaya angkut hasil panen. Gudang penyimpanan membantu petani mengatur waktu jual agar tidak selalu terpaksa melepas hasil pada harga rendah. Benih dan pupuk menentukan produktivitas. Modal menentukan kemampuan petani membeli sarana produksi tepat waktu.

Jika salah satu rantai tersebut lemah, petani tetap sulit naik kelas. Bantuan benih tidak cukup jika jalan tani rusak. Pupuk tidak banyak membantu jika air tidak tersedia. Panen melimpah pun belum tentu menguntungkan jika tidak ada tempat simpan dan akses pasar.

Generasi Muda dan Teknologi Pertanian

Firman juga mendorong generasi muda agar tidak ragu menekuni sektor pertanian dengan dukungan teknologi dan inovasi. Pesan ini penting karena desa membutuhkan regenerasi petani. Jika anak muda hanya melihat pertanian sebagai pekerjaan berat dan tidak menjanjikan, maka sektor pangan akan kekurangan pelaku baru.

Teknologi pertanian tidak selalu berarti alat mahal. Mulai dari penggunaan informasi cuaca, pencatatan biaya produksi, pemasaran lewat kanal digital, hingga pengolahan hasil sederhana dapat membantu petani muda melihat peluang. Pemerintah dan DPRD bisa mendorong pelatihan yang praktis, bukan hanya seminar seremonial.

Di sisi lain, teknologi perlu disesuaikan dengan kondisi desa. Petani tidak membutuhkan aplikasi rumit jika jaringan internet lemah atau pendampingan tidak tersedia. Yang dibutuhkan adalah alat dan pengetahuan yang bisa langsung memecahkan masalah di lahan, gudang, dan pasar.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga