Viral hari ini di Lumajang, Jawa Timur, banjir lahar dingin Gunung Semeru menerjang permukiman warga. Material vulkanik meluber ke jalan dan rumah di kawasan lereng gunung pada Senin, 2 November 2026. Tiga kecamatan tercatat paling terdampak, yaitu Jatiroto, Pronojiwo, dan Tempursari.
Banjir dipicu hujan lebat yang mengguyur puncak Semeru sejak Minggu malam sekitar pukul 23.40 WIB. Alat pemantauan PVMBG merekam getaran banjir selama enam jam penuh. Status gunung masih Level III atau Siaga sepanjang peristiwa berlangsung.
Warga di dataran rendah melaporkan air masuk ke rumah. Satu tanggul di Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, dilaporkan jebol. Akses jembatan di jalur warga juga terganggu karena air melampaui permukaan jalan.
Viral Hari Ini: Banjir Lahar Semeru Berlalu Enam Jam
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru Agastya Rajendra mengatakan getaran banjir terekam pada periode 00.00 sampai 06.00 WIB. Amplitudo maksimumnya 65 milimeter dengan durasi 21.600 detik atau enam jam. Angka itu menunjukkan aliran material berlangsung lama, bukan hanya sekali lewat.
Selain getaran banjir, alat mencatat satu kali gempa guguran dengan amplitudo 6 milimeter dan durasi 115 detik. Terdapat pula 14 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 10 sampai 25 milimeter. Durasi gempa letusan berkisar 31 sampai 153 detik.
Secara visual, puncak Semeru tertutup kabut sehingga asap kawah tidak teramati. Cuaca hujan, angin lemah ke arah barat dan barat laut, dengan suhu udara sekitar 19 sampai 21 derajat Celsius. Laporan lengkapnya dimuat di CNN Indonesia.
Iklan

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola
Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.
Tanggul di Desa Purorejo Jebol
Debit air di sejumlah daerah aliran sungai meningkat tajam setelah hujan berjam-jam. Peningkatan itu menyebabkan tanggul di Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, tidak mampu menahan aliran. Air kemudian meluber ke area permukiman di sekitarnya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur Satriyo Nurseno menyebut titik fokus terjangan berada di kawasan perbatasan. Lokasinya di aliran Sungai Glidik atau Kali Manjing, tepatnya di jembatan yang menghubungkan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Wilayah terdampak berada dalam pantauan Kecamatan Tempursari.
Warga Kecamatan Tempursari menyebut air membanjiri jalan hingga masuk ke rumah. Menurut warga, permukiman di dataran rendah paling parah terendam, sementara area dataran tinggi relatif aman. Kesaksian itu disampaikan langsung kepada wartawan di lokasi.
Tiga Kecamatan Paling Terdampak
BPBD mencatat tiga kecamatan sebagai wilayah paling terdampak, yaitu Jatiroto, Pronojiwo, dan Tempursari. Ketiganya berada di jalur sungai yang berhulu di Semeru. Pola ini berulang setiap kali hujan deras turun di puncak gunung.
Kecamatan Tempursari mendapat perhatian paling besar karena tanggul jebol. Di Pronojiwo dan Jatiroto, luapan material merendam jalan dan pekarangan warga. Belum ada laporan resmi soal jumlah rumah yang rusak berat di dua wilayah itu.
Wilayah-wilayah tersebut berada di sisi tenggara gunung, arah yang memang menjadi jalur keluarnya material vulkanik. Peta kawasan rawan bencana sudah menandai jalur ini sejak lama. Namun permukiman dan aktivitas warga tetap tumbuh di sekitarnya.
Status Semeru Masih Siaga Level III
Hingga Senin siang, Gunung Semeru masih berstatus aktivitas vulkanik Level III atau Siaga. Status ini tidak berubah meski banjir lahar sudah mereda. PVMBG menilai potensi perluasan awan panas dan lahar masih ada.
Status Siaga berarti gunung menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan. Warga diminta tetap waspada, terutama saat hujan turun di kawasan puncak. Kombinasi endapan material dan air hujan adalah pemicu utama lahar.
Rekam jejak aktivitas Semeru sepanjang Oktober bisa dibaca pada laporan sebelumnya. Saat itu gunung tercatat erupsi puluhan kali dalam sepekan. Pola itu menjelaskan mengapa endapan material di hulu sungai terus bertambah.
Zona Larangan dan Imbauan PVMBG
PVMBG melarang segala aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak. Di luar radius itu, warga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai. Larangan berlaku selama status Siaga dipertahankan.
Warga juga diimbau menjauhi alur sungai yang berhulu di Semeru. Sungai tersebut meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, dan anak-anak sungainya. Aliran lahar bisa datang cepat tanpa tanda awal yang jelas.
Penambang pasir dan pengemudi angkutan material menjadi kelompok paling berisiko. Mereka diminta segera menghentikan aktivitas saat hujan turun di puncak. Imbauan ini disampaikan berulang karena korban lahar sering berasal dari aktivitas di dalam alur sungai.


