Mengapa Inklusi Sosial Menjadi Kunci
Istilah inklusi sosial di sini berarti perpustakaan menyasar kelompok yang selama ini jarang tersentuh layanan, bukan hanya pelajar. Beberapa kelompok yang biasanya menjadi sasaran program semacam ini adalah:
- Pelaku usaha mikro yang membutuhkan informasi pemasaran, pencatatan keuangan, atau cara mengurus izin usaha.
- Ibu rumah tangga yang ingin mengembangkan keterampilan untuk menambah penghasilan keluarga.
- Pemuda desa yang belum bekerja dan mencari keterampilan praktis maupun informasi lowongan.
- Kelompok lanjut usia yang masih aktif bersosialisasi dan ingin memanfaatkan waktu untuk belajar ringan.
- Pelajar yang membutuhkan ruang belajar dan akses internet di luar jam sekolah.
Bagi Luwu Timur, pendekatan itu bersinggungan dengan persoalan nyata di lapangan. Sejumlah kecamatan memiliki jarak cukup jauh dari pusat pemerintahan, sehingga layanan publik yang berbasis kunjungan warga membutuhkan penyesuaian. Program perpustakaan yang bergerak mendekati warga biasanya lebih tepat sasaran dibanding menunggu warga datang.
Peran desa dan komunitas
Keberhasilan TPBIS juga bergantung pada desa. Pustaka desa, taman bacaan masyarakat, hingga ruang belajar yang dikelola komunitas menjadi ujung tombak. Karena itu, pembagian peran yang diminta Sekda mencakup perangkat daerah, dunia usaha, dan komunitas literasi yang sudah berjalan di desa-desa.
SuaraLutim pernah mencatat upaya serupa melalui penilaian lomba perpustakaan desa serta pembahasan vokasi yang harus berbuah kemandirian usaha. Dua tema itu saling bersambung: keterampilan tanpa akses informasi sulit menjadi usaha, dan informasi tanpa keterampilan sulit menjadi penghasilan.
Langkah Berikutnya setelah Stakeholder Meeting
Pertemuan pemangku kepentingan biasanya menjadi titik awal. Setelah komitmen dibahas, tahap berikutnya menyangkut hal teknis: bentuk kerja sama, siapa yang menyediakan pelatih, jadwal kegiatan, hingga indikator keberhasilan.
Sejumlah pengelola perpustakaan desa berharap agenda tahunan seperti pelatihan dan lomba tetap berjalan, karena itu menjadi penanda bahwa pembinaan berlangsung rutin. Selain itu, penambahan koleksi yang relevan dengan kebutuhan warga, misalnya buku keterampilan, pertanian, dan usaha kecil, dinilai lebih bermanfaat daripada hanya menambah jumlah judul serupa.
Yang tidak kalah penting adalah soal data. Untuk mengukur dampak, perpustakaan perlu mencatat kunjungan, jenis layanan yang dipakai, dan kegiatan yang diikuti warga. Tanpa pencatatan, sulit menjelaskan apakah transformasi berjalan atau hanya berpindah bentuk. Pendekatan semacam ini juga dipakai dalam penilaian kinerja layanan publik yang berbasis bukti.
FAQ Perpustakaan dan Inklusi Sosial di Luwu Timur
Apa itu TPBIS? TPBIS adalah Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, program yang mendorong perpustakaan berperan sebagai ruang belajar dan pemberdayaan masyarakat. Di Luwu Timur, program ini dikelola Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah dan pada 2026 dibahas kembali melalui pertemuan pemangku kepentingan.
Siapa saja yang bisa memanfaatkan layanan perpustakaan? Sasaran program mencakup pelajar, pelaku usaha mikro, pemuda yang mencari keterampilan, hingga komunitas di desa. Pihak yang berminat biasanya dapat menanyakan jadwal kegiatan ke perpustakaan daerah atau pengelola pustaka desa.
Apakah kegiatannya berbayar? Sejak pelaksanaan awalnya pada 2023, kegiatan pelatihan yang digelar dinas diumumkan terbuka dan gratis bagi peserta, dengan pengajar yang membagikan ilmunya secara sukarela. Untuk kegiatan baru, warga sebaiknya memastikan langsung ke penyelenggara karena skema tiap kegiatan bisa berbeda.
Jika dijalankan konsisten, perubahan fungsi perpustakaan bisa menjadi salah satu layanan yang paling murah bagi daerah: fasilitasnya sudah ada, yang perlu ditambah adalah program dan kolaborasi. Bagi warga Luwu Timur, pintu yang selama ini identik dengan buku itu perlahan menjadi pintu untuk belajar hal-hal baru yang berujung pada penghasilan. Sumber: Luwuraya.com (30 September 2026); BataraPos; kanal resmi Pemkab Luwu Timur.


