Jakarta, SuaraLutim – Artikel ini disusun dari pemberitaan media arus utama pada 12 Oktober 2026.
Berita Indonesia soal pasar saham kembali mencuri perhatian setelah Indeks Harga Saham
Gabungan ditutup anjlok 2,59 persen ke level 5.936,15 pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026.
Penurunan itu membuat seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia berakhir di zona merah.
Sektor energi menjadi yang terdalam dengan koreksi 5,88 persen. Tekanan datang dari luar dan
dalam negeri secara bersamaan.
Berita Indonesia: IHSG Anjlok 2,59 Persen
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan indeks komposit melemah tajam sejak sesi pertama.
Pada penutupan sesi I, IHSG sudah turun 117,98 poin atau 1,94 persen ke level 5.975,78. Indeks
saham unggulan LQ45 ikut tertekan 1,62 persen ke posisi 591,93. Pelemahan berlanjut hingga
penutupan perdagangan sore.
Mengacu data RTI Business, hanya 114 saham yang berakhir menguat. Sebanyak 602 saham
melemah dan 77 saham bergerak stagnan. Frekuensi transaksi tercatat 1,88 juta kali dengan volume
62,18 miliar lembar saham. Nilai transaksi pada hari itu mencapai Rp13,74 triliun.
Penurunan kali ini terjadi setelah sepekan sebelumnya indeks sempat menguat. Pada pekan 5
sampai 9 Oktober 2026, IHSG naik 0,94 persen ke level 6.093,75. Level tertinggi pekan itu
mencapai 6.216,43 dan terendah 5.995,82. Artinya, hampir seluruh penguatan pekan lalu habis
dalam satu hari perdagangan.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Seluruh Sektor Saham Berakhir Merah
Berdasarkan indeks sektoral IDX-IC, tidak ada satu pun sektor yang berakhir di zona hijau.
Sektor energi turun paling dalam, yaitu 5,88 persen. Sektor industri menyusul dengan koreksi
5,20 persen. Sektor infrastruktur melemah 4,72 persen dan transportasi serta logistik turun
3,44 persen.
Sektor barang baku melemah 2,96 persen, diikuti teknologi 2,88 persen serta barang konsumen
non-primer 2,23 persen. Sektor properti turun 1,34 persen dan keuangan 0,98 persen. Adapun
barang konsumen primer melemah 0,93 persen dan kesehatan 0,77 persen.
Pola itu menunjukkan tekanan terjadi merata, bukan hanya pada satu kelompok saham. Sektor
yang biasanya dianggap defensif seperti kesehatan dan barang konsumen primer juga ikut turun,
meski dengan koreksi lebih kecil. Hal ini menandakan investor cenderung mengurangi risiko secara
umum, bukan hanya keluar dari saham tertentu.
Saham Energi Paling Terdampak
Sektor energi menjadi pusat tekanan karena harga komoditas dan sentimen global berpengaruh
langsung pada kinerjanya. Emiten batu bara dan minyak sangat peka terhadap pergerakan harga
internasional. Ketika kekhawatiran pertumbuhan global menguat, saham komoditas biasanya pertama
dijual. Pola itu kembali terlihat pada perdagangan hari ini.
Koreksi di sektor energi juga berdampak besar karena bobotnya cukup signifikan di indeks.
Turunnya harga saham kelompok ini otomatis menyeret indeks komposit. Selain itu, saham energi
banyak dimiliki investor asing. Ketika dana asing keluar, tekanan pada harga saham menjadi
berlipat.
Penyebab: Sentimen Global dan Tekanan Rupiah
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai pelemahan hari ini perlu dilihat dari kombinasi
faktor eksternal dan domestik. Dari sisi global, investor mencermati arah kebijakan suku bunga
The Fed. Imbal hasil surat utang Amerika Serikat yang tinggi serta risiko geopolitik turut
membebani pasar keuangan.
Dari sisi dalam negeri, depresiasi nilai tukar rupiah dan aksi jual bersih investor asing
menjadi penahan utama pergerakan indeks. Nilai tukar rupiah masih berada di kisaran Rp17.900 per
dolar Amerika Serikat. Tekanan itu membuat investor menurunkan selera terhadap aset berisiko,
termasuk saham negara berkembang.
Arus dana asing memang menjadi persoalan yang berulang sepanjang tahun ini. Otoritas Jasa
Keuangan mencatat investor asing membukukan penjualan bersih Rp10,24 triliun sepanjang September
2026. Secara tahunan, tekanan jual asing di Bursa Efek Indonesia sudah menembus puluhan triliun
rupiah. Kondisi itu membuat penguatan indeks sulit bertahan lama.


