Berita viral dari dunia riset kesehatan: sebuah komisi di jurnal The Lancet menyatakan penyalahgunaan kecerdasan buatan dan konflik nuklir berisiko memicu kepunahan manusia pada 2100. Keduanya masuk kategori ancaman yang berpotensi mengakhiri peradaban dalam 75 tahun ke depan. Temuan itu dipublikasikan pekan ini dan dibahas dalam World Health Summit di Berlin.
Berita Viral: Dua Ancaman Berpotensi Kepunahan
Komisi Lancet untuk Ancaman Kesehatan Global Abad ke-21 menempatkan dua ancaman pada kategori teratas piramida risiko. Keduanya adalah konflik nuklir yang memicu kelaparan nuklir serta penyalahgunaan kecerdasan buatan, termasuk pengembangan senjata biologi. Laporan itu dirangkum The Guardian, 11 Oktober 2026.
Menurut laporan tersebut, peluang kedua ancaman itu terjadi tergolong rendah. Namun, skala kerusakan yang bisa ditimbulkan dinilai sangat besar sehingga tetap masuk kategori berpotensi memusnahkan manusia. Editorial yang menyertai laporan menyebut dampaknya akan menimbulkan bencana besar bagi umat manusia bila benar terjadi.
Laporan itu menilai kedua ancaman tersebut berkaitan dengan banyak risiko lain. Karena itu, penanganannya tidak dapat dipisahkan dari upaya mengatasi perubahan iklim, resistensi antimikroba, malnutrisi anak, dan melemahnya pendanaan kesehatan global.
Komisi ini beranggotakan puluhan ahli dari bidang kesehatan, ekonomi, keamanan, dan teknologi. Hasil penilaian mereka akan diperbarui setiap tahun dengan memasukkan data baru dan ancaman yang muncul kemudian.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
17 Ancaman Kesehatan Global yang Dipetakan
Komisi memetakan ratusan potensi ancaman kesehatan menjadi piramida berisi empat kategori. Pada tingkat paling atas terdapat ancaman yang berpotensi menyebabkan kepunahan manusia pada 2100. Di bawahnya ada kategori ancaman katastrofik, risiko dan penyebab utama, serta lanskap ancaman yang lebih luas.
Total ada 17 ancaman besar yang dinilai perlu perhatian utama. Selain perang nuklir dan kecerdasan buatan, daftar itu memuat polusi udara, resistensi antimikroba, malnutrisi anak, perubahan iklim, konflik bersenjata, penurunan bantuan luar negeri, konsumsi alkohol tinggi, tekanan darah tinggi, ketimpangan pendapatan, rendahnya capaian pendidikan, pandemi alami, obesitas, gangguan kesehatan mental, kebiasaan merokok, dan penuaan yang tidak sehat.
Metode penilaian menggunakan ukuran tahun hidup yang hilang akibat sakit, disabilitas, atau kematian dini. Ukuran itu dikenal sebagai disability adjusted life years atau DALYs. Setiap ancaman dimodelkan pada skenario terbaik dan terburuk sampai 2100.
Menurut laporan itu, menahan pemanasan global pada sekitar 1,8 derajat Celsius dibandingkan skenario 4,4 derajat Celsius dapat mencegah sekitar 1,89 miliar tahun hidup sehat yang hilang. Penurunan drastis bantuan kesehatan internasional juga diproyeksikan menambah hingga 1,5 miliar DALYs sebelum 2100, dengan hampir 70 persen di Afrika sub Sahara.
Tiga Jalur Risiko dari Kecerdasan Buatan
Komisi mengidentifikasi tiga jalur utama bagaimana kecerdasan buatan dapat menimbulkan bahaya besar. Jalur pertama adalah pembuatan patogen baru, yaitu penggunaan model untuk merancang dan menyebarkan senjata biologi. Jalur kedua adalah integrasi sistem otomatis ke infrastruktur kritis yang rentan gagal berantai.
Contoh kerentanan pada jalur kedua mencakup kesalahan keluaran model yang dipakai dalam praktik klinis, pemalsuan politik berskala besar, dan senjata nuklir otonom. Laporan menyebut ketergantungan pada sistem otomatis tanpa pengawasan memadai dapat memperbesar risiko kegagalan bertingkat di layanan publik.
Jalur ketiga adalah hilangnya kendali manusia. Menurut laporan, sistem agen yang tidak selaras dengan tujuan pembuatannya berpotensi menciptakan tujuan turunan sendiri. Risiko itu meningkat apabila agen tersebut mendapat akses otonom ke jaringan keuangan, infrastruktur kunci, atau perangkat fisik di dunia nyata.
Laporan menegaskan bahwa potensi kecerdasan buatan untuk memajukan kesehatan sangat besar. Namun, potensi kerusakan besar juga dinilai setara besarnya sehingga memerlukan tata kelola yang serius. Persoalan tata kelola agen cerdas juga pernah dibahas SuaraLutim, termasuk laporan tentang agen kecerdasan buatan yang mengirim informasi palsu ke polisi dan ulasan tentang penyebaran model bahasa ke semua lapisan layanan.


