Anggota Komisi V DPR RI, Hamka B Kady, menilai rehabilitasi jaringan irigasi yang diinisiasi Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman dan Wakil Gubernur Fatmawati Rusdi sebagai langkah penting untuk memperkuat sektor pertanian. Program Multi Years Project (MYP) Pemprov Sulsel itu menyasar puluhan daerah irigasi, termasuk di wilayah Luwu Raya. Kabupaten Luwu Timur sendiri masuk dalam daftar daerah yang dilayani program bernilai Rp780 miliar tersebut, sehingga perkembangannya relevan bagi petani di daerah ini.
Menurut Hamka, pembangunan jaringan irigasi melalui program MYP memastikan ketersediaan air bagi persawahan petani, termasuk di sejumlah wilayah yang selama ini masih menghadapi keterbatasan jaringan pengairan.
“Di Kabupaten Jeneponto itu kami terus melakukan pembangunan jaringan irigasi, termasuk juga di Takalar, Gowa, dan beberapa daerah lain. Kalau membangun, maka akan baguslah pertanian kita ke depan dalam hal mewujudkan swasembada pangan,” kata Hamka, Rabu (16/9/2026).
Politikus Partai Golkar itu juga mendorong agar pembangunan infrastruktur dasar pertanian berjalan beriringan dengan modernisasi pertanian, baik melalui penggunaan alat dan mesin pertanian maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Karena kita tidak lagi berkutat dengan masalah dasar pertanian. Langkah Pak Gubernur ini, sekali lagi saya sampaikan, ini tepat dan berani. Ini bagus, ke depan kita tinggal dorong modernisasi alat pertaniannya dan SDM-nya,” jelasnya.
Irigasi MYP Sulsel dan 54.000 Hektare Sawah
Rehabilitasi jaringan irigasi ini melayani 54.000 hektare sawah yang berada di Kabupaten Maros, Gowa, Bulukumba, Sinjai, Bone, Soppeng, Wajo, Pangkep, Barru, Sidrap, Pinrang, Enrekang, Toraja Utara, Luwu, Luwu Utara, dan Luwu Timur. Total anggarannya sebesar Rp780 miliar yang bersumber dari hasil efisiensi APBD Sulsel Tahun Anggaran 2025-2027.
Hingga kini, proses pembangunan terus dikebut. Data per 13 September 2026, progres keseluruhan pekerjaan rehabilitasi pada 39 daerah irigasi telah mencapai sekitar 17,8 persen sejak dimulai pada April 2026.
Angka 17,8 persen itu penting dibaca dengan benar. Pekerjaan baru berjalan sekitar lima bulan untuk kontrak yang dirancang lintas tahun, sehingga capaian tersebut masih berada di jalur awal. Namun bagi petani, yang paling menentukan bukan persentase, melainkan apakah air benar-benar sampai ke petak sawah pada musim tanam berikutnya.
Kenapa Irigasi Eksisting Harus Direhabilitasi
Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman sebelumnya menjelaskan, program recovery ini dilakukan lantaran mayoritas infrastruktur irigasi eksisting telah mengalami penurunan fungsi hingga tinggal tersisa 50 persen. Kerusakan pada bendung serta penyumbatan aliran kerap membuat pasokan air gagal mencapai area persawahan di tingkat hilir maupun tersier.
Persoalan di tingkat hilir sering luput dari perhatian. Saluran induk yang rusak mudah terlihat, tetapi sedimentasi di saluran tersier justru yang paling sering membuat sawah paling ujung tidak kebagian air. Karena itu, rehabilitasi menyeluruh biasanya menuntut pengerukan, perbaikan pintu air, hingga penataan bangunan bagi di titik percabangan.
Penormalan jaringan irigasi ini diproyeksikan mampu mendongkrak Indeks Pertanaman (IP) dan produktivitas pertanian secara signifikan. Ketersediaan air memungkinkan petani meningkatkan frekuensi masa tanam hingga dua sampai tiga kali dalam setahun.
“Para petani bisa lima kali dalam dua tahun, atau tiga kali setahun, atau minimal dua kali setahun untuk bercocok tanam sampai panen,” kata Andi Sudirman beberapa waktu lalu.
Dari Sawah Tadah Hujan ke Sawah Beririgasi
Perubahan status dari sawah tadah hujan menjadi sawah beririgasi mengubah banyak hal. Pola tanam tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kedatangan hujan, sehingga jadwal tanam bisa disusun lebih awal dan risiko gagal panen akibat kemarau berkurang.
Hamka menyebutkan hal itu secara langsung. “Irigasi yang baik membuat sawah petani teraliri air secara optimal. Lahan yang tadinya tadah hujan kini bisa teraliri air dengan baik. Hal ini tentu mendongkrak pendapatan dan kesejahteraan petani,” pungkasnya.
Ia menambahkan, pembangunan jaringan irigasi menjadi bagian penting dalam mendukung agenda ketahanan pangan nasional dan daerah. Dengan irigasi yang berfungsi, hasil panen bisa lebih terprediksi, dan prediktabilitas itulah yang membuat petani berani menanam lebih dari sekali dalam setahun.