SOROWAKO — Di banyak taman pendidikan Al-Qur’an (TPA) di pelosok, persoalan mengaji tidak selalu dimulai dari kurangnya guru. Sering kali ia dimulai dari hal yang lebih sederhana: mushaf yang sudah lusuh, lembaran yang robek, dan buku Iqro yang harus dipakai bergantian oleh puluhan santri. Wahdah Inspirasi Zakat (WIZ) menjadikan persoalan sarana belajar itu sebagai salah satu fokus Program Tebar Al-Qur’an, dan gaungnya relevan bagi jaringan dakwah Wahdah Islamiyah di Luwu Timur.
WIZ adalah lembaga amil zakat nasional (LAZNAS) di lingkungan Wahdah Islamiyah dengan izin Kementerian Agama RI Nomor 1209 Tahun 2024. Programnya dikelompokkan ke dalam lima rumpun: dakwah, pendidikan, kesehatan, kemandirian, dan kemanusiaan.
WIZ Luwu Timur dan Arti Mushaf yang Layak
Bagi warga yang tinggal jauh dari kota, mushaf bukan benda biasa. Ia alat kerja utama seorang santri, sama pentingnya dengan buku pelajaran bagi siswa sekolah formal. Ketika mushaf sudah tidak layak, dua hal terjadi sekaligus: anak kehilangan kenyamanan belajar, dan pembina TPA kehilangan sebagian daya dukungnya untuk menjaga semangat mengaji.
Karena itu program semacam Tebar Al-Qur’an tidak berhenti pada seremonial penyerahan. Bantuan mushaf menyentuh kebutuhan yang paling dekat dengan rutinitas santri, dan dalam jangka panjang membantu menurunkan angka buta aksara Al-Qur’an di wilayah dengan akses terbatas.
Bagi Luwu Timur, persoalan itu tidak asing. Wilayahnya membentang dari Nuha dan Towuti sampai Malili, Kalaena, Tomoni, dan Wotu, sehingga distribusi bantuan apa pun menuntut biaya dan tenaga ekstra.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Apa yang Baru dari Program Tebar Al-Qur’an
Rilis resmi WIZ pada 15 Oktober 2026 mencatat penyaluran sekitar 100 mushaf Al-Qur’an dan 50 buku Iqro di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Sasaran utamanya adalah santri TPA Nurul Muttaqin di Kecamatan Sinjai Timur, ditambah satu masjid yang pada hari pelaksanaan dikunjungi beberapa TPA sekaligus.
Latar penyaluran itu disebut terus terang dalam rilis: sejumlah mushaf dan buku Iqro yang dipakai santri sudah lusuh, bahkan beberapa robek. Kondisi itu dinilai mengganggu karena keduanya sarana penting untuk belajar membaca sekaligus memahami kitab suci.
Fasilitator program, Usamah Saiful Yusuf, menyampaikan harapan agar bantuan itu membuat santri lebih nyaman belajar mengaji. “Semoga bantuan ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan mereka saat ini, tetapi juga menjadi penyemangat untuk terus belajar, mencintai, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya seperti dikutip laman resmi WIZ.
Pola yang sama terlihat pada penyaluran sebelumnya. Di Kota Makassar, WIZ menyisir dua TPA pada pertengahan September 2026: TPA Babussalam di Rappocini yang menampung 80 santri menerima 15 Al-Qur’an dan 15 buku Iqro, sementara TPA Al-Khairat di Biringkanaya menerima 13 buku Iqro. Keduanya dipilih karena sarana belajar yang dipakai anak-anak sudah usang.
Di Kabupaten Gowa, dua titik di Desa Jenetallasa, Kecamatan Pallangga, menerima bantuan dalam satu hari: TPA Nurul Yakin yang membina sekitar 70 santri mendapat 30 mushaf dan 20 buku Iqro, sedangkan TPA Ar-Ridha menerima 20 mushaf dan 10 buku Iqro.
Di Takalar, TPA Al-Abrar di Desa Galesong Baru menerima 35 mushaf dan 48 buku Iqro untuk sekitar 80 santri. Rilis WIZ menyebut mushaf dan Iqro yang dipakai sebelumnya sudah lapuk dan sebagian rusak.
Dari Kota ke Pelosok: Ujian Logistik
Yang membedakan program ini adalah jangkauan geografisnya. Pada Jumat, 3 Juli 2026, relawan WIZ Cabang Parigi menempuh sekitar 150 kilometer atau hampir tiga jam untuk menyalurkan sekitar 200 paket Al-Qur’an dan buku Iqro ke empat TPA di Desa Ambason Mekar, Kecamatan Tinombo, Parigi Moutong.
Ketua LAZNAS WIZ Cabang Parigi, Jamorianto, menyebut penyaluran itu sebagai tindak lanjut permohonan beberapa TPA setempat yang kekurangan mushaf. “Al-Qur’an dan buku Iqro yang tersedia di beberapa TPA di desa ini jumlahnya masih sangat terbatas. Sebagian di antaranya juga sudah rusak sehingga kurang layak digunakan,” ujarnya dalam rilis WIZ.
Pengalaman itu memberi gambaran tentang kebutuhan Luwu Timur bila program serupa berjalan di sini. Kecamatan seperti Towuti, Nuha, dan Wasuponda punya karakter medan mirip: jarak panjang dan titik pengajian tersebar di desa-desa kecil, sehingga distribusi ke satu titik belum tentu menyelesaikan kebutuhan titik lain.


