Data Kunjungan: Malili Tinggi, Towuti Rendah
Gambaran ketimpangan kunjungan terlihat dari data Disparmudora Luwu Timur untuk tahun 2025. Malili mencatat 194.654 kunjungan, jauh di atas daerah lain. Burau 26.691 kunjungan, Wasuponda 18.295, Kalaena 18.183, Wotu 14.188, Towuti 8.423, Nuha 4.416, dan Mangkutana 4.170.
| Kecamatan | Kunjungan 2025 |
|---|---|
| Malili | 194.654 |
| Burau | 26.691 |
| Wasuponda | 18.295 |
| Kalaena | 18.183 |
| Wotu | 14.188 |
| Towuti | 8.423 |
| Nuha | 4.416 |
| Mangkutana | 4.170 |
Angka itu data 2025, bukan 2026, dan perlu dibaca hati-hati. Tingginya kunjungan Malili tidak otomatis berarti destinasi alamnya paling diminati; Malili adalah pusat pemerintahan dan pintu masuk, sehingga banyak kunjungan tercatat untuk keperluan lain.
Sebaliknya, Towuti yang menyimpan destinasi paling dikenal justru mencatat angka rendah. Penyebabnya bukan hanya jarak, tetapi juga ketergantungan pada perahu dan keterbatasan informasi. Di sinilah Pokdarwis punya ruang kerja yang jelas: memendekkan jarak antara destinasi dan calon pengunjung.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Destinasi dan Status Konservasi
Data objek wisata Kabupaten Luwu Timur yang dihimpun lewat portal Satu Data mencatat 39 kawasan dan objek. Sebagian berada di kawasan konservasi, sehingga aturan berkunjung tidak sepenuhnya ditentukan pengelola lokal.
Taman Wisata Alam Danau Mahalona, misalnya, ditetapkan seluas 2.289,30 hektare melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.6590/Menhut-VII/KUH/2014. Penetapan itu menandakan fungsi perlindungan alam dan fungsi rekreasi berjalan berdampingan.
Di Towuti, sejumlah titik dikelola bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan pemerintah desa, seperti Pantai Siuone di Desa Pekaloa, Pulau Wasubonti di Desa Bantilang, dan Air Terjun Mata Dewa di Desa Loeha. Dua lokasi terakhir dijangkau dengan perahu.
Status konservasi bukan penghalang wisata. Sebaliknya, ia menuntut panduan yang lebih ketat: tidak membuang sampah, tidak mengambil biota, tidak membuka jalur baru tanpa izin. Pokdarwis yang memahami aturan ini bisa menjadi penjaga sekaligus penafsir bagi pengunjung.
Tantangan yang Masih Menunggu
Ada tiga pekerjaan rumah yang jarang dibahas dalam acara pelatihan, tetapi menentukan hasil jangka panjang. Pertama, akses. Beberapa destinasi hanya bisa dicapai lewat jalan rusak atau perjalanan air yang bergantung cuaca.
Kedua, akomodasi. Homestay dan penginapan berbasis warga masih terbatas, sehingga kunjungan cenderung singkat dan belanja wisatawan kecil. Ketiga, data. Pencatatan kunjungan belum seragam, sehingga perencanaan sering berbasis perkiraan.
Ketiga persoalan itu tidak bisa diselesaikan Pokdarwis sendiri. Namun, kelompok ini bisa menjadi pihak yang menyuarakan kebutuhan warga ke pemerintah desa dan dinas, dengan bukti yang lebih rapi: catatan kunjungan, keluhan pengunjung, dan daftar kerusakan fasilitas.
Disparmudora berharap pelatihan ini menjadi momentum memperkuat komitmen bersama membangun pariwisata Luwu Timur yang berkualitas, berdaya saing, berbasis masyarakat, dan tetap menjaga kelestarian alam serta budaya.
Bagi warga yang ingin melihat arah kebijakan pariwisata daerah, pembahasan soal Geopark Matano yang menanti SK Menteri ESDM dan pola kunjungan Malili dan Towuti memberi konteks yang saling melengkapi dengan pelatihan ini.
Informasi resmi soal potensi destinasi nasional bisa dilihat di situs resmi pariwisata Indonesia, sementara rincian kegiatan pelatihan Pokdarwis dimuat Kabar Lutim.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Siapa yang mengikuti pelatihan Pokdarwis di Malili?
Sebanyak 30 peserta dari berbagai wilayah Luwu Timur, terdiri atas pengurus dan anggota Pokdarwis, dengan materi peningkatan kapasitas dan kompetensi pengelolaan destinasi.
Apa tujuan utama pelatihan ini?
Mendorong masyarakat menjadi pelaku utama pengelolaan wisata, bukan sekadar penonton, sehingga manfaat ekonomi kunjungan lebih besar dirasakan warga setempat.
Apakah pelatihan ini menjamin kunjungan meningkat?
Tidak ada jaminan langsung. Pelatihan menyiapkan kapasitas pengelola; kenaikan kunjungan bergantung pada akses, promosi, kualitas layanan, dan konsistensi pengelolaan setelah pelatihan.
Sumber: Disparmudora Kabupaten Luwu Timur melalui Kabar Lutim (3 November 2026); data kunjungan 2025 Disparmudora Luwu Timur; data objek wisata Satu Data Luwu Timur.
Baca juga
- Pariwisata Lutim: Geopark Matano Menanti SK Menteri ESDM
- Destinasi Luwu Timur: Permandian Alamiah Asuli Towuti
- Pariwisata Lutim: Pelajaran dari Gunung Lahumpangi
Kumpulan berita terbaru seputar wisata Luwu Timur ada di kanal wisata Luwu Timur.


