Rekam Jejak Swift Selama 22 Tahun
Swift dirancang untuk berputar cepat ke arah ledakan yang terdeteksi. Kemampuannya itu membuat ia menjadi penunjuk arah bagi teleskop lain. Hubble dan Webb sering mengikuti koordinat yang dikirim Swift.
Selama bertugas, Swift membantu ilmuwan menemukan lebih dari 2.000 semburan sinar gamma. Ia juga mencatat sekitar 1.400 bintang yang meledak atau supernova. Selain itu, ada sejumlah komet, asteroid, dan lubang hitam yang menghancurkan bintang.
Pada 2025, misi Swift sempat kembali aktif setelah sempat dinyatakan berakhir. Teleskop itu justru menemukan lebih banyak semburan sinar gamma dan peristiwa berenergi tinggi. Laporan soal berakhirnya misi dimuat di Media Indonesia.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Apa Arti Kehilangan Swift bagi Ilmuwan
Swift berperan sebagai sistem peringatan dini bagi komunitas astronomi. Tanpa wahana itu, respons terhadap ledakan baru menjadi lebih lambat. Teleskop lain harus menunggu koordinat dari sumber lain.
Para ilmuwan kini mencari pengganti yang bisa mengisi peran tersebut. Sejumlah misi baru dirancang dengan instrumen yang lebih sensitif. Namun waktu peluncurannya masih bertahun-tahun lagi.
Peluncuran satelit baru kini menjadi rutinitas yang menarik perhatian publik, seperti pada peluncuran satelit kecerdasan buatan Google. Perhatian itu wajar karena satelit makin dekat dengan kehidupan sehari-hari, dari navigasi sampai komunikasi.
Bagi Indonesia, kehilangan Swift tidak mengubah layanan harian. Namun data ledakan yang selama ini terbuka bagi peneliti ikut berkurang. Observatorium nasional dan kampus tetap bisa mengakses data arsip, tetapi pengamatan baru bergantung pada wahana lain.
Karena itu, sejumlah lembaga antariksa mendorong misi pengganti yang lebih tahan lama. Rancangannya mencakup kemampuan bermanuver dan orbit yang lebih tinggi. Dengan begitu, wahana tidak cepat turun akibat hambatan atmosfer.
Bagaimana Serpihan Antariksa Dipantau
Pemantauan serpihan antariksa dilakukan dengan jaringan radar dan teleskop optik. Objek berukuran besar dilacak agar jalurnya bisa diprediksi. Data itu dipakai untuk menerbitkan peringatan jalur jatuh.
Untuk objek yang tidak terkendali, prediksi waktu jatuh baru akurat beberapa jam sebelum masuk atmosfer. Sebelum itu, area kemungkinan jatuh masih lebar. Karena itu, peringatan bersifat perkiraan, bukan kepastian.
Masyarakat diminta tidak menyentuh benda yang diduga serpihan antariksa. Material semacam itu bisa mengandung bahan berbahaya. Langkah yang dianjurkan adalah melapor ke otoritas setempat agar bisa diperiksa.
Apa yang Diketahui
Swift adalah observatorium NASA yang diluncurkan 20 November 2004. Upaya penyelamatan dengan robot Link gagal dan teleskop kehilangan kestabilan pada akhir Oktober. Sistemnya sudah dimatikan dan wahana diperkirakan masuk atmosfer pada 6 November 2026.
U.S. Space Force menyebut sebagian besar serpihan akan jatuh ke laut. Jalur lintasan yang dipantau mencakup Afrika, Australia, India, Asia Tenggara, serta Amerika Tengah dan Selatan. Hingga laporan ini disusun belum ada laporan korban atau kerusakan.
Apa yang Belum Terkonfirmasi
Waktu jatuh masih berupa perkiraan dan bisa bergeser beberapa jam. Titik pasti jatuhnya serpihan belum bisa ditentukan. Belum ada pernyataan resmi NASA soal hasil akhir pelacakan setelah wahana masuk atmosfer.
Luas dan berat serpihan yang mencapai permukaan juga belum diumumkan. Sebagian besar material biasanya terbakar saat masuk atmosfer. Namun jumlah yang tersisa bergantung pada bahan dan sudut masuknya.
FAQ Seputar Teleskop Swift
Kapan teleskop Swift jatuh ke Bumi? U.S. Space Force memperkirakan pada Jumat, 6 November 2026, atau sekitar waktu itu. Waktu pastinya masih bisa bergeser.
Apakah serpihannya berbahaya bagi Indonesia? Indonesia berada dalam jalur lintasan yang dipantau. Namun peluang serpihan mengenai permukiman sangat kecil karena sebagian besar material terbakar di atmosfer.
Mengapa Swift tidak bisa diselamatkan? Robot Link yang disiapkan Katalyst Space mengalami masalah teknis. Ia hanya mendekat 12 sampai 15 kilometer sebelum jatuh kembali ke Bumi pada September 2026.
Baca juga
- Viral Hari Ini: Banjir Lahar Semeru Terjang Lumajang
- Berita Indonesia: Inflasi Oktober 3,23 Persen, Cabai Merah
- Tambang Nasional: Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen
Kumpulan berita terbaru seputar Luwu Timur hari ini ada di kanal Luwu Timur hari ini.


