Kamis, 22 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Tambang & Industri

Berita Tambang Nasional: Harga Nikel Diramal Naik US$19.500

28 September 2026 • Admin • 26 kali dibaca
ASM Group
Iklan

Lutim, SuaraLutim – Harga nikel dunia diramal bergerak naik ke kisaran
US$17.500–US$19.500 per ton dalam beberapa bulan ke depan, dengan syarat pemangkasan produksi
di Sulawesi benar-benar terealisasi pada kisaran 30 sampai 40 persen. Syarat itu bukan wacana:
sebagian smelter di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) sudah mengurangi produksi karena
kekurangan air pendingin imbas musim kering panjang. Bagi Luwu Timur, isu ini menyentuh langsung
Sorowako, pusat operasi PT Vale Indonesia yang listriknya bergantung pada pembangkit tenaga air.

Berita tambang nasional: proyeksi harga nikel US$19.500

Analis komoditas sekaligus Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo,
menilai harga nikel masih punya ruang naik dari level sekitar US$16.700 per ton. Ia menyebut
skenario yang lebih mungkin adalah harga bergerak menuju rentang US$17.500–US$19.500 per ton,
mendekati puncak yang pernah dicapai pada Mei 2026.

“Skenario yang lebih mungkin terjadi adalah harga bergerak naik dari level saat ini
US$16.700 ke kisaran US$17.500–US$19.500 per ton dalam beberapa bulan ke depan mendekati puncak
Mei 2026; dengan syarat pemangkasan produksi di Sulawesi benar-benar terealisasi di kisaran 30
sampai 40 persen,” kata Sutopo, seperti dikutip
Bloomberg Technoz, Senin (28/9/2026).

Sutopo menambahkan, arah harga juga dipengaruhi kebijakan pemangkasan kuota produksi dalam
Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang dijalankan tahun ini. Pasar memang sedang menunggu
arah itu: harga nikel di London Metal Exchange sempat merosot sekitar 18 persen dari puncaknya pada
awal Mei, lalu naik 1,1 persen dalam sehari setelah kabar pemangkasan produksi di Morowali muncul.

Tata Atur
Iklan

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Mengapa pasokan Sulawesi jadi penentu

Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah, mengungkapkan sejumlah
proyek pengolahan dan pemurnian nikel mulai terdampak musim kering tahun ini. Dampaknya berupa
penurunan produksi akibat kekurangan pasokan air, dan wilayah yang paling terasa menurut
catatannya berada di Sulawesi.

Menurut Arif, belum ada angka pasti berapa banyak smelter yang terdampak.
“Masing-masing proyek smelter mengalami dampak dan tingkatan yang berbeda-beda, tergantung
lokasi, kebutuhan air, ketersediaan sumber air dan lain-lain,” ujarnya kepada
Katadata, Kamis (24/9/2026).

Tekanan yang sama dirasakan sektor kelistrikan. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan
Sulawesi Selatan menghadapi masalah pasokan listrik karena surutnya air untuk pembangkit listrik
tenaga air, dan laporan PLN menyebut penurunan daya mampu terjadi pada sejumlah PLTA serta
pembangkit minihidro. Sistem kelistrikan Sulawesi bagian selatan memang bertumpu pada pasokan
hidro, sehingga musim kering langsung terasa pada kemampuan pasokan listrik industri.

Air, El Nino, dan pemangkasan di Morowali

IMIP di Morowali, Sulawesi Tengah, sudah mengambil langkah nyata: perusahaan-perusahaan di
kawasan itu diminta mengurangi produksi nickel pig iron (NPI) karena pasokan air yang
dipakai sebagai pendingin dan pelindung peralatan berkurang.

Laporan Bloomberg menyebut volume terdampak bisa mencapai hampir sepertiga kapasitas bulanan
kawasan itu, atau sekitar 100 ribu ton NPI. Wood Mackenzie mencatat kapasitas IMIP 350 ribu ton per
bulan atau 4,2 juta ton per tahun. IMIP sendiri sudah memperingatkan sejak awal September bahwa
produksi bisa turun 30 sampai 40 persen bila kondisi air tidak membaik.

Juru bicara IMIP, Dedy Kurniawan, membenarkan kekurangan air membuat sebagian smelter mengurangi
produksi NPI. Ia menegaskan dampaknya belum sampai menghentikan operasi pabrik maupun mengurangi
pekerja; pengelola kawasan dan sejumlah penyewa pabrik disebut menyesuaikan target produksi sambil
mencari sumber air alternatif.

Proyek hidrometalurgi yang mengolah limonit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP)
untuk bahan baku baterai juga kena imbas. Nickel Industries, pemegang 46 persen saham proyek
Excelsior Nickel Cobalt, melaporkan curah hujan di tambang Hengjaya pada Agustus 2026 kurang dari
4 milimeter, jauh di bawah rata-rata historis Agustus yang berkisar 222 milimeter.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga