Viral nusantara kali ini datang dari dunia arkeologi: sebuah kapal karam berusia sekitar 4.400 sampai 4.700 tahun ditemukan di lepas Pantai Kekova, Antalya, Turki selatan. Jika penanggalan itu bertahan, bangkai kapal ini menjadi kapal karam tertua yang pernah ditemukan manusia.
Viral Nusantara: Temuan di Lepas Pantai Kekova
Penemuan itu diumumkan Kementerian Kebudayaan Turki pada Rabu, 14 Oktober 2026, dan dilaporkan BBC. Lokasinya berada di dekat Pulau Kekova, di perairan Antalya, pada kedalaman sekitar 30 meter.
Struktur kayu kapalnya tidak lagi tersisa. Yang ditemukan adalah muatannya: lebih dari 30 tempayan keramik besar yang disebut amphora, tersebar di lereng dasar laut bersama tiga jangkar batu berukuran besar.
Meski kayunya sudah hancur, sebagian tempayan itu dilaporkan masih menyimpan jejak isi yang pernah diangkutnya. Kondisi itu membuat situs ini disebut sebagai kapsul waktu di dasar laut.
Versi CNN menyebut muatan itu diangkat dalam penggalian yang selesai pada awal Oktober 2026. Menurut keterangan kementerian, temuan tersebut memberi informasi baru soal sejarah pelayaran, kehidupan para pelaut, dan jaringan perdagangan pada masa itu.
Ekspedisi dipimpin Profesor Hakan Öniz dari Universitas Akdeniz, Turki, bersama Mediterranean Archaeology Association. Situs ini sebenarnya sudah terlihat pada 2024, tetapi pengangkatan muatan baru diselesaikan pada awal Oktober 2026.
Iklan

Campus Commercial Park: rukost di kawasan kampus
C.CO Park menghadirkan kawasan ruko dan kost dalam satu gerbang, dirancang untuk mahasiswa dan penghuni sekitar kampus. Cocok untuk yang mencari aset produktif dengan pengelolaan kawasan yang tertata.
Cara Ilmuwan Menentukan Usianya
Karena tidak ada kayu yang tersisa, penanggalan radiokarbon tidak bisa dipakai. Metode itu memerlukan bahan organik untuk mengukur sisa karbon, dan di situs Kekova bahan semacam itu tidak ada.
Sebagai gantinya, para arkeolog menganalisis bentuk dan teknik dekorasi tembikar. Gaya keramik berubah sepanjang zaman, sehingga corak tertentu bisa dikaitkan dengan periode tertentu.
Amphora dari Kekova punya ciri khas: dua pegangan, tonjolan di bagian tengah, dan dasar yang rata. Menurut Öniz, bentuk itu cocok dengan amphora yang ditemukan di Mesir dan Timur Tengah yang diketahui berusia 4.400 sampai 4.700 tahun.
Dari perbandingan teknik dekorasi, tim menyimpulkan bangkai kapal ini berasal dari Zaman Perunggu Awal. Öniz menyebut keyakinan timnya sangat tinggi, meski penanggalan berbasis gaya tembikar tetap menyisakan ruang perdebatan.
Isi Kargo dan Jejak Perdagangan
Muatan utama kapal ini diduga minyak zaitun atau anggur. Keduanya adalah komoditas perdagangan penting di kawasan Mediterania pada masa itu.
Ada satu amphora yang istimewa. Permukaannya diberi tanda khusus dan tubuhnya berlubang dua, sehingga para peneliti menduga wadah itu dipakai untuk membuat keju atau mentega.
Jika dugaan itu benar, ada petunjuk bahwa para pelaut membawa ternak di kapal. Itu memberi gambaran baru soal kehidupan harian pelayaran jarak jauh pada milenium ketiga sebelum masehi.
Ukuran kapal diperkirakan sekitar 10 meter. Menurut para peneliti, kapal itu kemungkinan berlayar dari pelabuhan di pantai Levant, singgah di beberapa desa untuk memuat tempayan, lalu menuju Kreta atau Troya saat karam.
Analisis tanah liat disebut mengarah pada bengkel kerajinan di Lembah Yordan. Perbedaan kecil antar amphora menunjukkan muatannya berasal dari beberapa bengkel dan permukiman berbeda.
Mengapa Temuan Ini Penting
Temuan ini menyoroti periode paling awal perdagangan maritim Mediterania. Sebelum perdagangan internasional mapan, pedagang memakai wadah bermulut lebar dengan dasar rata seperti yang ditemukan di Kekova.
Setelah perdagangan berkembang, bentuk wadah bergeser ke model bermulut sempit dengan dasar meruncing. Bentuk baru itu lebih efisien ditumpuk di ruang kapal, sehingga bisa mengangkut lebih banyak barang dalam sekali pelayaran.
Bagi arkeologi bawah air, situs Kekova menunjukkan bahwa muatan kapal bisa bertahan jauh lebih lama daripada badan kapalnya. Pelajaran ini penting untuk penentuan prioritas survei di perairan lain.
Penemuan serupa juga sering menjadi daya tarik wisata bahari. Di dalam negeri, potensi wisata perairan dan kawasan konservasi menjadi perhatian daerah, seperti kami laporkan dalam artikel pengembangan wisata Danau Matano di Luwu Timur.
Kawasan wisata bahari lain di Luwu Timur juga terus dibenahi, misalnya lewat laporan kami soal Pantai Siuone di tepi Danau Towuti. Pengelolaan situs bawah air pada akhirnya menuntut keseimbangan antara pelestarian dan kunjungan publik.


