Berita Indonesia: Surplus Dagang Menyusut
Neraca perdagangan September 2026 surplus 3,36 miliar dolar Amerika Serikat. Angka itu lebih rendah dari surplus Agustus yang mencapai 3,55 miliar dolar Amerika Serikat. Dibanding September 2025, penurunannya lebih dalam karena surplus saat itu mencapai 4,55 miliar dolar Amerika Serikat.
Dari angka BPS, surplus nonmigas September dapat dihitung sebesar 5,68 miliar dolar Amerika Serikat, yaitu selisih ekspor nonmigas 26,64 miliar dan impor nonmigas 20,96 miliar. Sementara migas mencatat defisit 2,32 miliar dolar Amerika Serikat karena impor 3,27 miliar lebih besar dari ekspor 950 juta. Gabungan keduanya menghasilkan surplus 3,36 miliar dolar Amerika Serikat.
Surplus kumulatif nonmigas tercatat 34,21 miliar dolar Amerika Serikat, turun dari 47,4 miliar dolar Amerika Serikat. Sebaliknya, defisit migas melebar dari 13,86 miliar menjadi 23,6 miliar dolar Amerika Serikat. Secara total, surplus Januari sampai September 2026 hanya 10,61 miliar dolar Amerika Serikat, jauh di bawah 33,54 miliar dolar Amerika Serikat pada periode sama tahun lalu.
Kombinasi surplus tipis dan impor cepat memberi ruang tekanan pada transaksi berjalan. Pemerintah perlu menjaga arus devisa dari ekspor komoditas agar cadangan devisa tidak tergerus. Di sisi lain, impor bahan baku yang tinggi bisa dibaca sebagai tanda produksi masih berjalan.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Sinyal bagi Rupiah dan Transaksi Berjalan
Surplus dagang yang menipis mengurangi pasokan valuta asing dari jalur perdagangan. Bila arus modal masuk juga melambat, tekanan pada rupiah bisa muncul lebih cepat. Karena itu, pelaku pasar biasanya membaca data ini bersama data inflasi dan suku bunga acuan.
Namun, surplus bukan satu-satunya penentu arah rupiah. Arus investasi portofolio, pembayaran utang luar negeri, dan harga komoditas ikut menentukan. Data satu bulan tidak cukup untuk menyimpulkan arah jangka panjang, tetapi arah tren tiga bulan terakhir cukup jelas, yaitu surplus mengecil.
Pemerintah memiliki dua pilihan kebijakan yang saling mengunci. Mendorong ekspor bernilai tambah atau menahan impor konsumtif. Keduanya butuh waktu, sementara data perdagangan bergerak setiap bulan dan langsung dibaca pasar.
Dalam konteks fiskal, penerimaan negara dari sektor perdagangan juga terpengaruh. Bila harga komoditas turun, penerimaan dari bea keluar dan pajak ekspor ikut menyesuaikan. Karena itu, asumsi makro dalam anggaran perlu dievaluasi bila tren ini berlanjut sampai kuartal keempat.
Apa yang Diketahui
BPS mencatat impor September 2026 sebesar 24,24 miliar dolar Amerika Serikat atau naik 18,41 persen secara tahunan. Ekspor pada bulan yang sama mencapai 27,59 miliar dolar Amerika Serikat atau naik 11,87 persen. Neraca perdagangan surplus 3,36 miliar dolar Amerika Serikat.
Impor bahan baku dan penolong naik paling tinggi, yaitu 24,65 persen. Impor barang konsumsi naik 15,98 persen, sedangkan barang modal hanya naik 1,25 persen. Secara kumulatif, impor Januari sampai September tumbuh 19,67 persen dan ekspor 5,58 persen.
Data ini dirilis bersamaan dengan inflasi Oktober yang juga menjadi sorotan, termasuk dampak harga pangan terhadap inflasi Oktober 3,23 persen. Kedua rilis memberi gambaran yang saling melengkapi soal daya beli dan biaya produksi.
Apa yang Belum Terkonfirmasi
Belum ada rincian resmi soal komoditas impor mana yang menyumbang kenaikan terbesar pada September. BPS menyebut bahan baku dan penolong secara agregat, tetapi tidak menjabarkan pos barang utama dalam kutipan yang beredar. Rincian itu biasanya muncul di berkas Berita Resmi Statistik.
Dampak kenaikan impor terhadap neraca pembayaran kuartal keempat belum bisa dihitung. BPS baru merilis data perdagangan, belum neraca pembayaran. Begitu pula proyeksi defisit transaksi berjalan yang masih menjadi perkiraan kalangan ekonom, bukan angka resmi.
Pemerintah juga belum mengumumkan langkah khusus untuk menahan laju impor. Pernyataan yang ada masih berupa penilaian atas data, belum kebijakan. Karena itu, arah bulan berikutnya akan lebih ditentukan oleh permintaan industri daripada oleh intervensi baru.
FAQ Seputar Neraca Dagang
Berapa nilai impor Indonesia pada September 2026?
BPS mencatat 24,24 miliar dolar Amerika Serikat, naik 18,41 persen secara tahunan. Sebagian media menulis 24,23 miliar dolar Amerika Serikat karena pembulatan.
Mengapa surplus dagang menyusut?
Karena impor tumbuh 18,41 persen sementara ekspor tumbuh 11,87 persen. Impor bahan baku dan penolong menjadi penyumbang terbesar kenaikan tersebut.
Apakah tarif listrik ikut terpengaruh?
Tidak ada kaitan langsung. Tarif listrik November mengikuti keputusan pemerintah, seperti dibahas dalam artikel soal tarif listrik PLN November yang tidak naik.
Baca juga
- Politik Nasional: Ekspor Listrik ke Singapura Ditahan
- Berita Indonesia: Denda Pajak Kendaraan Jakarta Dihapus
- Tambang Nasional: Kuota Nikel 2027 Bakal Dipangkas Lagi
Kumpulan berita terbaru seputar berita Luwu Timur ada di kanal berita Luwu Timur.


