Berita viral pada Minggu (18/10/2026) datang dari Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Rekaman yang memperlihatkan air Sungai Cileungsi berwarna hitam pekat menyebar di media sosial, disertai narasi ikan mabuk dan bau menyengat. Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor menyatakan segera melakukan pengecekan.
Berita Viral: Sungai Cileungsi Menghitam Lagi
Warna air dilaporkan berubah sejak pagi, sekitar pukul 09.30 WIB. Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C) Puarman Kahar mengatakan perubahan itu disertai kenaikan debit air, padahal hujan tidak turun selama empat hari.
“Mulai terlihat pagi tadi jam 09.30 an. Tadi saya lihat debit sungai bertambah dengan aliran berwarna hitam, padahal tidak ada hujan selama 4 hari. Sore ini (air) masih hitam,” kata Puarman seperti dikutip detikcom.
Ia menyebut rekaman video diambil di dua titik. Titik pertama di kawasan perumahan Bumi Mutiara, Desa Bojongkulur. Titik kedua di bagian hulu, tepatnya di Jembatan Cikuda, Desa Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri.
Menurut Puarman, kondisi air pada Sabtu (17/10/2026) sore masih terlihat normal. Perubahan baru terjadi keesokan harinya. Lompatan kondisi dalam waktu singkat itu membuat warga menduga ada sumber pencemaran yang masuk dari arah hulu.
Kronologi Temuan Warga
Laporan VIVA Bogor menyebut Puarman menyaksikan langsung kondisi air dari tepi sungai. Ia melihat sejumlah ikan mulai mabuk dan menggelepar di permukaan. Bau tidak sedap juga tercium di sekitar aliran.
Setelah melihat kondisi di Bumi Mutiara, Puarman menelusuri aliran ke arah hulu. Air di sekitar Jembatan Cikuda, Wanaherang, juga terlihat hitam dan berbau. Dari penelusuran itu muncul dugaan bahwa sumber perubahan berada di area di atas jembatan.
Warga yang merekam kejadian menyertakan narasi bahwa banyak ikan terdampar. Narasi itu belum diverifikasi secara resmi, termasuk soal jumlah ikan yang mati. Sampai berita ini ditulis, belum ada laporan resmi mengenai skala kerugian warga.
Kondisi sungai sebelumnya dilaporkan membaik sekitar satu bulan. Karena itu, perubahan mendadak pada Minggu pagi mengejutkan warga yang mengikuti perkembangan kualitas air di kawasan tersebut.
KP2C adalah komunitas warga yang rutin memantau kondisi Sungai Cileungsi dan Cikeas. Mereka biasanya mencatat perubahan warna, bau, dan debit, lalu meneruskannya ke instansi terkait. Catatan semacam itu menjadi salah satu rujukan awal ketika warga melaporkan pencemaran.
Dugaan Limbah Industri dan Langkah DLH
Kepala DLH Kabupaten Bogor Teuku Mulya mengaku belum menerima informasi awal soal kejadian itu saat dikonfirmasi. “Kita belum dapat infonya, kita segera cek,” katanya kepada detikcom pada Minggu sore.
DLH belum merinci lokasi titik pengambilan sampel, parameter yang diuji, maupun waktu hasil pemeriksaan akan diumumkan. Belum ada pula keterangan apakah akan ada penyisiran ke fasilitas industri di sekitar aliran.
Puarman menduga pencemaran berasal dari limbah industri. Namun ia sendiri menegaskan dugaan itu belum bisa dipastikan. Diperlukan penelusuran dan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui sumber air yang menghitam.
Sejumlah warga menyinggung keberadaan pipa pembuangan di sekitar aliran. Informasi itu belum terverifikasi dan belum dikonfirmasi instansi berwenang. Karena itu, tidak ada nama perusahaan atau pihak tertentu yang bisa disimpulkan bertanggung jawab dari laporan awal ini.
Dalam kasus pencemaran sungai, prosedur awal biasanya mencakup pencatatan lokasi, pengambilan sampel air, dan pengujian parameter tertentu. Hasil uji itu yang kemudian dipakai untuk menentukan apakah ada pelanggaran baku mutu dan siapa yang perlu dimintai keterangan.
Apa yang Diketahui
Yang diketahui, air Sungai Cileungsi berubah warna menjadi hitam pada Minggu pagi. Perubahan terlihat di Bojongkulur dan Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri. Debit air meningkat meski tidak ada hujan selama beberapa hari.
Warga melaporkan bau menyengat dan ikan yang tampak mabuk. KP2C mencatat kondisi air masih normal pada Sabtu sore. DLH Kabupaten Bogor menyatakan akan melakukan pengecekan setelah mendapat konfirmasi media.
Laporan Kompas juga mencatat kejadian serupa dengan judul yang menekankan ikan mabuk dan air berbau. Dua laporan media berbeda itu sepakat pada waktu, lokasi, dan saksi utama.


