Bank sampah dan mitra pengelola di desa
IMIP menggandeng sejumlah mitra komunitas untuk mengelola sampah yang terkumpul. Mitra itu adalah Bank Sampah Lestari Mandiri di Desa Bahomakmur, Bank Sampah Sidaya dan KSM Ara Sinergi Berdaya di Desa Labota, serta pengurus TPS3R Desa Le-Le. Keterlibatan kelompok lokal membuat rantai pengelolaan tetap berjalan setelah kegiatan seremonial selesai.
Sejak 2024, kegiatan bank sampah di wilayah lingkar industri IMIP telah melibatkan ratusan ibu rumah tangga di sejumlah desa di Kecamatan Bahodopi. Total nilai tabungan nasabah dilaporkan lebih dari Rp35 juta. Tabungan itu digunakan untuk kebutuhan harian, termasuk biaya pendidikan anak.
Bagi warga, bank sampah berperan sebagai lembaga keuangan sederhana berbasis lingkungan. Setoran sampah dicatat layaknya tabungan, kemudian dapat dicairkan sesuai kebutuhan. Model ini membuat pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan sesaat.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Kenapa program ini penting bagi kawasan industri
Kawasan industri yang tumbuh cepat biasanya menghadapi lonjakan timbulan sampah seiring bertambahnya jumlah pekerja. Jika tidak dikelola, sampah rumah tangga bisa menumpuk dan menimbulkan masalah lingkungan bagi desa sekitar. Program berbasis warga menjadi salah satu cara menekan risiko itu.
Bagi perusahaan, kegiatan seperti ini juga menjadi bagian dari pemenuhan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Aspirasi warga di lingkar industri sering kali berkaitan dengan kualitas lingkungan hidup sehari-hari. Karena itu, program yang menyentuh persoalan nyata cenderung lebih diterima daripada bantuan simbolis.
Isu lingkungan di sekitar kawasan industri nikel memang menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari tata kelola izin hingga risiko bencana. Temuan soal lokasi izin usaha pertambangan nikel di zona rawan bencana menunjukkan bahwa aspek lingkungan dan keselamatan makin diperhatikan publik. Program pengelolaan sampah menjadi pelengkap kecil namun penting dalam kerangka itu.
Tantangan menjaga keberlanjutan program
Tantangan pertama adalah memastikan harga beli sampah tetap menarik dibanding usaha warga. Jika selisih nilai tukar mengecil, minat memilah bisa menurun dengan cepat. Karena itu, rantai pembeli material perlu dijaga agar tetap menyerap hasil pengumpulan.
Tantangan kedua adalah konsistensi jadwal pengumpulan dan pencatatan. Warga terbiasa menabung jika jadwalnya jelas dan pencatatannya rapi. Ketidakpastian jadwal sering menjadi penyebab program serupa berhenti setelah beberapa bulan berjalan.
Ketiga, dukungan pemerintah daerah menentukan kelanjutan pengelolaan di luar kawasan industri. Kinerja ekspor mineral yang menopang penerimaan negara memberi ruang fiskal bagi daerah untuk memperkuat infrastruktur persampahan. Tanpa itu, beban pengelolaan akhirnya kembali ke desa dan perusahaan.
Apa yang diketahui dan apa yang belum terkonfirmasi
Yang diketahui: program Sembada digelar di tiga desa selama tiga hari, dengan total sampah anorganik bernilai ekonomi sekitar Rp1.443.500. Sembako yang disalurkan meliputi beras, minyak goreng, gula, teh, kopi, sarden, mi instan, dan garam. Semua angka itu berasal dari keterangan resmi IMIP yang dikutip beberapa media.
Yang belum terkonfirmasi: belum ada laporan independen yang menghitung ulang volume dan nilai sampah tersebut. Belum ada pula keterangan mengenai jadwal lanjutan Sembada setelah rangkaian World Cleanup Day 2026 berakhir pada 28 Oktober. Besaran anggaran program juga belum diumumkan.
Program sejenis di desa lain di luar Bahodopi belum dinyatakan secara resmi. Pemerintah Kabupaten Morowali juga belum memberikan penilaian tertulis mengenai dampak program ini terhadap pengelolaan sampah daerah. Karena itu, pembaca sebaiknya menempatkan angka-angka tersebut sebagai data dari penyelenggara.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu program Sembada dari IMIP?
Sembada adalah program penukaran sampah anorganik rumah tangga dengan kebutuhan pokok bersubsidi. Program difasilitasi Tim CSR PT IMIP di Kecamatan Bahodopi dan menjadi bagian rangkaian World Cleanup Day 2026.
Berapa nilai sampah yang terkumpul?
Menurut keterangan IMIP, nilai ekonomis sampah yang terkumpul diperkirakan Rp1.443.500 dari 133,69 kilogram botol plastik, 312,38 kilogram kardus, ratusan kilogram kaleng kecil, dan 1.615 botol kaca.
Bagaimana warga menukarkan sampahnya?
Sampah dihitung berdasarkan jumlah satuan lalu dikalikan harga material di pasaran. Nilai itu ditukar dengan paling banyak tiga komoditas, seperti beras, minyak goreng, atau kopi, dengan harga yang disubsidi 40 sampai 50 persen.
Sumber utama: ANTARA, Demokratis.co.id, dan Kabar Selebes.
Baca juga
- Berita Indonesia: Prabowo Panggil Menteri Ekonomi dan BI
- Politik Nasional: Gerindra 22,9 Persen Versi Poltracking
- Berita Viral: Agen AI Google Kini Jalankan Lab Basah
Kumpulan berita terbaru seputar berita Luwu Timur ada di kanal berita Luwu Timur.


