Luwu Timur — Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Makassar mencabut kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan mengembalikan seluruh murid jenjang TK, SD, dan SMP ke pembelajaran tatap muka mulai Rabu, 16 September 2026. Kebijakan itu ditetapkan menyusul kondisi distribusi dan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di Kota Makassar yang dinilai mulai stabil atau longgar.
Keputusan tersebut dituangkan melalui Surat Edaran Nomor 100.3.4/19/Disdik/IX/2026 tentang Pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka bagi Murid Jenjang TK, SD, dan SMP di Kota Makassar. Dengan terbitnya surat edaran baru itu, aturan pembelajaran daring sebelumnya resmi dinyatakan tidak lagi berlaku.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar, Achi Soleman, menyampaikan keputusan itu dengan mempertimbangkan dua hal utama: kestabilan pasokan bahan bakar dan hasil evaluasi pelaksanaan pembelajaran jarak jauh yang sempat berjalan.
Luwu Timur dan Preseden PJJ Kota Makassar
Surat edaran lama yang dicabut adalah Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar Nomor 400.3.5/17/Disdik/IX/2026 tertanggal 11 September 2026 tentang Pelaksanaan Pembelajaran Daring bagi Murid Jenjang TK, SD, dan SMP. Aturan itu lahir sebagai langkah penyesuaian atas kondisi distribusi bahan bakar yang tidak menentu. Hanya empat hari berselang, kebijakan yang sama dicabut karena pasokan dinilai sudah membaik.
“Surat edaran tentang pelaksanaan pembelajaran tatap muka bagi murid jenjang TK, SD dan SMP di Kota Makassar,” kata Achi Soleman, Selasa (15/9/2026).
Dalam surat edaran tersebut, Disdik Makassar menyebut pembelajaran tatap muka kembali diberlakukan dengan mempertimbangkan kestabilan distribusi dan ketersediaan BBM di Kota Makassar. Pertimbangan kedua adalah hasil evaluasi pelaksanaan PJJ yang sebelumnya diterapkan. Dua alasan itu menunjukkan bahwa keputusan belajar-mengajar kini tidak hanya bergantung pada kesiapan sekolah, tetapi juga pada kelancaran pasokan energi.
Peristiwa serupa terjadi di daerah lain di Sulawesi Selatan. Pembelajaran tatap muka di Kabupaten Maros juga kembali diberlakukan setelah pasokan bahan bakar dinyatakan normal, sebagaimana pernah dibahas SuaraLutim dalam artikel mengenai kembalinya PTM Maros setelah pasokan BBM normal. Pola yang sama memperlihatkan betapa erat kaitan antara distribusi energi dan layanan pendidikan di wilayah ini.
Instruksi untuk Sekolah dan Orang Tua
Disdik Makassar meminta seluruh kepala satuan pendidikan memastikan proses pembelajaran kembali berjalan sesuai jadwal, kalender pendidikan, struktur kurikulum, serta ketentuan yang berlaku. Sekolah juga diminta mengoptimalkan kembali kehadiran murid, pendidik, dan tenaga kependidikan agar proses belajar mengajar berlangsung efektif, tertib, aman, dan menyenangkan.
Orang tua atau wali murid akan mendapat informasi dari masing-masing satuan pendidikan terkait kembali diberlakukannya pembelajaran tatap muka. Informasi itu penting agar keluarga bisa menyesuaikan kembali rutinitas pagi, transportasi, serta perlengkapan belajar anak.
“Kami mengimbau agar orang tua para murid, menyampaikan anak dapat hadir tepat waktu sesuai jadwal pembelajaran yang telah ditetapkan oleh sekolah,” imbuh Achi.
Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kembali ke Jam Kerja
Sementara itu, pendidik dan tenaga kependidikan diminta kembali melaksanakan tugas dan tanggung jawab kedinasan sesuai ketentuan jam kerja serta jadwal pembelajaran yang berlaku. Kembalinya guru ke sekolah juga mengembalikan fungsi ruang kelas sebagai tempat interaksi langsung, termasuk untuk bimbingan yang sulit dilakukan lewat layar.
“Artinya, kebijakan pembelajaran daring yang sebelumnya kita terapkan sebagai langkah penyesuaian terhadap kondisi distribusi BBM resmi dihentikan dan seluruh sekolah kembali menjalankan pembelajaran secara tatap muka mulai besok,” tukasnya.
Empat Hari Daring dan Dampaknya bagi Keluarga
Meski hanya berjalan beberapa hari, kebijakan daring memaksa keluarga menyesuaikan diri dua kali dalam sepekan. Orang tua yang bekerja harus mencari pengasuh tambahan, sementara guru menyiapkan materi dalam format yang berbeda dari biasanya. Di daerah yang jangkauan internetnya tidak merata, belajar dari rumah sering kali berlangsung tidak setara antarsiswa.
Itulah sebabnya banyak pihak menyambut baik kembalinya pembelajaran tatap muka. Namun, pengalaman singkat itu sekaligus memperlihatkan kerentanan sistem pendidikan ketika tergantung pada pasokan bahan bakar. Ketika antrean BBM panjang, sekolah menjadi salah satu sektor pertama yang harus menyesuaikan diri.