Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
SUARALUTIM.COM, MALILI — Berita Luwu Timur kali ini datang dari ruang pertemuan di Wotu. Sekretaris Daerah Kabupaten Luwu Timur, Ramadhan Pirade, menegaskan bahwa skrining oral dan deteksi dini lesi prakanker harus menjadi kebiasaan baru, bukan sekadar agenda seremonial. Penegasan itu ia sampaikan saat membuka Seminar dan Hands-on bertema “Skrining Oral dan Deteksi Lesi Prakanker dan Keganasan dalam Mulut” di Aula RSUD I Lagaligo Wotu, Jumat (30/10/2026).
Kegiatan tersebut digelar oleh Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Luwu Timur bersama PDGI Training Center. Formatnya hibrida, berlangsung dua hari, 30 hingga 31 Oktober 2026, dan dirangkaikan dengan peringatan Bulan Kesehatan Gigi Nasional Tahun 2026. Ramadhan hadir mewakili Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam.
Dalam sambutannya, Sekda menyebut kesehatan gigi dan mulut bukan urusan terpisah dari kesehatan tubuh secara menyeluruh. Namun ia mengakui kesadaran warga untuk memeriksakan diri secara berkala masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, persoalan utama bukan hanya keterbatasan alat, tetapi juga kebiasaan menunda pemeriksaan sampai keluhan terasa mengganggu.
Berita Luwu Timur: Deteksi Dini Dimulai dari Wotu
Pilihan lokasi kegiatan di RSUD I Lagaligo Wotu bukan tanpa alasan. Rumah sakit milik pemerintah daerah itu melayani warga di lingkup Towuti, Nuha, Wasuponda, dan sekitarnya, wilayah yang jaraknya cukup jauh dari pusat layanan di Malili. Menempatkan pelatihan tenaga kesehatan di titik itu membuat jejaring rujukan lebih dekat ke pasien.
Ramadhan menjelaskan bahwa lesi prakanker maupun keganasan dalam rongga mulut berisiko terlambat ditangani apabila masyarakat baru memeriksakan diri setelah muncul gangguan yang berat. Pada tahap awal, keluhan sering tidak terasa, sehingga pemeriksaan rutin menjadi satu-satunya cara menemukan tanda bahaya lebih cepat.
“Oleh karena itu, skrining oral dan deteksi dini terhadap lesi prakanker maupun keganasan dalam mulut menjadi langkah yang sangat penting,” ujar Ramadhan.
Ia menambahkan, deteksi sejak tahap awal memungkinkan penanganan medis dilakukan lebih cepat, tepat, dan komprehensif. Dampaknya berlapis: peluang kesembuhan pasien meningkat, sementara beban pembiayaan kesehatan, baik yang ditanggung keluarga maupun pemerintah daerah, bisa ditekan.
Apa yang Dilatih, Bukan Hanya Apa yang Diseminarkan
Yang membedakan kegiatan ini dari seminar biasa adalah sesi hands-on. Peserta tidak hanya mendengar paparan, tetapi berlatih langsung mengenali lesi di rongga mulut, mulai dari cara pemeriksaan visual, pencatatan temuan, hingga menentukan kapan pasien perlu dirujuk.
Panitia menghadirkan Arny Erawaty Muryah dan Hilaluddin sebagai narasumber. Keduanya membawakan materi teknis sekaligus praktik pemeriksaan. Kegiatan ini melibatkan 27 peserta luring, 37 peserta webinar, dan 26 peserta praktik hands-on. Rangkaian acara juga menyertakan aksi bakti sosial yang melibatkan 83 orang.
Bagi daerah, komposisi peserta seperti ini penting. Dokter gigi di puskesmas, perawat, dan tenaga kesehatan di fasilitas pertama sering menjadi pintu masuk pertama pasien. Kalau kemampuan skrining hanya dimiliki segelintir dokter di kota, temuan dini tetap akan lolos di desa-desa.
Mengapa Rongga Mulut Sering Terlewat
Secara medis, rongga mulut adalah bagian tubuh yang paling mudah diperiksa secara visual, tetapi justru paling sering diabaikan. Warga terbiasa datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah ada rasa sakit, sariawan yang tak kunjung sembuh, atau benjolan. Padahal, tanda awal sering muncul sebagai bercak putih atau merah yang tidak menimbulkan nyeri.
Faktor risiko yang lazim dikenal dalam literatur kesehatan mencakup kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta penggunaan tembakau tanpa asap. Kebiasaan mengunyah sirih pinang juga diperhatikan dalam sejumlah kajian karena berkaitan dengan iritasi kronis pada mukosa mulut. Selain itu, gigi tiruan yang longgar atau permukaan gigi yang tajam dapat menimbulkan luka berulang pada jaringan lunak.
Semua faktor itu tidak otomatis berarti seseorang mengidap kanker. Yang perlu dipahami warga adalah prinsipnya: iritasi kronis dan perubahan jaringan yang menetap lebih dari dua pekan sebaiknya diperiksa, bukan ditunggu sampai membesar.


