Peluang Ekspor ke China dan India
Dari sisi permintaan, pasar Asia tetap menjadi tumpuan utama. Data World Steel Association yang dikutip Hendra menunjukkan sekitar 65 persen atau dua pertiga kebutuhan baja dunia dihasilkan oleh dua negara saja, yaitu Cina 53 persen dan India 9 persen.
Kendati krisis properti memperlambat permintaan Cina, agresivitas India yang masih mengandalkan teknologi tanur tinggi dinilai mampu menopang pasar. Irwandy memperkirakan impor kokas India bertambah sekitar 2 juta sampai 3 juta ton pada periode 2026 sampai 2027.
Ekspor kokas Indonesia ke India tercatat sekitar 2,5 juta ton. Keunggulan geografis menjadi nilai tambah karena waktu pengiriman dari Indonesia ke pelabuhan utama di Cina dan India disebut hanya sekitar separuh waktu pengiriman dari Australia.
Pelaku tambang juga menyiapkan kapasitas jangka panjang. Chief Finance Officer PT Borneo Prima, Ilham Nugraha, menyatakan cadangan perusahaan di Kalimantan Tengah cukup menopang produksi hingga puluhan tahun dan sebagian sumber daya berpotensi naik status melalui eksplorasi lanjutan, seperti dikutip IDX Channel.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Apa yang Diketahui
Pemerintah dan asosiasi industri sepakat bahwa batu bara metalurgi punya prospek besar, terutama untuk memasok industri baja nasional dan pasar Asia. Sumber daya nasional disebut mencapai 2,7 miliar ton, sementara kebutuhan domestik sekitar 20 juta ton per tahun masih bergantung pada impor.
Kendala yang paling sering disebut adalah pembiayaan, perizinan, dan logistik. Produksi nasional pada 2025 diperkirakan sekitar 11 juta ton, jauh di bawah Australia dan Rusia, dengan komposisi produk yang belum memenuhi kebutuhan hard coking coal.
Harga acuan batu bara tetap menjadi faktor pasar yang perlu dicermati pelaku usaha. Perkembangan terakhir harga acuan dibahas dalam artikel soal HBA batu bara Oktober 2026 yang sebagian besar kategori turun.
Apa yang Belum Terkonfirmasi
Belum ada angka resmi baru mengenai target produksi batu bara metalurgi nasional untuk 2027 maupun besaran investasi yang dibutuhkan untuk menggantikan impor kokas. Pemerintah juga belum menyampaikan insentif khusus bagi pengembangan komoditas ini.
Perkiraan jumlah impor India pada 2026 sampai 2027 masih berupa proyeksi asosiasi dan institusi riset pasar, bukan angka final. Realisasi bisa berbeda bergantung pada kebijakan baja dan energi di negara tujuan.
Data sumber daya 2,7 miliar ton dari asosiasi juga belum dirinci per lokasi dan tingkat keyakinan geologinya. Rincian itu diperlukan sebelum pembaca menyimpulkan berapa besar cadangan yang benar-benar siap ditambang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa bedanya batu bara metalurgi dan batu bara termal?
Batu bara metalurgi atau kokas dipakai industri baja sebagai bahan baku tanur tinggi. Batu bara termal digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Keduanya berbeda dari sisi kalori, kandungan abu, dan spesifikasi teknis.
Mengapa Indonesia masih mengimpor kokas?
Karena produksi dalam negeri baru sekitar 11 juta ton setahun, sementara kebutuhan sekitar 20 juta ton. Sebagian kebutuhan menuntut hard coking coal yang pasokan nasionalnya masih terbatas, sehingga industri memilih mendatangkan dari luar.
Siapa pasar ekspor utama batu bara metalurgi Indonesia?
Cina dan India menjadi tujuan utama karena dua negara itu mendominasi produksi baja dunia. Ekspor kokas Indonesia ke India tercatat sekitar 2,5 juta ton, sementara permintaan India diperkirakan masih bertambah dalam dua tahun ke depan.
Sumber utama laporan ini adalah paparan Ketua Indonesian Mining Institute Irwandy Arif dalam media briefing 15 Oktober 2026 yang dilaporkan Bisnis Indonesia, keterangan Ketua Komite Minerba Apindo Hendra Sinadia, serta data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara.


