Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Berita Indonesia: Siswa SD Jakarta Alami Beban Kognitif

20 Oktober 2026 • zul • 27 kali dibaca
Siswa sekolah dasar mengikuti kegiatan di halaman sekolah
Desa Jahiang, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Berita Indonesia dari dunia pendidikan dan kesehatan mencuat setelah Indonesia Health Development Center merilis studi tentang beban kognitif anak sekolah dasar di Jakarta. Dari 1.007 siswa kelas 4, 5, dan 6 di empat sekolah dasar negeri, sebanyak 68,5 persen atau hampir 7 dari 10 responden tercatat memiliki fungsi kognitif harian yang kurang baik. Temuan itu dipaparkan di Jakarta pada Senin, 19 Oktober 2026.

Berita Indonesia: Temuan Utama Studi IHDC

Studi berjudul Determinan Perkembangan Kognitif dan Imajinasi Anak Usia Sekolah di DKI Jakarta Tahun 2026 itu melibatkan siswa berusia 9 sampai 14 tahun. Penelitian mencakup pemeriksaan penglihatan, penilaian asupan gizi, serta skrining kesehatan jiwa dan perilaku.

Selain angka 68,5 persen, sebanyak 49,3 persen peserta memiliki skor harapan masa depan yang rendah. Penilaian itu mengukur keyakinan anak dalam berusaha dan menemukan jalan mencapai tujuan, bukan sekadar cita-cita.

Fungsi kognitif harian diukur dengan instrumen PedsQL Cognitive Functioning Scale, sedangkan harapan anak dinilai memakai Children’s Hope Scale. Keduanya menangkap kemampuan memusatkan perhatian, mengingat informasi, dan mengolah materi pelajaran.

Tata Atur
Iklan

Tim peneliti menegaskan hasil ini menggambarkan kondisi riil anak perkotaan, bukan penilaian atas kecerdasan. Kesulitan yang terdeteksi memerlukan penelaahan lanjutan untuk mengetahui kebutuhan spesifik setiap anak.

Empat Beban yang Menghambat Belajar

Peneliti mengidentifikasi empat beban utama yang menghambat performa kognitif anak. Pertama, gangguan penglihatan. Kedua, defisiensi zat besi. Ketiga, minimnya asupan protein dan energi. Keempat, masalah kesehatan jiwa.

Pemeriksaan refraksi menemukan 303 siswa atau sekitar 30 persen peserta mengalami gangguan penglihatan yang memerlukan koreksi kacamata. Kondisi ini dinilai penting karena kemampuan melihat materi pelajaran memengaruhi keterlibatan anak di kelas.

Dari sisi gizi, penilaian asupan mengonfirmasi masih tingginya hambatan pada kecukupan zat besi dan protein harian. Keduanya berkaitan dengan daya konsentrasi dan stamina anak selama jam belajar.

Pada aspek kesehatan jiwa, skrining menemukan risiko kecemasan dan depresi pada sebagian peserta. Temuan ini menjadi perhatian karena masalah emosi sering tidak terlihat dari nilai rapor.

Temuan ini sejalan dengan perhatian pada kesehatan mata anak di sekolah yang muncul dari berbagai program. Sejumlah pihak menilai pemeriksaan rutin lebih murah dibanding biaya penanganan keterlambatan belajar.

Kaitan Penglihatan dan Kecemasan dengan Konsentrasi

Analisis statistik menunjukkan siswa dengan risiko gangguan penglihatan sedang hingga tinggi berpeluang 3,1 kali lebih besar mengalami fungsi kognitif harian yang kurang baik. Angka itu dibandingkan kelompok berisiko rendah atau tanpa risiko.

Hubungan serupa muncul pada kesehatan jiwa. Siswa dengan risiko kecemasan tinggi memiliki peluang 3,3 kali, sedangkan risiko depresi tinggi sebesar 2,5 kali dibanding kelompok pembanding.

Meski begitu, tim peneliti menegaskan angka tersebut menunjukkan hubungan statistik, bukan sebab-akibat. Desain potong lintang tidak dapat memastikan apakah faktor kesehatan mendahului kesulitan kognitif atau sebaliknya.

Hasil skrining kesehatan jiwa juga bukan diagnosis klinis. Anak yang terdeteksi berisiko tetap memerlukan penilaian medis profesional sebelum mendapat penanganan lebih lanjut.

Penjelasan Ketua Tim Peneliti

Direktur Eksekutif IHDC sekaligus Ketua Tim Peneliti, Ray Wagiu Basrowi, menyatakan anak yang sulit fokus perlu diperiksa kesehatannya, bukan buru-buru dicap malas. Menurutnya, kesulitan melihat papan tulis atau kecemasan yang tidak tertangani berhubungan langsung dengan kesulitan belajar harian.

Ia menjelaskan studi ini memotret kondisi anak perkotaan melalui metode potong lintang. Pendekatan itu memberi gambaran pada satu titik waktu, bukan pemantauan berkelanjutan.

Ray menambahkan setiap angka dalam studi mewakili anak yang berhak memperoleh kesempatan belajar sebaik mungkin. Karena itu, temuan ini diarahkan pada tindakan yang bisa segera dijalankan di sekolah.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga