Apa Kata Kepala Bidang Perpustakaan Luwu Timur
Kepala Bidang Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Luwu Timur, Suliati, menyampaikan bahwa lomba ini menjadi momentum penting. Ia berharap setiap desa semakin serius mengembangkan perpustakaan sebagai layanan publik.
“Kami berharap perpustakaan desa mampu hadir lebih dekat dengan masyarakat, menyediakan koleksi dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan, serta menciptakan berbagai kegiatan yang menarik dan bermanfaat bagi anak-anak dan seluruh lapisan masyarakat,” kata Suliati.
Ia juga menambahkan bahwa lomba ini merupakan bentuk apresiasi atas keaktifan perpustakaan desa dalam menyelenggarakan layanan literasi. Penghargaan dinilai penting agar pengelola perpustakaan merasa kerja mereka diakui.
Suliati berharap pemenang dapat terus menjadi contoh, sementara peserta lain tetap bersemangat melakukan evaluasi dan perbaikan. Dengan begitu, kualitas layanan literasi di tingkat desa meningkat secara merata.
Indikator Penilaian yang Dinilai Juri
Sarana dan prasarana masih menjadi salah satu komponen yang dinilai. Ketersediaan ruang baca yang layak, rak buku yang tertata, serta koleksi yang relevan menjadi dasar penilaian awal di setiap lokasi.
Namun, juri juga menekankan aspek pemanfaatan. Perpustakaan yang aktif menyelenggarakan kegiatan, seperti kegiatan membaca bersama atau pendampingan belajar, mendapat perhatian lebih besar dibanding perpustakaan yang hanya buka tanpa program.
Kreativitas pengelola menjadi pembeda antarpeserta. Desa yang mampu menghadirkan kegiatan sederhana namun teratur biasanya tampil lebih menonjol daripada desa yang mengandalkan fasilitas besar tanpa aktivitas rutin.
Keberlanjutan juga menjadi pertimbangan. Perpustakaan desa dituntut memiliki cara agar koleksi terus bertambah dan pengelolaan tetap berjalan, misalnya melalui keterlibatan pemuda desa atau dukungan anggaran desa.
Bagi warga, kegiatan literasi ini bersinggungan dengan agenda pembangunan desa yang lebih luas. Pemerintah daerah sebelumnya juga mendorong penguatan kapasitas perangkat desa, misalnya melalui pembekalan aparatur desa dibekali materi kebencanaan.
Perpustakaan desa berfungsi sebagai ruang belajar pertama bagi anak-anak di wilayah yang jauh dari pusat kota. Di sana mereka mengenal buku, belajar membaca, dan menghabiskan waktu dengan kegiatan yang bermanfaat.
Agar diminati, koleksi perpustakaan desa perlu disesuaikan dengan kebutuhan warga. Selain buku pelajaran dan bacaan anak, koleksi yang menyentuh keterampilan praktis seperti pertanian, perikanan, dan usaha rumahan biasanya lebih sering dipinjam.
Pengelolaan juga menuntut sumber daya manusia yang konsisten. Perpustakaan yang punya pengelola aktif, jadwal buka teratur, dan agenda kegiatan rutin cenderung bertahan lebih lama dibanding yang bergantung pada satu orang saja.
Pelibatan pemuda desa, karang taruna, dan kelompok PKK dapat membantu menghidupkan kegiatan literasi. Kegiatan sederhana seperti membaca bersama, lomba mewarnai, atau pendampingan belajar menjadi cara efektif menarik kunjungan.
Perpustakaan desa juga bisa menjadi ruang bertemu warga untuk membahas persoalan kampung. Fungsi itu menjadikannya lebih dari sekadar tempat meminjam buku, tetapi bagian dari kehidupan sosial desa.
Dukungan anggaran desa memegang peranan penting agar layanan literasi berjalan terus. Penambahan koleksi, perawatan ruangan, dan insentif bagi pengelola membutuhkan pembiayaan yang tidak bisa mengandalkan bantuan sesekali.
Karena itu, lomba seperti ini juga mendorong desa menempatkan perpustakaan sebagai bagian dari perencanaan pembangunan desa, bukan pelengkap yang diurus hanya saat ada penilaian.
Bagi desa yang belum masuk daftar juara, hasil penilaian tetap berguna sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan pada tahun berikutnya.
Yang terpenting, perpustakaan desa perlu terus dirawat sebagai layanan yang hidup. Kehadirannya yang rutin dan ramah bagi warga akan menentukan apakah minat baca di desa tumbuh atau justru surut setelah lomba selesai.
Informasi program pemerintah daerah dapat dipantau melalui Warta Lutim dan situs resmi Pemkab Luwu Timur. Liputan awal mengenai penutupan penilaian lomba dimuat Luwuraya.com.
FAQ Seputar Lomba Perpustakaan Desa Luwu Timur
Mengapa pemenang lomba belum diumumkan?
Setelah visitasi di 11 kecamatan rampung, tim juri masih harus menggelar rapat pleno untuk membahas hasil penilaian. Pemenang ditetapkan melalui berita acara sebelum diumumkan kepada peserta.
Perpustakaan mana saja yang dinilai terakhir?
Penilaian terakhir berlangsung di Kecamatan Towuti pada Kamis (17/9/2026), yaitu Perpustakaan Jendela Dunia di Desa Tokalimbo dan Perpustakaan Pustaka Loeha di Desa Loeha.
Apa yang dinilai juri selain gedung dan koleksi buku?
Juri juga menilai kreativitas dan inovasi pengelola, pemanfaatan perpustakaan sebagai ruang kegiatan, serta keberlanjutan layanan literasi bagi masyarakat desa.
Penutup: Literasi Desa yang Tak Berhenti di Lomba
Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Terbaik 2026 adalah pemacu, bukan garis akhir. Setelah pemenang diumumkan, pekerjaan sesungguhnya justru berlanjut pada upaya menjaga perpustakaan tetap hidup dan dikunjungi warga.
Bagi Luwu Timur, kualitas perpustakaan desa menjadi cermin seberapa dekat layanan publik dengan masyarakat. Perpustakaan yang aktif akan tumbuh menjadi ruang belajar pertama bagi anak-anak di desa, jauh sebelum mereka mengenal perpustakaan yang lebih besar.
Ikuti perkembangan dunia pendidikan dan literasi daerah melalui kanal pendidikan Luwu Timur, serta kabar dari wilayah kecamatan di berita desa & kecamatan Luwu Timur.