Berita indonesia kembali diwarnai kabar kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Latimojong, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Api yang sudah masuk hari ketujuh belum berhasil dipadamkan dan terus meluas ke sejumlah pos pendakian. Asap tebal terlihat membumbung naik dari lokasi kebakaran. Jalur pendakian Gunung Latimojong masih ditutup sampai waktu yang belum ditentukan.
Berita Indonesia: Api Karhutla Gunung Latimojong Belum Padam
Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan Gunung Latimojong di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Api yang berlangsung selama tujuh hari belum berhasil dipadamkan dan terus meluas hingga sejumlah pos pendakian. Kondisi itu disampaikan langsung oleh pemandu yang memantau jalur pendakian di lokasi.
“Api menyala sudah masuk hari ke 7 dan sudah menyebar ke kiri dan kanan jalur. Asap yang tebal terlihat membumbung naik di lokasi ini,” kata Tour Guide Gunung Latimojong, Sunardi, seperti dilaporkan detik. Keterangan itu juga dikutip dalam laporan CNN Indonesia.
Titik kebakaran yang dinilai paling parah berada di pos 5 jalur merah melalui Dusun Angin-angin. Api dilaporkan merambat ke pos 4, pos 5, dan pos 6 sejak beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut membuat petugas dan warga kesulitan memantau pergerakan api dari dekat.
Kawasan Gunung Latimojong merupakan salah satu tujuan pendakian utama di Sulawesi Selatan. Jumlah pendaki yang datang ke kawasan itu cukup besar, terutama pada musim kemarau. Karena itu, penutupan jalur menjadi keputusan yang menyangkut keselamatan banyak orang.
Kronologi Kebakaran di Jalur Merah
Laporan detikSulsel menyebut api kembali terdeteksi di jalur merah melalui Dusun Angin-angin pada Minggu, 11 Oktober 2026. Sejak hari itu, kobaran api terus merambat ke beberapa pos pendakian. Pergerakan api disebut cukup cepat karena bahan bakar di lantai hutan sangat kering.
Kebakaran sebelumnya melanda kawasan Gunung Latimojong di Buntu Bela, Dusun Karuaja, Desa Latimojong, Kecamatan Buntu Batu, pada 18 Agustus 2026 sekitar pukul 11.00 Wita. Lokasi kebakaran itu berjarak sekitar 10 kilometer dari permukiman warga. Sejumlah titik api sempat dilaporkan padam sebelum muncul kembali pada Oktober.
Data dari dua laporan media berbeda menunjukkan pola yang sama, yaitu api muncul berulang di jalur yang sama. Puncak Pentialloan pada ketinggian 2.650 meter di atas permukaan laut disebut sebagai salah satu titik kebakaran pertama. Setelah itu, api menjalar ke bagian jalur yang lebih rendah.
Jalur Pendakian Ditutup Sejak Akhir Agustus
Jalur pendakian Gunung Latimojong sudah ditutup sejak akhir Agustus 2026. Penutupan dilakukan menyusul kebakaran yang terjadi di puncak Pentialloan pada 18 Agustus 2026. Keputusan itu diambil setelah warga setempat menyampaikan keberatan atas rencana pembukaan kembali jalur.
Camat Buntu Batu, Jasmin, membenarkan bahwa jalur pendakian masih ditutup akibat kebakaran hutan dan lahan. Ia menyatakan penutupan dilakukan untuk sementara dengan mempertimbangkan kondisi di kawasan tersebut. Menurut dia, penutupan bisa berlangsung sampai waktu yang belum bisa dipastikan.
“Iya, ditutup untuk sementara. Saya sarankan untuk ditutup pada tanggal 18 Agustus karena sudah berapa kali terjadi kebakaran,” ujar Jasmin. Ia menyebut kebakaran telah berulang kali terjadi di kawasan hutan Gunung Latimojong. Situasi itu dinilai membahayakan keselamatan pendaki bila jalur kembali dibuka ketika musim kemarau masih berlangsung.
Pihak kecamatan belum menyebut tanggal pasti pembukaan jalur pendakian. Semua pihak diminta menunggu perkembangan kondisi di lapangan. Prioritas utama yang disebut pemerintah setempat adalah keselamatan pendaki dan warga di sekitar kawasan.
Warga Menolak Jalur Dibuka Saat Kemarau
Warga sekitar menolak jalur pendakian Latimojong dibuka selama musim kemarau masih berlangsung. Alasan utama mereka adalah masih adanya titik kebakaran di sejumlah lokasi. Selain itu, kondisi hutan disebut benar-benar kering sehingga mudah terbakar kembali.
“Warga menolak jalur pendakian Latimojong dibuka karena selain beberapa titik kebakaran, kondisi hutan juga betul-betul kering,” kata Sunardi. Penolakan itu disampaikan setelah kebakaran pertama di puncak Pentialloan. Hingga kini belum ada tanda bahwa sikap warga berubah.
Menurut Jasmin, jalur tersebut sebaiknya tetap ditutup sampai musim hujan tiba. Ia menilai risiko kebakaran baru masih tinggi selama curah hujan belum meningkat. Pemerintah daerah diminta mempertimbangkan faktor cuaca sebelum mengambil keputusan apa pun.


