Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Tambang & Industri

Harga Nikel Tertekan: Bijih di Bawah HPM, Sorowako Disorot

1 Oktober 2026 • Admin • 33 kali dibaca
ASM Group
Iklan

Lutim, SuaraLutim – Harga bijih nikel laterit Indonesia
jatuh ke bawah Harga Patokan Mineral (HPM) pada akhir September 2026. Ini pertama kali premi bijih
nikel berubah negatif pada siklus tahun ini, dan tekanan itu diperkirakan berlanjut sepanjang
Oktober. Bagi Luwu Timur, kabupaten dengan kawasan tambang nikel Sorowako, pergerakan harga nikel
bukan sekadar angka di layar bursa: harga jual bijih adalah dasar penghitungan royalti, Dana Bagi
Hasil, dan belanja daerah.

Harga nikel dan HPM: apa yang berubah

Analisis Shanghai Metals Market (SMM) yang terbit 30 September 2026 mencatat, dalam sebulan dari
28 Agustus ke 28 September, harga serah bijih nikel kadar 1,6 persen turun dari US$65,8 per
wet metric ton (wmt) menjadi US$63,4 per wmt. Harga mineral acuan (HMA) nikel hanya turun
1,54 persen ke US$16.698 per ton, yang menyumbang penurunan sekitar US$0,9/wmt. Sisanya, sekitar
US$1,5/wmt, datang dari pergeseran premi: premi kadar 1,6 persen tertekan dari US$1,52/wmt menjadi
US$0,02/wmt, dan bijih kadar 1,4 persen kini berada US$2,03/wmt di bawah HPM. Setelah dikurangi
biaya angkut tongkang, harga yang diterima tambang untuk kadar 1,5 persen dan 1,6 persen secara FOB
berada di bawah HPM.

Untuk bijih limonit, arah pergerakan sama. Keputusan Menteri ESDM Nomor 363.K/MB.01/MEM.B/2026
yang berlaku 15 September 2026 menurunkan HPM bijih kadar 1,2 persen dari US$44,97/wmt menjadi
US$24,89/wmt, sedangkan harga serah kadar 1,2 persen saat ini US$26,5/wmt, seperti dikutip dalam
analisis
SMM/Metal.com
(30/9/2026).

Data Indonesia Nickel Price Index (INPI) yang dirilis Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI)
bersama SMM pada 28 September menunjukkan gambaran yang beragam. Harga bijih 1,2 persen CIF
bertahan di US$26,5 per ton dan kadar 1,6 persen stabil di US$63,4 per ton, sementara produk olahan
bergerak berbeda arah: nickel pig iron (NPI) FOB turun ke US$134,56 per ton dan MHP FOB
turun ke US$13.678 per ton, sedangkan high-grade nickel matte naik ke US$15.105 per ton.
Rinciannya bisa dibaca di
Media Nikel Indonesia
(28/9/2026).

Tata Atur
Iklan

Iklan

Campus Commercial Park C.CO Park

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus

C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.

Buka ccopark.com

Kenapa harga nikel tertekan

Dua hal bertemu di kuartal IV. Pertama, pasokan. Kuota produksi bijih nikel 2026 ditetapkan pada
kisaran 260 sampai 270 juta ton, jauh di bawah 379 juta ton pada 2025, tetapi hingga akhir September
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyetujui revisi RKAB secara bertahap. Seiring
volume tambahan itu masuk pasar, SMM menilai harga bijih akan bergerak menuju patokan baru yang
lebih rendah.

Kedua, permintaan. Biaya sulfur yang tinggi menekan margin smelter, indikator pembayaran
nikel-kobalt untuk MHP tetap lemah, dan produksi HPAL belum menunjukkan pertumbuhan berarti.
Produsen pun tidak punya insentif menaikkan tingkat operasi sebelum tutup tahun. Situasi ini membuat
tekanan harga tidak lagi merata: bahan baku relatif stabil, sementara produk antara masih
tertekan.

Yang juga perlu dibaca adalah sisi penerimaan negara. APNI mengingatkan, penyesuaian HPM dan
pengetatan kuota berpotensi menekan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) minerba, karena volume
produksi sangat bergantung pada kemampuan smelter membeli bahan baku. Peringatan itu muncul di
tengah pujian atas perbaikan tata kelola harga: Kementerian ESDM mencatat PNBP subsektor minerba
mencapai Rp108,13 triliun hingga Agustus 2026, sementara sepanjang 2025 tercatat Rp135,16 triliun,
seperti dikutip dari
laman resmi Kementerian ESDM
(21/9/2026).

Cuaca menambah tekanan dari dua arah

Faktor iklim memperkuat arah harga yang sama. Di bawah pengaruh El Nino yang kuat, BMKG
memperkirakan musim hujan tertunda di 61,08 persen wilayah Indonesia. Jendela penambangan dan
pengangkutan tongkang jadi lebih panjang, dan smelter kehilangan alasan menimbun stok sebelum musim
hujan datang.

Kekeringan yang sama juga menekan sisi permintaan. Sejak 22 September, kekurangan air memaksa
sebagian lini produksi rotary kiln electric furnace (RKEF) di kawasan industri Morowali
memangkas produksi. SMM memperkirakan, bila kondisi itu berlangsung setengah bulan, produksi NPI
berkurang 50.000 sampai 70.000 ton. Jadi, ketika volume bijih yang bisa ditambang bertambah,
permintaan peleburan justru menyusut.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga