Jumat, 9 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pariwisata

Wisata Luwu Timur: Ekowisata Mangrove Banua Pangka Wotu

30 September 2026 • Admin • 27 kali dibaca
Hutan mangrove dan nelayan di pesisir, gambaran ekowisata Banua Pangka pada wisata Luwu Timur di Wotu
Gambar: Hutan mangrove dan nelayan, Sadarachmat, Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.
ASM Group
Iklan

Lutim, SuaraLutim – Wisata Luwu Timur tidak melulu soal danau purba dan perbukitan. Di pesisir utara kabupaten, tepatnya di Desa Bawalipu, Kecamatan Wotu, warga mengelola ekowisata mangrove bernama Banua Pangka. Kawasan ini dibuka warga pada awal 2018 dan sampai sekarang masih dikunjungi wisatawan lokal maupun pendatang.

Yang membuat Banua Pangka berbeda dari objek wisata pesisir lain adalah cara warga membangunnya. Ornamen di setiap spot foto, dari luar bangunan hingga ruang dalam, dibuat dari sampah daur ulang hasil kreasi anak muda dan masyarakat desa. Profil desa wisata nasional mencatat keunikan inilah yang menarik perhatian pengunjung dari dalam maupun luar daerah.

Wisata Luwu Timur: Menemukan Banua Pangka di Pesisir Wotu

Secara administratif, Banua Pangka berada di Desa Bawalipu, salah satu dari 16 desa di Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan. Lokasinya tepat di sebelah barat Tempat Pelelangan Ikan atau pelabuhan Wotu, sehingga kawasan ini sulit dilewatkan jika pengunjung menyusuri garis pantai kecamatan tersebut.

Nama objek wisata ini diambil dari Bahasa Wotu. “Banua” berarti rumah, sedangkan “Pangka” berarti mangrove atau pohon bakau. Jadi, Banua Pangka dapat dimaknai sebagai rumah di antara bakau, sebuah sebutan yang sesuai dengan bangunan utama yang berdiri di tengah hamparan mangrove pesisir Dusun Salualla.

Tata Atur
Iklan

Menurut keterangan Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparmudora) Luwu Timur, daya tarik wisata ini murni inisiatif warga desa untuk memanfaatkan hutan mangrove di pesisir Dusun Salualla. Masyarakat dan pemuda desa mengolah sampah daur ulang menjadi berbagai spot foto menarik, lalu menatanya di sepanjang jalur kawasan.

Profil Desa Bawalipu dan Titik Lokasinya

Desa Bawalipu berjarak sekitar 49 kilometer dari ibu kota Kabupaten Luwu Timur di Malili. Wilayahnya seluas 20,02 kilometer persegi dan terbagi menjadi lima dusun serta 27 rukun tetangga, yaitu Dusun Saluborro, Sambote, Campae, Lengkong, dan Salualla. Dusun terakhir inilah yang menampung kawasan Banua Pangka karena letaknya di pesisir.

Jumlah penduduk desa yang tercatat pada pembaruan data 2 Februari 2022 sebanyak 6.291 jiwa, terdiri dari 3.083 jiwa laki-laki dan 3.208 jiwa perempuan dengan 1.449 kepala keluarga. Sebagian besar wilayah desa berupa daerah pesisir pantai yang dipengaruhi pasang surut, dengan garis pantai di Dusun Salualla yang dikelilingi hutan mangrove.

Desa Bawalipu juga menyimpan ikon Kecamatan Wotu berupa Monumen Tugu Payung. Pada monumen itu tertulis kalimat dalam Bahasa Wotu, “Lalambate Tarantajo”, yang bermakna bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh. Di bagian atas monumen terdapat payung yang bagi masyarakat Luwu memiliki nilai historis sebagai pelindung rakyat.

Batas wilayah desa ini adalah Desa Tarengge di sebelah utara, Desa Balo-Balo di selatan, Desa Lampenai di timur, serta Desa Persiapan Arolipu dan Desa Lera di sebelah barat. Sebelum menjadi desa definitif, Bawalipu merupakan desa pemekaran dari Desa Lampenai pada 1979.

Daya Tarik Utama: Jalur Bakau dan Spot Foto Daur Ulang

Kunjungan ke Banua Pangka umumnya dimulai dari area parkir, lalu berlanjut menyusuri jalur yang membelah hamparan mangrove. Vegetasi bakau menjadi latar utama, sementara ornamen dari barang bekas yang diolah ulang menjadi penanda setiap titik foto. Konsep itu membuat kawasan ini lekat dengan kampanye pengelolaan sampah.

Karena berada di pesisir yang masih berfungsi sebagai area tangkapan ikan, suasana di sekitar kawasan kerap diwarnai aktivitas nelayan dan perahu yang bersandar di sekitar pelabuhan Wotu. Pengunjung bisa menyaksikan denyut ekonomi pesisir sambil menikmati pemandangan bakau.

Sebagian pengunjung memilih datang pada pagi atau sore hari ketika matahari tidak terlalu terik. Jalur pesisir juga memberi ruang bagi yang ingin mengamati burung dan biota kecil di antara akar bakau, kegiatan yang lebih nyaman dilakukan dengan suara tidak berisik agar tidak mengganggu satwa.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga