Kolaborasi Lintas Lembaga
Program Healthier Smiles sendiri dilaksanakan Save the Children dengan dukungan MARS. Fokusnya mencakup peningkatan pengetahuan serta penerapan perilaku hidup sehat bagi anak di lingkungan sekolah. Di Luwu Timur, program ini menyentuh sejumlah kecamatan, termasuk Malili, Wotu, Tomoni, dan Mangkutana.
Model kolaborasi semacam ini memperlihatkan bahwa urusan kesehatan anak tidak bisa ditangani satu pihak saja. Pemerintah daerah menyiapkan kebijakan dan fasilitas, lembaga swasta menyediakan dukungan program, sementara guru dan orang tua menjalankan praktik sehari-hari.
Bagi Luwu Timur, kehadiran program semacam ini melengkapi upaya daerah menyiapkan generasi yang sehat dan siap belajar. Sekolah sehat bukan hanya soal gedung yang bersih, tetapi juga soal anak-anak yang tumbuh dengan kebiasaan baik dan pengetahuan yang cukup untuk menjaga kesehatannya sendiri.
Kantin Sehat dan Perilaku Hidup Bersih
Yang membuat program ini berbeda adalah pendekatannya yang menyeluruh. Perhatian tidak hanya diberikan pada penyuluhan di kelas, tetapi juga pada kantin sekolah. Kantin menjadi bagian penting karena di sanalah anak membeli makanan setiap hari.
Ketika kantin dikelola dengan prinsip sehat, pilihan anak pun berubah. Jajanan yang higienis, gizi yang cukup, dan penyajian yang bersih membantu membentuk pola makan yang lebih baik. Kebiasaan itu tidak hanya berpengaruh pada kesehatan, tetapi juga pada konsentrasi belajar.
Selain kantin, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) menjadi bagian yang ditinjau. UKS berperan sebagai garda pertama penanganan sederhana di sekolah, sekaligus pusat informasi kesehatan bagi siswa. Peran itu menjadi bermakna bila didukung peralatan memadai dan tenaga yang terlatih.
Pendekatan berbasis sekolah seperti ini juga mendukung gerakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Anak-anak diajak membiasakan mencuci tangan, menjaga kebersihan diri, dan merawat kesehatan gigi sejak dini.
Melengkapi Agenda Kesehatan Daerah
Program Healthier Smiles melengkapi agenda kesehatan Luwu Timur yang sudah berjalan. Pemerintah daerah secara berkala menggelar gerakan pangan bergizi, penyuluhan gizi keluarga, hingga pembinaan posyandu dan puskesmas.
Sejumlah program menyasar langsung rumah tangga. Ada yang berfokus pada pencegahan stunting melalui pendampingan keluarga berisiko, ada pula yang menguatkan peran sekolah sebagai ruang edukasi gizi. Kombinasi itu penting, sebab masalah kesehatan anak jarang berdiri sendiri.
Melalui kolaborasi lintas lembaga, diharapkan kualitas kesehatan anak di Luwu Timur terus membaik. Anak yang sehat punya peluang lebih besar untuk belajar dengan baik dan tumbuh menjadi sumber daya manusia yang produktif di kemudian hari.
Harapan untuk Sekolah Lain
Keberhasilan di SDN 150 Mangkutana diharapkan menjadi contoh. Jika model serupa dapat diterapkan di lebih banyak sekolah, dampaknya akan lebih luas. Setiap sekolah punya tantangan berbeda, tetapi prinsip dasarnya sama: lingkungan bersih, makanan sehat, dan kebiasaan baik yang dipraktikkan setiap hari.
Orang tua memegang peran kunci. Kebiasaan yang dibangun di sekolah perlu dilanjutkan di rumah. Tanpa dukungan keluarga, program sebaik apa pun bisa berhenti di gerbang sekolah.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa itu Program Healthier Smiles?
Healthier Smiles adalah program yang dijalankan Save the Children dengan dukungan MARS, berfokus pada peningkatan pengetahuan dan penerapan perilaku hidup sehat bagi anak di lingkungan sekolah. Di Luwu Timur, program ini menyentuh sejumlah kecamatan, termasuk Mangkutana.
Sekolah mana yang mendapat kunjungan Mars Ambassador?
SDN 150 Mangkutana di Desa Teromu, Kecamatan Mangkutana. Kunjungan berlangsung Kamis (10/9/2026) oleh dua Mars Ambassador, Jaishree Garg dan David Bennett.
Apa manfaat program ini bagi sekolah?
Program ini membantu sekolah membangun lingkungan belajar yang sehat melalui modul kesehatan, penguatan UKS dan kantin, serta dukungan menuju status Sekolah Sehat dan Sekolah Adiwiyata.
Baca juga: Berita Lutim: STBM Award 2026, Kemenkes Puji Kesiapan dan Berita Luwu Timur: 437 Anjing dan Kucing Divaksin Rabies.
Sumber: Input Rakyat, Warta Lutim (warta.luwutimurkab.go.id), dan Save the Children Indonesia.


