Tambang nasional kembali jadi sorotan setelah Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM melaporkan realisasi investasi sektor hilirisasi pada kuartal III 2026 mencapai Rp179,9 triliun, naik 19,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Untuk pertama kalinya secara berurutan, bauksit menyalip nikel sebagai penopang terbesar investasi pengolahan mineral di dalam negeri. Angka itu disampaikan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Senin (19/10/2026).
Tambang Nasional: Bauksit Rp61,9 Triliun, Nikel Rp48 Triliun
Data BKPM menunjukkan investasi hilirisasi bauksit pada kuartal III 2026 menembus Rp61,9 triliun. Angka itu berada di atas investasi hilirisasi nikel yang tercatat Rp48 triliun pada periode yang sama. Posisi bauksit sebagai motor utama memang sudah terlihat sejak kuartal sebelumnya.
Pada kuartal II 2026, realisasi investasi bauksit mencapai Rp40,1 triliun, melonjak 193 persen dari kuartal I yang hanya Rp13,7 triliun. Saat itu nikel masih tercatat Rp29,4 triliun. Pergeseran ini menandakan peta investasi pengolahan mineral tidak lagi bertumpu pada satu komoditas.
Komoditas lain menyusul di belakangnya. Besi baja mencatat Rp10,5 triliun, tembaga Rp2,1 triliun, emas dan perak Rp1,6 triliun, serta mineral lainnya Rp4,5 triliun. Secara keseluruhan, investasi hilirisasi mineral pada kuartal III 2026 mencapai Rp128,6 triliun.
Realisasi Investasi Nasional Rp528,7 Triliun
Pada periode yang sama, realisasi investasi nasional secara keseluruhan mencapai Rp528,7 triliun. Total investasi Januari sampai September 2026 tercatat Rp1.539,2 triliun, setara 75,4 persen dari target tahun ini. Penanaman modal asing menyumbang Rp777,8 triliun atau 50,5 persen, sedangkan penanaman modal dalam negeri Rp761,4 triliun atau 49,5 persen.
Investasi sepanjang sembilan bulan pertama 2026 menyerap 2.194.496 tenaga kerja. Sebarannya pun tidak lagi terpusat di Jawa. Investasi di luar Jawa mencapai Rp779,4 triliun atau 50,6 persen, sementara di Jawa Rp759,8 triliun atau 49,4 persen.
DKI Jakarta tetap menjadi provinsi dengan realisasi investasi terbesar, yaitu Rp249,3 triliun atau 16,2 persen dari total nasional. Posisi berikutnya ditempati Jawa Barat Rp229,1 triliun, Sulawesi Tengah Rp116 triliun, Jawa Timur Rp110,5 triliun, dan Maluku Utara Rp96 triliun. Dua provinsi terakhir adalah kantong utama industri pengolahan nikel.
Rosan menyebut capaian itu sebagai hasil kerja bertahap, bukan lonjakan sesaat. Pemerintah menargetkan realisasi investasi tahun 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun, sehingga masih ada sekitar seperempat target yang harus dikejar pada kuartal IV.
Hilirisasi Menyumbang 35 Persen Investasi
Kontribusi hilirisasi terhadap investasi nasional juga naik. Pada triwulan III 2024, porsinya masih sekitar 26 persen. Pada triwulan III 2026, angkanya sudah menyentuh 35 persen, meski secara kumulatif Januari sampai September berada di kisaran 31 persen.
Dari sisi wilayah, investasi hilirisasi di luar Jawa mencapai Rp373,1 triliun atau sekitar 78 persen dari total. Investasi hilirisasi di Jawa tercatat Rp106,9 triliun atau 22 persen. Pola ini mengikuti lokasi tambang dan kawasan industri pengolahan yang sebagian besar berada di Sulawesi dan Maluku.
Pada 19 Oktober 2026, pemerintah juga menyoroti 26 proyek hilirisasi bernilai total Rp225 triliun yang sedang dikawal pelaksanaannya. Proyek itu mencakup pengolahan nikel, bauksit, tembaga, sampai turunan sawit. Daftar tersebut dibahas terpisah dalam laporan 26 proyek hilirisasi Rp225 triliun yang menjadi rujukan pengawasan publik.
Nilai ekspor minerba olahan juga menjadi penopang. Sepanjang Januari sampai Agustus 2026, ekspor produk olahan nikel dan komoditas tambang lain tercatat naik, sebagaimana diulas dalam artikel ekspor minerba naik dengan nikel Rp467,55 triliun. Kombinasi investasi dan ekspor inilah yang membuat hilirisasi masih dianggap sebagai mesin pertumbuhan.
Kenapa Bauksit Naik Cepat
Beberapa faktor membuat bauksit menarik bagi investor. Pasokan bijih bauksit Indonesia masih melimpah, sementara permintaan aluminium dunia terus tumbuh, terutama dari sektor energi, kendaraan listrik, dan konstruksi. Pembangunan smelter alumina dan aluminium di Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau menyerap modal besar dalam waktu singkat.
Dorongan kebijakan juga berperan. Larangan ekspor bijih mentah memaksa pemegang izin membangun fasilitas pengolahan di dalam negeri. Ketika smelter mulai beroperasi, arus investasi tercatat di sektor logam dasar yang menjadi kontributor terbesar penanaman modal asing.
Menurut data BKPM, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya menjadi penyumbang terbesar investasi penanaman modal asing dengan Rp246,6 triliun atau 31,7 persen. Bila penanaman modal asing dan dalam negeri digabung, sektor itu mencatat Rp269,2 triliun atau 17,5 persen dari total investasi Januari sampai September 2026.
Namun, lonjakan bauksit menyimpan catatan. Sejumlah pengamat mengingatkan bahwa harga alumina dan aluminium sangat dipengaruhi pasar global, sehingga nilai investasi tidak otomatis berarti keuntungan berkelanjutan. Risiko kelebihan pasokan juga perlu dihitung.


