SUARALUTIM.COM, TOWUTI — Sebanyak 37 ekor kambing bantuan telah tiba di kelompok penerima di Desa Pekaloa, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur. Bantuan itu diharapkan bisa dikembangkan menjadi usaha peternakan untuk menambah pendapatan keluarga. Bagi warga yang mengikuti berita lutim soal program pemberdayaan, pola ini bukan hal baru, tetapi cara pengelolaannya yang menentukan hasil.
Anggota DPRD Luwu Timur dari daerah pemilihan Nuha dan Towuti, Erick Estrada, turun langsung menyerahkan ternak tersebut kepada kelompok penerima. Ia meminta warga merawat kambing dengan baik dan mengembangbiakkannya agar bantuan memberi manfaat dalam jangka panjang.
Berita Lutim: Bantuan Ternak dan Logika Usaha
Bantuan ternak dipilih karena beberapa alasan praktis. Kambing relatif mudah dipelihara di pekarangan, tidak membutuhkan lahan luas, dan dapat menjadi tabungan hidup yang bisa dijual saat kebutuhan mendesak.
Selain itu, kambing dapat berkembang biak. Bila pengelolaan berjalan baik, satu kelompok bisa memiliki ternak baru dalam hitungan bulan, sehingga manfaatnya berlipat tanpa harus menunggu bantuan berikutnya.
“Alhamdulillah kambing sudah tiba di kelompok. Selanjutnya kelompoklah yang merawat, mengembangbiakkan supaya menambah pendapatan dapur, pertumbuhan ekonomi melalui peternakan kambing,” ujar Erick, seperti dikutip Patikala.com.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Dari 37 Ekor ke Kelompok: Siapa yang Merawat
Kunci bantuan ternak bukan pada jumlah hewan yang diserahkan, melainkan pada siapa yang merawat dan bagaimana keputusan diambil di tingkat kelompok.
Model yang umum dipakai adalah bagi hasil. Ternak dipelihara anggota kelompok secara bergilir, dan anak ternak dibagi sesuai kesepakatan. Model lain adalah kandang komunal, di mana semua hewan dirawat bersama dan hasilnya masuk kas kelompok.
Masing-masing punya kelebihan. Model bagi hasil memberi tanggung jawab langsung ke rumah tangga, sedangkan kandang komunal memudahkan pengawasan dan pencatatan. Yang penting, kesepakatan dibuat sejak awal dan dicatat, bukan hanya diucapkan.
Persoalan yang sering muncul justru di titik ini: hewan mati tanpa catatan, pakan habis tanpa cadangan, atau kepemilikan anak ternak menjadi sengketa. Kelompok yang menyiapkan aturan sederhana sejak awal biasanya lebih berhasil.
Potensi Berkembang Biak dan Batasannya
Erick juga menyampaikan informasi dari penyedia kambing mengenai peluang pengembangbiakan. Menurut keterangan yang ia terima, kambing berumur enam hingga tujuh bulan sudah bisa beranak dan berpotensi menghasilkan dua anak.
“Ini tadi saya tanya-tanya sama penyedia kambing, dia bilang ini 6 bulan, 7 bulan sudah bisa beranak, bisa dapat dua anak lagi,” katanya.
Meski demikian, hasil pengembangbiakan tetap bergantung pada kondisi ternak, perawatan, pakan, dan pengelolaan kelompok. Cuaca, sanitasi kandang, dan ketersediaan hijauan memengaruhi tingkat keberhasilan. Karena itu, angka potensi tadi sebaiknya dibaca sebagai peluang, bukan janji.
Pakan dan Biaya yang Sering Terlupakan
Di banyak program bantuan ternak, pakan menjadi biaya yang tidak diperhitungkan sejak awal. Hijauan memang tersedia di desa, tetapi pada musim kemarau panjang, seperti yang melanda sejumlah wilayah Luwu Timur pada 2026, sumber hijauan bisa berkurang.
Kelompok perlu menyiapkan strategi pakan, misalnya menanam rumput unggul di lahan pekarangan, menyimpan jerami, atau membuat silase sederhana. Tanpa cadangan pakan, ternak bisa kurus justru pada bulan-bulan pertama setelah penyerahan.
Biaya lain yang perlu dihitung adalah kandang, obat cacing, dan vitamin. Untuk 37 ekor, kebutuhan kandang tidak bisa diabaikan. Bila kandang dibangun seadanya, risiko penyakit meningkat dan pertumbuhan terhambat.


