Tambang nasional hari ini menyorot proyeksi Forum Industri Nikel Indonesia soal kebutuhan bijih limonit yang naik pada 2027. Kenaikan itu dipicu bertambahnya kapasitas smelter hidrometalurgi berbasis high pressure acid leaching yang memproduksi mixed hydroxide precipitate. Kapasitas MHP nasional diperkirakan melampaui 900.000 metrik ton nikel pada akhir 2027.
Proyeksi disampaikan Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah kepada wartawan, Rabu (21/10/2026). Ia menyebut tambahan kapasitas itu akan menambah kebutuhan pasokan bahan baku. Besaran kenaikan bijih limonit belum bisa dirinci.
Tambang Nasional: Kebutuhan Limonit Naik 2027
Bijih limonit adalah bijih nikel kadar rendah. Jenis ini menjadi bahan baku utama smelter HPAL yang mengolah nikel untuk baterai kendaraan listrik. Karena kadar nikelnya rendah, volume yang dibutuhkan jauh lebih besar dibanding saprolit.
Selama ini limonit sering dianggap limbah penambangan nikel. Pandangan itu berubah ketika permintaan baterai meningkat. Kini limonit punya pasar sendiri, lengkap dengan harga patokan dan rantai pasok tersendiri.
FINI memperkirakan kapasitas MHP Indonesia menembus 900.000 metrik ton nikel pada akhir 2027. Angka itu naik dua kali lipat dari posisi saat ini. Rincian proyek dan waktu komisioning belum diumumkan, seperti dilaporkan Koridor.co.id.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Dari 450 Ribu ke 900 Ribu Ton Nikel
Saat ini produksi smelter HPAL berupa MHP, nikel sulfat, dan kobalt sulfat mencapai sekitar 450.000 ton nikel. Angka itu menjadi basis perbandingan proyeksi 2027. Kenaikannya sekitar dua kali dalam dua tahun.
Tambahan kapasitas berasal dari sejumlah proyek HPAL yang berada di tahap akhir konstruksi. Proyek-proyek itu diproyeksikan masuk tahap komisioning hingga operasi penuh. Setiap proyek menambah kebutuhan bijih harian yang besar.
Untuk memproduksi satu ton nikel lewat jalur HPAL, dibutuhkan beberapa ton bijih limonit. Rasio itu menjelaskan mengapa kenaikan kapasitas MHP berimplikasi besar pada permintaan bijih. Beban pasokan tidak hanya bertambah linear, tetapi mengikuti volume olahan.
Mengapa Limonit Menjadi Kunci
Smelter HPAL dirancang khusus untuk mengolah bijih kadar rendah. Teknologi ini memakai pelindian asam pada tekanan tinggi untuk memisahkan nikel dan kobalt. Karena itu, pasokan limonit yang stabil menjadi syarat utama operasi.
Kualitas bijih juga menentukan efisiensi. Kadar air, kandungan magnesium, dan ukuran partikel memengaruhi konsumsi asam dan energi. Smelter biasanya menetapkan spesifikasi ketat agar biaya produksi tetap terkendali.
Persoalannya, tidak semua pemegang izin usaha pertambangan mampu memasok sesuai spesifikasi. Sebagian bijih tidak dapat dijual karena harganya tidak sesuai formula patokan. Akibatnya, pasokan menumpuk di satu sisi sementara smelter kekurangan di sisi lain, seperti dijelaskan dalam laporan VIV.co.id.
Pasokan Bijih dan Kuota RKAB
Realisasi produksi bijih nikel hingga Agustus 2026 mencapai 160 juta wet metric ton. Penyerapan oleh smelter diproyeksikan mencapai 290 juta wet metric ton hingga akhir tahun. Kebutuhan tahunan smelter saat ini berada di kisaran 320 juta metrik ton.
Angka kebutuhan itu lebih besar daripada kuota produksi dalam RKAB 2026. Pemerintah menetapkan kuota bijih nikel pada rentang 260 sampai 270 juta ton. Selisihnya ditutup sebagian lewat impor dan penyesuaian produksi.
Asosiasi Penambang Nikel Indonesia meminta pemerintah mempertimbangkan perkembangan produksi saat menetapkan kuota RKAB 2027. Permintaan itu muncul karena kapasitas smelter terus bertambah. Pembahasan kuota tahun ini sudah dibahas dalam artikel Tambang Nasional: RKAB 2026 Disetujui, Nikel Defisit.
Impor dari Filipina dan Tekanan Pasokan
Impor bijih nikel dari Filipina hingga Oktober 2026 tercatat 11 juta wet metric ton. Angka itu menunjukkan pasokan domestik belum cukup memenuhi kebutuhan smelter. Sebagian pengusaha memilih impor karena kualitas dan harga lebih sesuai.
Ketergantungan impor punya risiko. Kapasitas Filipina terbatas dan sebagian besar produksinya sudah terikat kontrak jangka panjang. Jika permintaan Indonesia naik tajam, harga bijih impor berpotensi ikut naik.
Pemerintah menyatakan penetapan kuota produksi mengikuti kebutuhan pabrik pengolahan. Pendekatan itu dimaksudkan agar pasokan tidak berlebihan dan harga tidak jatuh. Namun, evaluasi kuota selalu berhadapan dengan kepentingan tambang dan smelter yang berbeda.


