Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
SUARALUTIM.COM, MALILI — Duta Pelajar Luwu Timur 2026 menyambangi SMP Negeri 1 Malili pada Selasa (20/10/2026) untuk berbagi pengalaman sekaligus mengenalkan cara memakai kecerdasan buatan secara bijak. Kegiatan bertajuk On Duty Edukasi Duta Pelajar Luwu Timur 2026 itu menghadirkan dua duta: Zao Qi Avrilista dan Dehvy Scantika Mantong. Dalam berita lutim ini, yang menarik bukan hanya soal kunjungan sekolah, tetapi juga pilihan tema yang diangkat: teknologi yang kini masuk ke ruang belajar lewat ponsel siswa.
Keduanya datang dengan membawa pengalaman kompetisi dan pesan pengembangan diri. Zao Qi Avrilista merupakan peraih gelar Best Favorite dan Best Dress, sedangkan Dehvy Scantika Mantong meraih Best Personal Branding. Dehvy tampil sebagai pemateri yang membawakan pengenalan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di hadapan siswa.
Berita Lutim: Edukasi AI Masuk ke Sekolah
Pilihan tema AI bukan kebetulan. Dalam keseharian, siswa SMP sudah berinteraksi dengan teknologi ini, kadang tanpa menyadarinya: saran video, terjemahan otomatis, hingga bantuan menulis tugas. Persoalannya, tidak semua siswa tahu batas antara memanfaatkan dan bergantung, atau antara belajar dan menyalin.
Dehvy mengaku mendapat pengalaman berkesan saat menyampaikan materi. Ia menyebut pendekatan yang diselingi candaan menjadi caranya mencairkan suasana selama pemaparan. Cara itu masuk akal untuk audiens remaja: materi teknis lebih mudah diterima bila dibungkus cerita dan contoh yang dekat dengan kehidupan sekolah.
Dalam materinya, ia mengajak siswa lebih bijak memanfaatkan teknologi, khususnya AI. Ia mengingatkan bahwa teknologi tersebut perlu digunakan secara bertanggung jawab agar tidak menimbulkan dampak negatif akibat pemanfaatan yang tidak tepat. Pesan itu sederhana, tetapi menjadi fondasi penting: AI bukan pengganti proses berpikir, melainkan alat bantu yang harus dikendalikan penggunanya.
Bukan Sekadar Podium, tetapi Contoh
Zao Qi memilih pendekatan berbeda. Ia menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar SMP Negeri 1 Malili atas sambutan, dukungan, dan penghargaan yang diberikan selama kegiatan. Ia juga menegaskan bahwa pencapaiannya tidak lepas dari dukungan orang di sekitarnya.
“Gelar Best Favorite dan Best Dress ini bukan milik saya sendiri, tapi milik kita semua yang telah berjuang bersama,” ujarnya, seperti dikutip Luwuraya.com.
Menurutnya, pencapaian tersebut bukan akhir perjalanan, melainkan awal untuk terus berkontribusi melalui kegiatan yang bermanfaat bagi orang lain. Semangat berbagi, mengedukasi, dan menginspirasi dinilainya perlu dijaga agar pengalaman yang diperoleh berdampak positif bagi lingkungan sekitar.
Bagi siswa, kehadiran duta yang usianya tidak jauh berbeda memberi efek berbeda dibanding ceramah formal. Pesan tentang belajar dan teknologi lebih mudah diterima ketika datang dari sosok yang baru saja melewati proses seleksi, latihan, dan penilaian.
Siapa Duta Pelajar Luwu Timur 2026
Duta Pelajar Luwu Timur adalah program yang menghasilkan figur pelajar untuk membantu promosi daerah, kampanye pendidikan, dan kegiatan sosial. Pada penyelenggaraan 2026, seleksi diikuti 42 peserta, sebagaimana tercatat dalam pemberitaan SuaraLutim pada 12 Oktober 2026.
Dari proses itu lahir para duta dengan gelar penilaian berbeda, termasuk Best Favorite, Best Dress, dan Best Personal Branding. Gelar-gelar tersebut bukan sekadar simbol. Dalam praktiknya, duta diminta tampil di forum, berbicara di depan publik, dan mewakili suara pelajar pada kegiatan tertentu.
Karena itu, agenda On Duty seperti kunjungan ke SMP Negeri 1 Malili berfungsi sebagai uji kemampuan sekaligus pengabdian. Duta dituntut mampu menyampaikan materi, menjaga perhatian audiens, dan menyesuaikan bahasa dengan tingkat pemahaman siswa.
Mengapa Sekolah Menjadi Sasaran
Sekolah menengah pertama berada di titik transisi. Siswa mulai memakai ponsel lebih leluasa, mulai mengenal media sosial secara intens, dan mulai mengerjakan tugas yang bisa dibantu teknologi. Di titik inilah literasi digital paling menentukan.
Tanpa panduan, ada tiga risiko yang sering muncul. Pertama, penggunaan AI untuk menyalin jawaban tanpa memahami materi. Kedua, penerimaan informasi keliru karena tidak memeriksa sumber. Ketiga, membagikan data pribadi ke layanan yang tidak jelas pengelolaannya.
Materi yang disampaikan duta pelajar menyentuh kesadaran akan risiko tersebut, meski dalam bentuk yang ringan. Pendekatan ini sejalan dengan kerangka kompetensi AI untuk siswa yang dirumuskan UNESCO, yang menekankan pemahaman etika, dampak sosial, dan penggunaan bertanggung jawab, bukan hanya keterampilan teknis.


