Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Berita Politik: Iran Lantik Menhan Baru dan Ancam AS

18 Oktober 2026 • zul • 23 kali dibaca
Gedung parlemen Iran di Teheran
مانفی, CC BY-SA 4.0, Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Berita politik dari Timur Tengah kembali mencuri perhatian setelah parlemen Iran menyetujui Mehrdad Akhlaghi Ketabchi sebagai menteri pertahanan baru pada Minggu (18/10/2026). Usai mendapat mosi percaya, Akhlaghi langsung mengeluarkan pernyataan keras yang menyasar Amerika Serikat dan sekutunya.

Berita Politik: Parlemen Iran Setujui Menhan Baru

Menurut laporan ANTARA yang mengutip lembaga penyiaran negara IRIB, Akhlaghi memperoleh 237 suara setuju dan 15 suara menolak. Tidak ada suara abstain dari total 277 suara yang masuk dalam sidang yang digelar melalui konferensi video.

Pemungutan suara berlangsung setelah anggota parlemen mendengar argumen pendukung dan penolak. Mereka juga meninjau rencana kerja calon untuk Kementerian Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata. Proses itu berjalan hampir delapan bulan setelah konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan Israel dimulai.

Kantor berita AFP, yang dikutip detikcom, menyebut Akhlaghi menggantikan Aziz Nasirzadeh. Nasirzadeh tewas dalam serangan pada 28 Februari 2026 di sebuah kompleks kepemimpinan, bersama sejumlah pejabat tinggi militer dan politik Iran.

Tata Atur
Iklan

Selama kekosongan, Majid Ebn al-Reza menjabat sebagai pelaksana tugas menteri pertahanan. Pengangkatan Akhlaghi menutup masa transisi itu dan memberi kementerian pertahanan seorang pejabat definitif di tengah situasi keamanan yang belum stabil.

Hasil pemungutan suara diumumkan televisi pemerintah dan situs resmi pemerintah. Keduanya menyebut Akhlaghi meraih 237 suara, angka yang sama dengan laporan kantor berita negara IRIB dan AFP.

Siapa Mehrdad Akhlaghi

Al Jazeera menyebut Akhlaghi berusia 68 tahun dan dikenal sebagai pejabat yang fokus pada pengembangan teknologi pertahanan. Ia bukan perwira militer dengan pangkat, tetapi telah bekerja di kementerian pertahanan selama sekitar 42 tahun.

Sejak 2013, ia memimpin Organisasi Industri Pertahanan Iran, badan yang mengembangkan dan memproduksi persenjataan negara. Pengalaman itu membuatnya akrab dengan rantai produksi, riset, dan pengadaan alutsista, bukan hanya dengan urusan komando pasukan.

Xinhua mencatat Akhlaghi sebelumnya juga menjabat direktur pelaksana Organisasi Industri Kedirgantaraan Iran. Dua posisi itu menempatkannya di jantung program rudal dan drone yang menjadi salah satu sumber ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pidato sebelum pemungutan suara, Akhlaghi menyebut prioritasnya mencakup perluasan produksi pertahanan, peningkatan riset, dan penyesuaian struktur kementerian terhadap ancaman saat ini. Ia juga berjanji memperkuat apa yang disebut Iran sebagai front perlawanan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa pernah menjatuhkan sanksi kepada Akhlaghi pada 2007 atas dugaan keterkaitan dengan kegiatan nuklir atau rudal balistik. Catatan itu menunjukkan ia bukan sosok baru dalam sengketa internasional soal program pertahanan Iran.

Ancaman terhadap AS dan Sekutunya

Dalam pernyataan pertama setelah disetujui parlemen, Akhlaghi mengatakan Iran telah mengambil langkah untuk mengantisipasi kemungkinan penggunaan bom GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast oleh Amerika Serikat. Bom itu dikenal dengan julukan Mother of All Bombs.

“Kami telah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menghadapi tindakan semacam itu dan terus bekerja dengan penuh keyakinan,” kata Akhlaghi seperti dikutip ANTARA. Ia juga memperingatkan Presiden AS Donald Trump agar memikirkan keselamatan pasukannya di kawasan.

“Jika dia menjatuhkan satu bom, dia harus melihat berapa banyak pasukan yang harus dibawa keluar dari kawasan itu dalam posisi horizontal,” ujarnya. Kalimat itu tampaknya merujuk pada kemungkinan jatuhnya korban di pihak militer Amerika.

Penyebutan GBU-43/B penting karena bom itu dikenal sebagai salah satu senjata konvensional terbesar. Dengan menyebutnya, Akhlaghi seolah ingin menunjukkan bahwa Iran menyiapkan skenario terhadap opsi militer paling ekstrem sekalipun.

Kepada wartawan, Akhlaghi juga menyatakan bahwa Amerika dan sekutunya akan menanggung akibat besar bila melanjutkan kampanye militer. “Jika mereka melakukannya, mereka sendiri dan kawasan ini akan mengalami kerusakan yang sangat besar,” katanya sebagaimana dikutip AFP.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga