Selasa, 29 September 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pariwisata

Destinasi Luwu Timur: Matano Belt Road Buka Akses Pesisir

29 September 2026 • Admin • 13 kali dibaca
Ilustrasi kawasan destinasi Luwu Timur di pesisir Danau Matano yang akan terhubung Matano Belt Road
Gambar: ANTARA News Makassar (dokumentasi Matano Belt Road, Luwu Timur).
ASM Group
Iklan

Dampak bagi wisata dan ekonomi warga Luwu Timur

Wakil Bupati Luwu Timur, Hj. Puspawati Husler, menegaskan bahwa Matano Belt Road bukan sekadar jalan penghubung. Menurutnya, jalan di sepanjang pesisir Danau Matano memperpendek jarak dan waktu tempuh, memperkuat konektivitas antarwilayah, memperlancar distribusi barang dan jasa, serta membuka ruang ekonomi baru berbasis pariwisata alam, ekonomi kreatif, dan UMKM lokal.

Pernyataan itu sejalan dengan kebutuhan lapangan. Kawasan Nuha dan Sorowako selama ini menjadi pintu masuk bagi wisatawan yang ingin menyusuri tiga danau purba, mengunjungi objek wisata di pesisir Matano, hingga menikmati panorama pegunungan Verbeek. Sejumlah penginapan dan homestay warga di kawasan Matano juga tumbuh mengikuti kunjungan wisatawan, seperti diulas dalam artikel Pariwisata Lutim: Homestay Danau Matano dan Cuan Warga.

Dari sisi konektivitas, ruas baru ini juga membuka alternatif rute. Sebelumnya warga yang hendak menyeberang dari Malili ke arah Sulawesi Tengah harus naik kapal melintasi danau. Dengan jalan lingkar, perjalanan darat 35 kilometer diyakini memangkas waktu tempuh sekaligus memberi pilihan jalur yang lebih aman bagi kendaraan barang maupun kendaraan wisata.

Menyusun rencana perjalanan setelah akses darat terbuka

Selama ini paket wisata ke Luwu Timur bagian selatan umumnya disusun dari Malili atau Sorowako sebagai titik awal. Dengan jalur lingkar pesisir, penyusunan rencana perjalanan menjadi lebih leluasa: wisatawan bisa memulai dari Ussu, menyusuri pesisir Matano, lalu melanjutkan ke kawasan Nuha tanpa harus bergantung pada jadwal penyeberangan. Sejumlah destinasi yang selama ini jadi andalan kawasan Towuti dan Mahalona, seperti kawasan Taman Wisata Alam dan pulau-pulau di tengah danau, juga berpeluang lebih sering masuk dalam itinerary ketika akses ke koridor utara membaik.

Tata Atur
Iklan

Yang penting dicatat, pembukaan jalur baru biasanya diikuti kenaikan aktivitas ekonomi di titik-titik persinggahan. Warung, penyedia jasa sewa perahu, dan penginapan warga di sekitar Ussu, Nuha, hingga Sorowako punya kesempatan menangkap kunjungan itu. Pemerintah desa dapat menyiapkan penataan sederhana sejak sekarang, misalnya area parkir, toilet umum, dan papan informasi, agar manfaatnya tertata rapi dan tidak membebani lingkungan danau.

Yang perlu dicatat wisatawan dan pelaku usaha

Meskipun progresnya terlihat, sejumlah hal masih perlu diikuti. Jadwal pasti penyelesaian proyek belum dirinci secara resmi, dan pekerjaan masih berlangsung bertahap di beberapa titik. Berikut catatan praktis bagi warga maupun pelaku wisata:

  • Kondisi jalan bisa berubah dari waktu ke waktu karena pekerjaan konstruksi; pantau informasi terkini sebelum berkendara ke arah Nuha dan Sorowako.
  • Bagian jalan yang sudah fungsional tetap dipakai bersama kendaraan angkutan dan kendaraan proyek, sehingga kewaspadaan pengemudi tetap utama.
  • Pekerjaan drainase dan kolam pengendapan sedimen berdampak langsung pada kualitas air danau, sehingga keluhan lapangan soal aliran material sebaiknya disampaikan ke instansi teknis.
  • Pelaku UMKM dan penginapan di pesisir Matano bisa mulai menyiapkan promosi dan paket wisata berbasis rute baru ini.

Kawasan sekitar Danau Matano sendiri merupakan kawasan yang penataannya terus dibenahi, termasuk pembenahan ruang publik di Nuha seperti diulas dalam artikel Wisata Luwu Timur: Danau Matano dan Penataan Kawasan Nuha. Pembenahan itu kini memperoleh tambahan modal berupa akses darat.

FAQ seputar Matano Belt Road

Berapa panjang Matano Belt Road?

Sekitar 35 kilometer, membentang dari Desa Ussu, Kecamatan Malili, melewati Kecamatan Nuha, hingga batas Provinsi Sulawesi Tengah.

Siapa yang membiayai proyek ini?

Pembiayaan berasal dari dana CSR PT Vale Indonesia dengan estimasi sekitar Rp350 miliar. Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menambahkan Paket 6 MYP senilai sekitar Rp239 miliar untuk peningkatan struktur jalan pada koridor yang sama.

Apakah jalan ini sudah bisa dilewati seluruhnya?

Belum. Berdasarkan laporan terakhir, pekerjaan berjalan bertahap di beberapa titik dan jadwal penyelesaian belum dirinci resmi.

Sumber

Artikel ini disusun dari laporan Metro Sulteng, ANTARA News Makassar, dan Topsulsel. SuaraLutim belum memperoleh keterangan tambahan dari pelaksana proyek mengenai jadwal penyelesaian.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga