Jumat, 9 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pariwisata

Wisata Luwu Timur: Menjelajah Mangrove Lakawali Pantai

24 September 2026 • Admin • 14 kali dibaca
Hutan mangrove di Desa Wisata Langkara, Lakawali Pantai, Malili, Luwu Timur
Gambar: Dok. Jadesta Kementerian Pariwisata (jadesta.kemenpar.go.id)
ASM Group
Iklan

Denyut Ekonomi Desa di Balik Wisata Mangrove

Lakawali Pantai bukan hanya soal panorama. Profil desa tersebut menyatakan banyak warga menggantungkan kebutuhan sehari-hari dari biota air di kawasan pesisir, mulai dari ikan, udang, kepiting, hingga kerang.

Sebagian warga berprofesi sebagai nelayan tangkap dan pemancing. Ada juga yang mengembangkan penangkapan kepiting dan udang, serta memanfaatkan wilayah pantai untuk budidaya rumput laut jenis katonik yang bernilai jual tinggi.

Tambak perempangan dan rumput laut

Selain melaut, sebagian warga mengelola tambak perempangan untuk budidaya ikan, udang, kepiting, serta rumput laut jenis gracilia. Kawasan ini juga tercatat pernah dinobatkan sebagai kawasan minapolitan di Kabupaten Luwu Timur pada 2007.

Bagi wisatawan, kondisi itu menjadi peluang mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat pesisir. Pengembangan wisata kuliner dan kegiatan edukasi perikanan di desa ini pun disebut masih berjalan.

Tata Atur
Iklan

Fasilitas yang Tersedia

Berdasarkan data profil desa wisata, kawasan ini memiliki sejumlah fasilitas pendukung bagi pengunjung. Daftar fasilitas tersebut mencakup:

  • Areal parkir.
  • Balai pertemuan.
  • Jalur jungle tracking.
  • Kamar mandi umum.
  • Kuliner dan tempat makan.
  • Musholla.
  • Spot foto.
  • Area wifi.

Ketersediaan dan kondisi fasilitas dapat berubah dari waktu ke waktu. Pengunjung disarankan memastikan kesiapan fasilitas sebelum menggelar kegiatan rombongan, terutama bila berencana menyelenggarakan pertemuan dalam jumlah besar.

Konservasi Pesisir: Mangrove dan Lamun di Luwu Timur

Upaya menjaga ekosistem pesisir tidak hanya berjalan di Lakawali Pantai. Kawasan lain di Luwu Timur juga menjadi lokasi kegiatan rehabilitasi. Pada 29 Agustus 2026, dilakukan pemulihan pesisir di Mangkasa Point, Desa Harapan, Kecamatan Malili.

Kegiatan itu melibatkan PT Vale Indonesia bersama tim peneliti Universitas Hasanuddin, Sorowako Diving Club, aktivis lingkungan, dan relawan. Sekitar 50 peserta mengikuti tiga rangkaian kegiatan: penanaman mangrove, transplantasi lamun, dan aksi bersih pantai, dalam rangka Hari Konservasi Alam Nasional.

Avicennia dan Enhalus acoroides

Jenis mangrove yang ditanam adalah Avicennia atau api-api. Jenis ini dipilih karena perakarannya kuat untuk menahan abrasi serta menyediakan habitat bagi biota laut. Selain mangrove, dilakukan transplantasi 200 lamun jenis Enhalus acoroides.

Head of External Relations PT Vale Indonesia IGP Sorowako Limonite, Yusri Yunus, menyatakan pelestarian lingkungan membutuhkan kerja sama berbagai pihak. “Dibutuhkan kolaborasi dan komitmen bersama agar langkah yang kita lakukan hari ini memberikan dampak nyata bagi masa depan,” ujarnya dalam siaran pers.

Dari tim Pusat Penelitian Sumberdaya Alam LPPM Universitas Hasanuddin, St. Firjatih Widhah menilai lamun masih kurang mendapat perhatian dibanding ekosistem pesisir lain, padahal kemampuannya menyimpan karbon besar. Ia menyebut restorasi lamun bukan pekerjaan mudah sehingga pertumbuhannya perlu dipantau.

Pertanyaan yang Sering Muncul

Di mana lokasi wisata mangrove Lakawali Pantai? Desa Lakawali Pantai berada di Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Kecamatan Malili.

Apa saja yang bisa dilihat di sana? Hutan bakau di muara sungai, beberapa titik pantai seperti Pantai Langkara, Lagowari, dan Minangoge, serta Pulau Mori. Kawasan mangrove juga menjadi habitat burung bangau dan kalelawar.

Apakah kawasan ini dikelola warga? Menurut profil desa wisata, hutan bakau di muara sungai dijaga dan dilestarikan oleh kelompok masyarakat desa, dan sebagian warga menggantungkan penghidupan dari pesisir.

Penutup

Lakawali Pantai memperlihatkan satu sisi wisata Luwu Timur yang sering luput dari perhatian: pesisir dengan mangrove yang dijaga warga. Di sana, wisata tidak berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan pekerjaan nelayan, budidaya rumput laut, dan upaya menjaga ekosistem pesisir.

Bagi pengunjung, daya tarik kawasan ini justru terletak pada kesederhanaannya. Menikmati bakau di muara sungai dan pantai berpasir lebar bisa menjadi pilihan rekreasi sekaligus kesempatan belajar tentang konservasi pesisir.

Informasi destinasi lain di Luwu Timur dapat diikuti melalui rubrik Pariwisata SuaraLutim, termasuk pemberitaan soal Pulau Bulu Poloe dan terumbu karang serta kawasan TWA Danau Mahalona.

Sumber: Jadesta Kementerian Pariwisata, Luwuraya.com, dan jurnal Universitas Hasanuddin tentang valuasi ekonomi ekosistem mangrove di Luwu Timur.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga