Viral hari ini di kalangan pekerja kantor keuangan: Goldman Sachs menarik kembali alat coding berbasis kecerdasan buatan dari sebagian besar karyawannya. Bank investasi itu membatasi pemakaian Claude Code dan GitHub hanya untuk engineer, menurut pedoman internal yang diperbarui pada Oktober dan dikutip Bloomberg.
Keputusan tersebut terasa mengejutkan karena Goldman termasuk perusahaan yang paling vokal mempromosikan ide bahwa karyawan non teknis bisa membuat perangkat lunak sendiri. Pada Juli, kepala informasi mereka memuji praktik vibe coding di kalangan trader dan banker. Kini arahnya berbalik.
Bagi banyak perusahaan yang sedang mendorong pemakaian AI di semua divisi, kasus ini memberi pelajaran penting. Alat yang mempercepat pekerjaan belum tentu aman dipakai tanpa batas, dan biaya pengelolaannya bisa lebih besar daripada manfaat yang terlihat di awal.
Viral Hari Ini: Isi Kebijakan Internal Goldman Sachs
Menurut laporan Bloomberg yang disindikasikan Yahoo Finance, Goldman membatasi alat coding AI untuk engineer saja. Sebelumnya, banker diizinkan memakai Claude Code dari Anthropic dan GitHub dari Microsoft untuk pekerjaan sehari-hari.
Pedoman itu diperbarui pada Oktober setelah bank meninjau produktivitas dan risiko. Juru bicara Goldman, Nick Carcaterra, mengatakan perusahaan memang menguji sejumlah alat AI lalu menyerahkannya kepada orang yang paling tepat memakainya untuk jangka panjang.
Kutipan lengkapnya dimuat Quartz. Intinya, Goldman menyebut ada masa eksperimen untuk menilai berbagai faktor, termasuk produktivitas dan manajemen risiko, sebelum alat itu ditempatkan di tangan pengguna yang sesuai.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Dari Vibe Coding ke Engineer Saja
Pada Juli 2026, Chief Information Officer Goldman, Marco Argenti, berbicara positif tentang vibe coding di kalangan karyawan non teknis. Menurutnya, trader atau staf manajemen aset bisa membuat prototipe cepat dengan AI, lalu menyerahkannya ke salah satu dari 12.000 engineer bank untuk dirapikan.
Pola itu terdengar efisien: ide datang dari orang yang memahami pasar, eksekusi teknis dibantu model, dan penyempurnaan dilakukan engineer. Banyak perusahaan lain meniru pola serupa dengan harapan inovasi datang lebih cepat dari lantai dagang.
Namun pola tersebut punya titik lemah. Prototipe yang dibuat tanpa disiplin rekayasa sulit diaudit, sulit dirawat, dan berisiko membawa data sensitif ke tempat yang tidak seharusnya. Ketika jumlah prototipe bertambah, beban perbaikan menumpuk di tim engineer.
Goldman tampaknya sampai pada kesimpulan bahwa manfaatnya tidak sebanding dengan beban tata kelola. Pembatasan ini bukan penolakan terhadap AI, melainkan pengetatan batas siapa yang boleh memakainya untuk apa.
Alasan Produktivitas dan Manajemen Risiko
Dua alasan yang disebut Goldman terdengar umum, tetapi dalam konteks bank investasi keduanya punya bobot besar. Produktivitas diukur bukan hanya dari kecepatan menyelesaikan tugas, tetapi juga dari waktu yang dipakai orang lain untuk memeriksa hasilnya.
Manajemen risiko lebih rumit lagi. Alat coding AI bekerja dengan membaca dan menulis berkas, menjalankan perintah, dan kadang mengakses repositori kode. Di lingkungan yang penuh data klien dan strategi dagang, setiap akses adalah potensi kebocoran.
Ada pula risiko kualitas. Model bisa menghasilkan kode yang tampak benar tetapi salah secara logika keuangan. Pada sistem yang menghitung posisi atau arus perdagangan, kesalahan kecil bisa berdampak besar dan sulit dilacak setelah berjalan berbulan-bulan.
Menurut The Decoder, pembatasan ini memicu kekecewaan di internal. Sebagian trader merasa alat itu membantu pekerjaan mereka, terutama untuk memantau arus perdagangan klien dan menyiapkan bahan presentasi.
Siapa yang Masih Boleh Memakai
Kebijakan baru ini tidak mencakup kelompok strats, yaitu karyawan yang pekerjaannya menggabungkan rekayasa perangkat lunak, riset kuantitatif, dan perdagangan. Mereka tetap memakai alat tersebut karena peran mereka memang menuntut kemampuan teknis.
Engineer tetap menjadi pengguna utama. Pembatasan berlaku bagi banker dan trader yang sebelumnya memakai alat itu untuk memantau arus klien, memodelkan perubahan pasar dan posisi, serta membuat konten tertulis dan grafis.
Goldman juga pernah membatasi alat AI sebelumnya. Pada awal 2026, bank itu membatasi staf di Hong Kong dari penggunaan Claude. Pola ini menunjukkan bahwa kebijakan AI di perusahaan besar bergerak bolak-balik, tergantung hasil evaluasi dan tekanan risiko.


