Peluang di Perkapalan dan Kedirgantaraan
Selain perdagangan barang, kedua negara menjajaki kerja sama di sektor perkapalan. Indonesia memiliki industri galangan kapal dan kebutuhan penguatan armada, sementara Rusia memiliki pengalaman di bidang teknologi maritim.
Kolaborasi kedirgantaraan juga dibahas. Bidang ini membutuhkan investasi besar, transfer teknologi, dan kesiapan sumber daya manusia, sehingga bentuk kerja samanya masih akan dibahas lebih lanjut.
Pemerintah menyebut pengembangan kapasitas industri nasional sebagai salah satu prioritas. Kerja sama diharapkan tidak berhenti pada jual beli barang, tetapi juga mencakup peningkatan kemampuan produksi dalam negeri.
Sejumlah sektor strategis lain yang disepakati untuk diperkuat mencakup pertanian, teknologi, industri, dan pengembangan rantai pasok.
Kerja sama industri perkapalan berpotensi menyentuh kebutuhan kapal penyeberangan, kapal barang, dan infrastruktur pelabuhan. Pembahasan pada tahap ini masih bersifat penjajakan, belum sampai pada kontrak atau nilai investasi tertentu.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Apa Artinya bagi Eksportir
Bagi eksportir Indonesia, perluasan akses pasar ke EAEU membuka alternatif tujuan selain China, Amerika Serikat, dan Eropa. Diversifikasi pasar mengurangi ketergantungan pada satu kawasan yang mudah terdampak kebijakan dagang.
Namun, masuknya produk ke pasar baru menuntut kesiapan standar mutu, sertifikasi, dan kemampuan memenuhi volume pesanan. Pelaku usaha kecil dan menengah perlu pendampingan agar bisa memanfaatkan peluang ini.
Pemerintah menyatakan komitmen untuk memastikan peluang kerja sama dapat ditindaklanjuti menjadi langkah konkret. Salah satu caranya adalah mempertemukan pelaku usaha kedua negara melalui forum bisnis dan pameran dagang.
Bagi importir, masuknya pupuk dan bahan baku industri dari Rusia dapat memengaruhi biaya produksi. Namun, kepastian pasokan tetap bergantung pada logistik dan kondisi perdagangan global.
Kementerian Perdagangan perlu menyiapkan informasi pasar, kontak pembeli, dan panduan sertifikasi bagi eksportir yang ingin mencoba pasar EAEU. Tanpa dukungan itu, peluang yang terbuka dari perjanjian dagang sulit diterjemahkan menjadi transaksi nyata.
Risiko dan Hal yang Perlu Dicermati
Hubungan dagang dengan Rusia tidak lepas dari risiko geopolitik. Sanksi yang dikenakan sejumlah negara terhadap Rusia dapat memengaruhi pembayaran, asuransi pengiriman, dan akses layanan keuangan.
Pelaku usaha perlu memeriksa kepatuhan transaksi terhadap aturan internasional. Kesalahan dalam memilih jalur pembayaran atau mitra pengiriman bisa menimbulkan masalah hukum di kemudian hari.
Selain itu, nilai perdagangan yang tumbuh belum otomatis berarti surplus bagi Indonesia. Komposisi ekspor dan impor perlu dilihat secara rinci agar kebijakan yang diambil tepat sasaran.
Pemerintah juga perlu memastikan perjanjian dagang tidak melemahkan perlindungan industri dalam negeri. Sektor yang masih berkembang membutuhkan waktu dan dukungan agar mampu bersaing.
Apa yang Diketahui
Nilai perdagangan Indonesia dan Rusia pada 2025 mencapai 4,84 miliar dolar AS, naik 21,6 persen dari 3,98 miliar dolar AS pada 2024. Komoditas utama meliputi sawit, kopi, kakao, produk pertanian, dan pupuk.
Airlangga Hartarto bertemu Denis Manturov di Jakarta pada Jumat, 16 Oktober 2026. Keduanya membahas perdagangan, investasi, perkapalan, kedirgantaraan, dan ratifikasi I-EAEU FTA.
Ratifikasi perjanjian ditargetkan selesai sebelum akhir 2026 agar bisa berlaku efektif. Delegasi bisnis Rusia hadir dalam Trade Expo Indonesia 2026.
FAQ
Berapa nilai perdagangan Indonesia-Rusia pada 2025? Nilainya mencapai 4,84 miliar dolar AS, tumbuh 21,6 persen dibandingkan 3,98 miliar dolar AS pada 2024.
Apa itu I-EAEU FTA? Perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia yang beranggotakan Rusia, Armenia, Belarus, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan. Perjanjian ini ditandatangani pada 21 Desember 2025.
Kapan perjanjian itu berlaku? Pemerintah menargetkan seluruh prosedur ratifikasi rampung sebelum akhir 2026 sehingga perjanjian dapat berlaku efektif pada tahun yang sama.
Pertemuan di Jakarta menegaskan arah kebijakan luar negeri ekonomi Indonesia yang ingin memperluas pasar nontradisional. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada penyelesaian ratifikasi di masing-masing negara anggota EAEU. Ikuti terus lintasan isu ini di rubrik Viral Nusantara, berdekatan dengan pembahasan pembatasan ekspor 40 teknologi oleh China yang juga memengaruhi peta dagang kawasan.


