Senin, 21 September 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Desa & Kecamatan

Luwu Timur: BPBD-PKK Latih Keluarga Tanggap Bencana

21 September 2026 • Admin
Pelatihan keluarga tanggap bencana di Luwu Timur yang digelar BPBD bersama TP PKK
Gambar: Dinas Kominfo SP Luwu Timur via Luwuraya.com

Malili – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Luwu Timur melatih keluarga agar lebih siap menghadapi ancaman bencana alam. Pelatihan Keluarga Tanggap Bencana Alam itu digelar TP PKK Kabupaten Luwu Timur melalui Pokja IV bersama BPBD di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kamis, 10 September 2026.

Kegiatan mengusung tema “Tangguh Bencana Berawal dari Rumah”. Peserta dibekali pemahaman mengenai mitigasi, pemetaan risiko mandiri, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, serta gempa. Peserta dalam pelatihan ini mencakup ibu rumah tangga, kelompok yang paling sering berada di rumah ketika bencana terjadi.

Luwu Timur dan Alasan Kesiapsiagaan Dimulai dari Rumah

Pilihan tema itu bukan tanpa alasan. Dalam banyak kejadian bencana, keluarga adalah pihak pertama yang merasakan dampak sebelum bantuan datang. Waktu tanggap awal itulah yang menentukan apakah anggota keluarga bisa menyelamatkan diri dengan tertib atau terjebak kepanikan.

Luwu Timur memiliki karakter wilayah yang membuat kesiapsiagaan rumah tangga relevan. Kabupaten ini membentang pada area sekitar 6.944 kilometer persegi dengan 11 kecamatan dan 124 desa. Sebagian desa berada jauh dari pusat layanan kecamatan, sehingga waktu tunggu bantuan bisa lebih panjang dibanding wilayah perkotaan.

Selain itu, jenis ancaman yang dihadapi tidak tunggal. Ada kebakaran lahan yang berulang pada musim kering, banjir dan luapan sungai, serta gempa yang berkaitan dengan kondisi geologis Sulawesi. Kombinasi itu menuntut kesiapan yang berbeda-beda, mulai dari kemampuan membaca cuaca sampai memahami langkah penyelamatan diri saat guncangan terjadi.

Apa yang Dibedah dalam Pelatihan

Materi pelatihan mencakup tiga hal utama. Pertama, mitigasi, yaitu upaya mengurangi risiko sebelum bencana terjadi. Kedua, pemetaan risiko mandiri, yang mengajak keluarga mengenali bahaya di sekitar tempat tinggal. Ketiga, kesiapsiagaan, termasuk langkah yang harus diambil ketika peringatan dini muncul.

Peserta juga dilatih menghadapi situasi kebakaran di rumah. Materi semacam ini kerap dianggap sederhana, padahal kebakaran rumah tangga termasuk kejadian yang sering terjadi dan bisa dicegah dengan pengetahuan dasar. Mengetahui cara memutus aliran listrik, memadamkan api kecil, dan memilih jalur keluar yang aman adalah bekal yang menentukan.

Pemetaan Risiko Mandiri

Pemetaan risiko mandiri mengajak setiap keluarga melihat rumah dan lingkungannya dengan kacamata baru. Apakah rumah berada di dekat aliran sungai? Apakah ada lereng yang rawan longsor di belakang rumah? Apakah instalasi listrik sudah memadai? Pertanyaan sederhana seperti itu membantu warga menentukan prioritas perbaikan.

Hasil pemetaan itu idealnya tidak berhenti di tingkat keluarga. Ketika banyak keluarga di satu desa melakukan pemetaan serupa, polanya bisa dibaca bersama dan dijadikan dasar penyusunan rencana kesiapsiagaan tingkat desa. Inilah yang menjadikan pelatihan keluarga punya efek berantai.

Kata BPBD soal Evakuasi Mandiri

Kepala Pelaksana BPBD Luwu Timur, April, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan pemerintah daerah untuk meningkatkan kapasitas masyarakat menghadapi bencana.

“Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan dapat menyentuh setiap lapisan masyarakat untuk memahami serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi ancaman bencana di wilayahnya masing-masing,” ujar April, seperti dikutip Luwuraya.com.

Ia menekankan kesiapsiagaan bencana tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah daerah. Keterlibatan keluarga dinilai penting karena keluarga dapat menjadi pihak pertama yang terkena dampak ketika bencana terjadi. Karena itu, setiap keluarga perlu memiliki pengetahuan dasar untuk mencegah dan menanggulangi dampak bencana.

“Untuk itu, setiap keluarga perlu dibekali pengetahuan tentang cara-cara yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi bencana, minimal mereka dapat memahami bagaimana cara melakukan evakuasi mandiri bilamana terjadi bencana,” tuturnya.

Menurut April, pelatihan tanggap bencana juga perlu menggunakan pendekatan yang berpusat pada manusia dengan mengedepankan prinsip keamanan manusia dalam situasi bencana. Ia berharap keluarga peserta dapat mengenali potensi bahaya di sekitar tempat tinggal, mengetahui jalur evakuasi dengan tepat, dan tanggap terhadap sistem peringatan dini.

BPBD juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi bohong ketika menghadapi situasi krisis. Pada momen darurat, kabar keliru bisa memicu kepanikan dan mengarahkan warga ke jalur yang salah.

Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga