Minggu, 1 November 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Viral Nusantara

Viral Nusantara: Asap Karhutla Ancam Stunting Anak

31 Oktober 2026 • zul • 22 kali dibaca
Kabut asap tebal menyelimuti Kalimantan dilihat dari citra satelit NASA
NASA Earth Observatory, CC BY 2.0, Wikimedia Commons
ASM Group
Iklan

Bukti Ilmiah dan Keterbatasannya

Penting dicatat, hubungan antara paparan asap dan stunting tidak bersifat tunggal. Stunting punya banyak penyebab, dan asap adalah salah satu faktor risiko yang memperberat. Menyebut asap sebagai penyebab tunggal akan menyederhanakan persoalan yang sebenarnya berlapis.

Keterbatasan lain adalah minimnya pemantauan jangka panjang di Indonesia. Studi yang dikutip umumnya berasal dari peristiwa besar masa lalu atau penelitian di negara lain. Karena itu, Nastiti menilai diperlukan kohort prospektif besar untuk mengikuti anak-anak terdampak dari waktu ke waktu.

FKUI menyiapkan langkah lanjutan berupa penelitian dampak kesehatan pascakarhutla bersama Ikatan Alumni Magister Kedokteran Kerja. Studi direncanakan mengamati kondisi kesehatan dalam rentang satu sampai tiga bulan setelah kejadian, dengan fokus pada gejala sisa gangguan pernapasan dan keluhan lain yang berkaitan dengan paparan asap.

Iklan

Tata Atur
Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Empat Langkah Perlindungan Anak

Langkah pertama adalah memantau pertumbuhan dan perkembangan. Orang tua perlu mengukur tinggi dan berat badan secara berkala serta mewaspadai keterlambatan perkembangan. Pengukuran rutin di posyandu menjadi titik deteksi paling murah dan paling mudah dijangkau.

Langkah kedua adalah memantau kesehatan pernapasan. Batuk atau mengi yang berulang, asma yang tidak terkontrol, dan sesak saat aktivitas perlu diperiksa. Pemeriksaan fungsi paru atau spirometri dianjurkan bila fasilitas kesehatan memungkinkan.

Langkah ketiga adalah memperkuat pencegahan penyakit melalui imunisasi lengkap, pemenuhan gizi, perilaku hidup bersih dan sehat, serta rumah bebas asap rokok. Langkah keempat adalah perlindungan lingkungan, mulai dari pemantauan kualitas udara hingga penyediaan ruang bersih di sekolah saat kabut asap pekat.

Peran Sekolah dan Pemerintah Daerah

Sekolah berada di garis depan karena anak menghabiskan sebagian besar waktu siang di sana. Ketika indeks kualitas udara memburuk, ruang kelas dengan ventilasi terkontrol dan filter udara menjadi pilihan yang lebih aman dibanding kegiatan luar ruangan. Kebijakan pembelajaran jarak jauh pernah dipakai di sejumlah daerah saat asap memuncak.

Pemerintah daerah memegang peran pada dua sisi. Pertama, memastikan layanan kesehatan siap menerima lonjakan kasus pernapasan. Kedua, menurunkan sumber paparan dengan menegakkan larangan pembakaran lahan dan mempercepat pemadaman.

Di tingkat nasional, beban kasus akibat karhutla sudah beberapa kali dilaporkan. Artikel ISPA Karhutla Tembus 283.270 Kasus mencatat angka pada pertengahan Oktober, sementara perluasan titik api di sejumlah kawasan dibahas dalam artikel Karhutla Gunung Latimojong Meluas.

Mengapa Isu Ini Mudah Terlupakan

Karhutla punya siklus perhatian yang pendek. Ketika asap menipis dan hujan turun, isu ini turun dari pemberitaan. Padahal dampak kesehatan bergerak lebih lambat, berbulan-bulan hingga bertahun-tahun setelah api terakhir dipadamkan.

Selain itu, gejala sisa sulit dikenali orang tua. Batuk yang hilang timbul, nafsu makan menurun, atau prestasi belajar yang turun tidak langsung dikaitkan dengan paparan asap setahun sebelumnya. Di titik inilah pencatatan riwayat paparan menjadi penting.

Karena itu, imbauan FKUI dan IDAI sebaiknya dibaca sebagai pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak selesai pada pemadaman. Pemantauan anak yang terpapar, terutama di daerah yang berulang kali dilanda karhutla, adalah pekerjaan panjang yang menuntut anggaran dan data.

Apa yang Diketahui dan Apa yang Belum Terkonfirmasi

Yang diketahui: webinar FKUI pada 31 Oktober 2026 memaparkan risiko gangguan pertumbuhan paru, asma persisten, dan stunting pada anak yang terpapar asap karhutla. IDAI juga menyampaikan peringatan serupa, dan data 23 Oktober mencatat 75.712 balita mengalami infeksi saluran pernapasan akut.

Yang belum terkonfirmasi: besaran kontribusi asap karhutla terhadap angka stunting nasional. Belum ada studi kohort Indonesia yang selesai mengukur hubungan itu secara langsung, dan penelitian lanjutan IMERI FKUI baru direncanakan.

Artikel ini tidak menyimpulkan bahwa setiap anak yang terpapar asap akan mengalami stunting. Risiko bergantung pada lama paparan, tingkat keparahan, kondisi gizi, serta akses layanan kesehatan. Pencegahan tetap menjadi langkah paling rasional.

FAQ Seputar Asap Karhutla dan Stunting

Apakah asap karhutla bisa menyebabkan stunting? Asap bukan penyebab tunggal, tetapi termasuk faktor risiko. Infeksi berulang dan peradangan kronis dapat mengganggu asupan gizi dan pertumbuhan anak.

Apa tanda anak perlu diperiksa setelah terpapar asap? Batuk atau mengi berulang, sesak saat aktivitas, nafsu makan menurun, dan pertumbuhan berat badan yang melambat sebaiknya dikonsultasikan ke layanan kesehatan.

Apa langkah pencegahan paling sederhana? Menjaga anak di dalam ruangan saat kabut pekat, memakai masker untuk anak usia dua tahun ke atas, memantau kualitas udara, dan melengkapi imunisasi serta gizi.

Baca juga

Kumpulan berita terbaru seputar berita Luwu Timur ada di kanal berita Luwu Timur.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga