Tambang nasional mendapat bahan diskusi baru setelah pelaku industri menyoroti potensi batu bara metalurgi atau kokas di Indonesia. Dalam media briefing di Jakarta pada Kamis, 15 Oktober 2026, Indonesian Mining Institute menyebut sumber daya kokas nasional diperkirakan mencapai 2,7 miliar ton. Angka itu menjadi modal untuk memperkuat pasokan bahan baku industri baja dalam negeri sekaligus mengejar pasar ekspor.
Tambang Nasional: Sumber Daya Kokas Capai 2,7 Miliar Ton
Ketua Indonesian Mining Institute Irwandy Arif mengatakan sumber daya kokas sebesar 2,7 miliar ton itu tersebar di sejumlah lokasi dengan cadangan yang relatif terbatas. Menurut dia, potensi tersebut tetap layak dikembangkan karena kebutuhan baja domestik terus tumbuh.
Batu bara metalurgi berbeda dari batu bara termal yang biasa dipakai pembangkit listrik. Kokas dibutuhkan tanur tinggi sebagai bahan bakar sekaligus agen pereduksi dalam proses produksi besi dan baja, sehingga spesifikasinya lebih ketat.
Irwandy menyampaikan hal itu dalam forum bertajuk batu bara metalurgi Indonesia dan peluang di balik industri baja. Paparannya menjadi acuan awal bagi pelaku usaha yang menilai prospek komoditas ini, sebagaimana dilaporkan Indonesian Mining Association.
Bagi Indonesia, hilirisasi batu bara masih menjadi arah kebijakan yang dijaga. Pemerintah telah menetapkan sejumlah skema untuk mendorong nilai tambah di dalam negeri, termasuk usulan kuota produksi yang dibahas dalam artikel soal usul kuota batu bara 700 juta ton.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Produksi Nasional Baru Sekitar 1 Persen Dunia
Meski memiliki sumber daya besar, skala produksi kokas Indonesia masih kecil dibandingkan produsen utama dunia. Produksi nasional pada 2025 diperkirakan sekitar 11 juta ton, atau hanya sekitar 1 persen dari total produksi global.
Sebagai perbandingan, Australia memproduksi sekitar 172 juta ton dan Rusia sekitar 98 juta ton pada periode yang sama. Produksi kokas global mencapai sekitar 1,1 miliar ton dengan Cina sebagai produsen terbesar, sekitar 514 juta ton berdasarkan data Shanghai Metal Market.
Komposisi produk Indonesia juga belum ideal. Produksi saat ini didominasi semi-soft coking coal dan pulverized coal injection, sedangkan hard coking coal yang paling dicari industri baja masih terbatas.
Kesenjangan itu menjelaskan mengapa pasar domestik belum sepenuhnya terlayani. Produsen baja tetap perlu mendatangkan bahan baku dari luar karena kualitas dan volume pasokan dalam negeri belum memenuhi spesifikasi yang diminta.
Impor Domestik Masih 17 Juta Ton Setiap Tahun
Kebutuhan kokas domestik masih ditopang impor sekitar 17 juta ton, lebih besar daripada produksi nasional yang berada di kisaran 11 juta ton pada 2025. Selisih itu menjadi ruang bagi pengembangan tambang dan peningkatan kapasitas pengolahan di dalam negeri.
Data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara memperkirakan sumber daya batu bara metalurgi nasional sekitar 2,12 miliar ton. Kebutuhan industri kokas dan baja disebut mencapai sekitar 20 juta ton per tahun, dengan sekitar 85 persen masih dipenuhi melalui impor.
Ruang pengembangan itu tidak otomatis terisi oleh produsen nasional. Pelaku usaha menyoroti perlunya kepastian jangka panjang agar investasi tambang dan fasilitas pengolahan kokas layak secara ekonomi.
Kendala Pembiayaan, Perizinan, dan Logistik
Ketua Komite Minerba Asosiasi Pengusaha Indonesia Hendra Sinadia menyoroti sejumlah hambatan yang masih dirasakan pelaku usaha. Akses pendanaan menjadi kendala utama karena proyek kokas membutuhkan belanja modal besar dengan masa pengembalian panjang.
Proses perizinan dinilai belum efisien, terutama yang berkaitan dengan persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya serta penggunaan kawasan hutan. Ketidakpastian jadwal perizinan berpengaruh langsung pada rencana investasi dan produksi perusahaan.
Faktor geografis juga menekan biaya. Sebagian besar cadangan batu bara metalurgi berada di Kalimantan Tengah, dengan medan sungai, dataran rendah, dan rawa yang menyulitkan eksplorasi serta pengangkutan. Persoalan itu pernah dipaparkan pengurus asosiasi pertambangan batu bara dalam forum industri.
Menurut catatan Kontan, tantangan itu membuat pengembangan batu bara kokas berjalan lambat. Biaya logistik dari lokasi tambang ke pelabuhan disebut menjadi salah satu komponen yang paling membebani struktur biaya produksi.


