Tambang nasional kembali jadi sorotan setelah lembaga riset BMI merilis proyeksi jangka panjang pasar nikel dunia. BMI, yang merupakan bagian dari Fitch Solutions, memperkirakan pasar nikel global mulai defisit pada 2030 setelah bertahun-tahun surplus. Proyeksi itu dilaporkan Bloomberg Technoz pada 9 Oktober 2026 dan dikutip sejumlah media ekonomi dalam negeri.
Defisit pertama diperkirakan mencapai 25.000 metrik ton pada 2030. Angkanya melebar menjadi 173.000 metrik ton pada 2031 dan 231.000 metrik ton pada 2032.
Proyeksi ini penting bagi Indonesia karena negara ini memasok hampir dua pertiga produksi nikel dunia. Arah harga nikel jangka panjang akan sangat dipengaruhi kebijakan produksi dan hilirisasi di dalam negeri.
Tambang Nasional: Defisit Nikel Diprediksi Mulai 2030
BMI menilai pasar nikel masih surplus dalam beberapa tahun ke depan. Surplus diperkirakan bertahan sampai 2029 sebelum berbalik menjadi defisit pada 2030.
Perubahan itu terjadi karena konsumsi tumbuh lebih cepat dibandingkan produksi. Kebutuhan nikel dari sektor baterai dan baja tahan karat terus bertambah, sementara pertumbuhan pasokan melambat.
Dalam laporan tersebut, BMI menempatkan defisit 2030 sebagai titik balik pasar. Setelah fase itu, keseimbangan pasokan dan permintaan berubah arah untuk periode yang cukup panjang.
Bagi negara produsen, fase defisit membuka ruang kenaikan harga. Namun fase itu juga menguji kesiapan industri dalam negeri memenuhi permintaan yang meningkat.
Proyeksi ini belum menjadi kenyataan. Semua bergantung pada realisasi produksi, pertumbuhan permintaan, dan kebijakan perdagangan di negara-negara produsen utama.
Rincian Surplus dan Defisit Menurut BMI
BMI memperkirakan pasar nikel masih surplus 75.000 metrik ton pada 2026. Angka itu turun menjadi 70.000 metrik ton pada 2027.
Pada 2028, surplus diperkirakan melebar lagi ke 110.000 metrik ton. Setahun kemudian, surplus menyusut menjadi 83.000 metrik ton pada 2029.
Pergeseran terjadi pada 2030 dengan defisit 25.000 metrik ton. Setelah itu, defisit membesar cukup cepat: 173.000 metrik ton pada 2031 dan 231.000 metrik ton pada 2032.
Pada 2030, BMI memperkirakan produksi nikel dunia sekitar 5,01 juta metrik ton. Sementara konsumsi diperkirakan menyentuh 5,03 juta metrik ton.
Selisih tipis itu menjelaskan mengapa pasar berbalik arah. Ketika pasokan tidak lagi punya bantalan, gangguan produksi di satu negara bisa langsung menggerakkan harga dunia.
Harga Nikel Diproyeksi Naik Bertahap
BMI memproyeksikan harga rata-rata nikel menembus US$19.000 per metrik ton pada 2030. Sebelumnya, harga rata-rata 2026 diproyeksikan sekitar US$17.000 per metrik ton.
Pada 2031, harga rata-rata diperkirakan naik ke US$21.500 per metrik ton. Puncaknya diproyeksikan terjadi pada 2032 di level US$22.000 per metrik ton.
Harga nikel memang bergerak volatil. Pada awal Oktober 2026, harga nikel di London Metal Exchange berada di kisaran US$15.500 sampai US$15.700 per metrik ton.
Jarak antara harga sekarang dan proyeksi 2032 menunjukkan seberapa besar perubahan struktur pasar yang diharapkan terjadi. Dalam jangka pendek, surplus masih menahan kenaikan harga.
Proyeksi ini juga mencerminkan pengalaman masa lalu. Harga nikel pernah melonjak ekstrem pada Maret 2022 akibat tekanan pembelian untuk menutup posisi jual, sebelum akhirnya turun tajam.


