Teknologi Metal Organic Framework dan Gas Tabung
BRIN menyebut penerapan teknologi Metal-Organic Framework (MOF) sebagai jalan menyimpan biogas di dalam tabung. Teknologi itu dinilai dapat menjadi solusi mengurangi impor LPG senilai Rp97 triliun per tahun, menurut laporan Suara.com.
MOF adalah material berpori dengan luas permukaan sangat besar. Material ini dapat menyerap dan menyimpan gas pada tekanan lebih rendah dibanding cara penyimpanan konvensional. Pendekatan itu relevan untuk biogas yang volumenya besar namun nilai energinya lebih rendah dari gas alam.
Namun biogas yang masuk ke tabung harus melewati pemurnian dan pengolahan sesuai standar keselamatan. Kandungan metana perlu dijaga pada kadar tertentu agar pembakaran stabil. Tahap ini menentukan apakah gas hasil olahan limbah layak dipakai rumah tangga.
BRIN belum mengumumkan mitra industri, lokasi percontohan, maupun jadwal produksi tabung biogas. Teknologi MOF juga masih diposisikan sebagai hasil riset, bukan produk yang siap dilempar ke pasar. Karena itu, manfaat ekonominya belum bisa dihitung dari data terbuka saat ini.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Sisi Lingkungan: Metana yang Selama Ini Lepas
Pengolahan POME disebut penting karena limbah ini menghasilkan metana bila terurai tanpa kontrol. Metana termasuk gas rumah kaca dengan daya pemanasan jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida. Bila metana lepas ke atmosfer, dampaknya terhadap iklim lebih besar per satuan volume.
Sebaliknya, bila metana ditangkap dan dibakar sebagai bahan bakar, emisinya bisa dikendalikan. Pola itu menjadikan pengolahan limbah sawit sebagai langkah ganda: mengurangi pencemaran sekaligus menambah pasokan energi. CNN Indonesia mencatat penekanan Arif bahwa POME dapat menjadi sumber emisi gas metana yang memicu efek rumah kaca.
Persoalannya, tidak semua pabrik memiliki instalasi penangkap biogas. Sebagian masih mengandalkan kolam terbuka dengan biaya murah namun emisi tinggi.
Apa yang Diketahui
Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan potensi 3,9 gigawatt dari limbah sawit di Istana Kepresidenan Jakarta pada Selasa (27/10/2026). Potensi itu dihitung dari POME sekitar 229,9 juta meter kubik per tahun dan tandan buah segar sekitar 328,43 juta ton per tahun. Nilai impor LPG yang disebut mencapai sekitar Rp97 triliun per tahun.
BRIN juga menyebut teknologi Metal-Organic Framework untuk menyimpan biogas dalam tabung sebagai salah satu jalan mengurangi impor LPG. Paparan tersebut bagian dari laporan riset strategis BRIN kepada presiden. Sejumlah media nasional melaporkan isi yang sama dengan angka yang identik.
Apa yang Belum Terkonfirmasi
Belum ada keputusan investasi, lokasi proyek percontohan, atau target kapasitas terpasang dari pemerintah. Belum ada pula hitungan resmi biaya produksi listrik dari limbah sawit per kilowatt jam. Pemerintah juga belum menerbitkan kebijakan khusus yang mengikat pemanfaatan POME untuk energi.
Berapa persen kebutuhan LPG nasional yang mungkin digantikan biogas belum diumumkan. Begitu pula status teknologi MOF, apakah sudah melewati uji skala industri atau masih pada tahap laboratorium. Semua itu masih menunggu penjelasan lanjutan dari BRIN dan kementerian terkait.
FAQ Seputar Limbah Sawit dan Listrik
Berapa potensi listrik dari limbah sawit Indonesia? BRIN menyebut potensinya mencapai sekitar 3,9 gigawatt bila POME dan tandan kosong sawit dikonversi menjadi listrik. Angka itu dihitung dari volume limbah nasional per tahun, bukan dari pembangkit yang sudah beroperasi.
Apa itu POME? POME atau palm oil mill effluent adalah limbah cair dari proses pengolahan tandan buah segar menjadi minyak sawit mentah. Limbah ini kaya bahan organik dan dapat menghasilkan biogas metana bila diurai secara anaerob.
Apakah sudah ada proyek listrik dari limbah sawit? Belum ada proyek yang diumumkan sebagai tindak lanjut laporan BRIN ke presiden. Sejumlah pabrik telah memakai biogas untuk kebutuhan internal, tetapi skala dan lokasinya belum dirinci dalam laporan tersebut.
Yang paling masuk akal dicermati dalam beberapa bulan ke depan adalah apakah laporan ini berlanjut menjadi kebijakan, pilot project, atau hanya berhenti sebagai paparan riset. Tanpa tindak lanjut itu, angka 3,9 gigawatt tetap berstatus potensi. Pembaca bisa memantau perkembangan resminya lewat kanal BRIN dan Kementerian ESDM.
Baca juga
- Berita Politik: KPK Dalami Kontrak Bantalan Rel Kereta
- Berita Viral: Serbuk Emas 1,1 Kg di Dalam Tubuh Penumpang
- Tambang Nasional: PLTU Captive akan Keluar dari DMO
Kumpulan berita terbaru seputar berita Luwu Timur ada di kanal berita Luwu Timur.


