Wisata Luwu Timur tidak hanya bertumpu pada tiga danau besar yang selama ini menjadi ikon. Di tengah Kota Malili, kawasan Sungai Malili dikembangkan menjadi ruang publik dan panggung festival yang setiap tahun menarik warga dari berbagai kecamatan. Festival Sungai Malili (FSM) menjadi penanda paling jelas bahwa kawasan ini memang disiapkan sebagai destinasi, bukan sekadar kawasan tepi air yang dilewati orang.
FSM 2026 dibuka Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, di Andi Nyiwi Park, Kecamatan Malili, Sabtu malam (30/5/2026). Festival berlangsung delapan hari penuh hingga 6 Juni 2026 dan dirancang bukan hanya sebagai hiburan musiman, melainkan sebagai motor penggerak ekonomi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sekaligus ajang pelestarian budaya di Bumi Batara Guru.
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Parmudora) Luwu Timur yang juga Ketua Panitia FSM 2026, Muhammad Safaat DP, menyampaikan bahwa festival tahun itu digelar selama delapan hari. Panitia mengemas agenda yang lebih padat dan variatif untuk memikat kunjungan wisatawan, mulai dari lomba perahu naga di sepanjang sungai, pameran benda pusaka oleh Komunitas Pompessi Lutim, karnaval budaya, hingga panggung musik setiap malam.
Wisata Luwu Timur: Sungai Malili yang Dikemas Jadi Kawasan
Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan tepi Sungai Malili memang ditata sebagai ruang publik. Ada pelataran jalan di pinggir sungai, ada taman, dan ada area yang dipakai untuk kegiatan warga seperti senam bersama serta acara kabupaten. Pola penataan seperti ini membuat Sungai Malili berfungsi ganda: sebagai wajah kota dan sebagai tempat orang berkumpul.
Bagi wisatawan yang datang dari luar daerah, kawasan ini punya posisi strategis karena berada di pusat pemerintahan Kabupaten Luwu Timur. Malili adalah ibu kota kabupaten dan pintu masuk jalur darat dari arah Palopo maupun Luwu Utara. Artinya, kawasan sungai ini bisa menjadi perhentian pertama sebelum perjalanan lanjut ke Sorowako, Nuha, atau kawasan danau di sisi selatan.
Yang membuat Sungai Malili berbeda dari destinasi lain adalah sifatnya yang berbasis kegiatan, bukan sekadar pemandangan. Festival, pasar malam, dan beragam agenda rutin mengisi ruang itu sepanjang tahun sehingga kunjungan tidak bergantung pada satu musim liburan saja.
Agenda yang Mengisi Festival
- Lomba perahu naga di sepanjang Sungai Malili.
- Pameran benda pusaka oleh Komunitas Pompessi Luwu Timur.
- Karnaval budaya yang melibatkan peserta dari berbagai kecamatan.
- Panggung musik dan music festival setiap malam selama festival berlangsung.
- Ekspo UMKM dengan produk kuliner dan kerajinan dari berbagai kecamatan.
Pada malam pembukaan, Bupati Irwan bersama rombongan meninjau stand Ekspo UMKM dan mencicipi produk kuliner serta kerajinan unggulan dari berbagai kecamatan di Luwu Timur. Bagian ini penting dicatat karena festival tidak berhenti pada panggung hiburan. Ada ruang jual yang langsung diakses pelaku usaha kecil, dari pedagang makanan sampai perajin.
Panitia juga menyebut bahwa FSM adalah momentum Hari Jadi Kabupaten Luwu Timur. Festival itu dibuka bertepatan dengan perayaan hari jadi, sehingga rangkaian kegiatannya selalu menjadi bagian dari agenda tahunan daerah, bukan acara yang berdiri sendiri.


