Berita viral hari ini datang dari bursa kripto terbesar dunia, Binance, yang kembali membuka layanan penarikan aset pada Minggu, 1 November 2026, setelah peretasan raksasa yang menelan sekitar 6,3 miliar dolar Amerika Serikat. Penarikan dibuka bertahap mulai pukul 06.00 GMT dengan 15 jenis aset pada tahap pertama, termasuk Bitcoin, Ether, XRP, dan Dogecoin. Perusahaan menyebut pembukaan ini hanya mungkin karena sebagian besar kerugian pengguna sudah diganti dari kas internal.
Peretasan tersebut menjadi salah satu pencurian aset digital terbesar yang pernah tercatat. Sebagian besar dana raib dalam waktu sekitar 20 menit pada Kamis malam, 29 Oktober 2026, sebelum perusahaan menyadari skala kerugiannya. Bagi pengguna di Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa risiko penyimpanan aset di bursa terpusat bukan sekadar teori.
Sejumlah media nasional melaporkan perkembangan terbaru dengan angka yang serupa, meski istilahnya berbeda. Ada yang menyebut kerugian ditutup 90 persen, ada pula yang memakai ukuran nilai aset yang sudah dibeli kembali. Artikel ini merangkum apa yang sudah dikonfirmasi perusahaan, apa yang masih berupa dugaan, dan apa yang belum jelas.
Berita viral: penarikan dibuka setelah lima hari
Binance menghentikan seluruh penarikan sejak insiden keamanan terdeteksi pada 29 Oktober. Keputusan itu membuat jutaan pengguna tidak bisa memindahkan aset keluar dari platform, termasuk mereka yang ingin mengamankan dana ke dompet pribadi. Penghentian berlangsung hampir lima hari penuh.
Pada tahap pertama, hanya 15 jenis aset yang bisa ditarik. Daftarnya mencakup Bitcoin, Ether, XRP, dan Dogecoin, menurut laporan CNN Indonesia. Aset lain akan menyusul secara bertahap setelah proses pembelian token pengganti selesai.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Cara Binance menutup kerugian pengguna
Binance tidak memulihkan dana yang dicuri dari tangan peretas. Yang dilakukan perusahaan adalah membeli token baru di pasar sebagai pengganti aset yang hilang, sehingga saldo pengguna kembali utuh. Metode ini berbeda dengan upaya penegakan hukum yang mengejar pelaku.
Hingga Sabtu, 31 Oktober, perusahaan menyatakan sudah mengganti sekitar 90 persen dari nilai aset yang dicuri. Angka itu naik dari posisi sehari sebelumnya yang berada di kisaran 80 persen, seperti dilaporkan Tirto dan Antara.
Sisa 10 persen terdiri atas token dengan likuiditas rendah di luar sepuluh aset terbesar. Binance menyebut token jenis ini lebih sulit dibeli dalam jumlah besar tanpa menggerakkan harga. Pembelian dilakukan lewat pasar terbuka dan transaksi langsung antarpihak atau OTC.
Dana internal dan SAFU jadi penopang
Binance menyisihkan sekitar 6,34 miliar dolar Amerika Serikat dari dana perusahaan untuk menutup kerugian. Sebagian dana itu sudah berbentuk kripto yang terkena dampak, sehingga tidak perlu dibeli ulang di pasar. Sisanya dipakai memborong token pengganti.
Sumber dana berasal dari tiga kantong: Secure Asset Fund for Users atau SAFU senilai sekitar 1 miliar dolar, sebagian Futures Insurance Fund, dan kas perusahaan. Co-CEO Yi He menyatakan separuh dana SAFU dipakai, dan perusahaan berkomitmen mengisi kembali kantong itu hingga sekitar 1 miliar dolar.
Selain itu, sekitar 3 miliar dolar aset yang dicuri telah dibekukan bersama mitra industri hingga Jumat, 30 Oktober. Pembekuan ini tidak otomatis mengembalikan dana ke pengguna, tetapi memperkecil ruang gerak pelaku. Rincian aset yang dibekukan per penerbit stablecoin tidak diumumkan lengkap.
Bukti cadangan dan verifikasi mandiri
Binance mengambil snapshot baru atas aset yang tersimpan di platform per pukul 00.00 GMT, 31 Oktober. Snapshot itu menjadi dasar pembaruan laporan bukti cadangan yang bisa diperiksa publik. Perusahaan berjanji pengguna dapat memverifikasi dukungan aset minimal 1 banding 1.
Verifikasi memakai teknologi zero-knowledge proof, sehingga pengguna bisa memastikan saldonya tercakup tanpa membuka data pribadi ke publik. Sepuluh aset utama, termasuk Bitcoin, Ether, USDT, BNB, Solana, USDC, XRP, USD1, RLUSD, dan ZEC, disebut sudah sepenuhnya didukung.
Jejak Korea Utara dan tuduhan FBI
FBI pada Sabtu, 31 Oktober, menuding unit siber yang disponsori Korea Utara bernama TraderTraitor bertanggung jawab atas serangan tersebut. Lembaga itu menyatakan aparat mengamati anggota unit tersebut mengonversi aset curian menjadi Ether. FBI juga memperkirakan akan ada pencucian lanjutan memakai teknologi terkait.
Perusahaan analisis blockchain TRM Labs dan Chainalysis menyebut pola serangan punya kemiripan dengan sejumlah kasus besar sebelumnya yang dituduhkan ke Korea Utara. Kesamaan itu terlihat dari kecepatan pengurasan dompet dan cara dana dipindahkan berlapis.
Pyongyang selama bertahun-tahun membantah memakai unit siber negara untuk spionase, pencurian keuangan, dan pengumpulan pendapatan. Perwakilan Korea Utara di Jenewa dan kedutaannya di China tidak menanggapi permintaan komentar, menurut laporan yang dikutip CNA.


