Rabu, 21 Oktober 2026 | WITA Cepat • Berani • Dekat dengan Warga
SuaraLutim - Suara Warga, Kabar Luwu Timur
Pariwisata

Destinasi Luwu Timur: Jejak Wisata Budaya Nuha-Towuti

3 Oktober 2026 • Admin • 16 kali dibaca
Kunjungan di kawasan wisata destinasi luwu timur, Danau Matano, Kecamatan Nuha
Gambar: Dokumentasi SuaraLutim.
ASM Group
Iklan

Iklan

Kawasan Paviliun Akademika di Akademika Townhouse Gowa

Paviliun Akademika: punya kost tanpa repot kelola

Paviliun Akademika menghadirkan pilihan investasi kost terkelola di Akademika Townhouse, Gowa. Unit disiapkan untuk disewakan, dengan pengelolaan kawasan yang ditangani pemilik proyek.

Buka paviliun.site

Tata Atur
Iklan

SUARALUTIM.COM – Destinasi Luwu Timur hampir selalu dikaitkan dengan danau purba: Matano yang diyakini terdalam di Asia Tenggara, Towuti yang membentang luas, hingga Mahalona. Padahal di tepi danau-danau itu tersimpan lapisan wisata lain yang jarang masuk paket perjalanan, yaitu wisata budaya yang tumbuh dari kampung-kampung tua di Kecamatan Nuha dan Towuti.

Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disparmudora) Kabupaten Luwu Timur mendata sejumlah situs budaya yang bisa dikunjungi, mulai dari gua berjejak gambar cadas, kompleks makam penguasa lokal, rumah adat, mata air yang dikeramatkan warga, sampai bangkai kapal di muara sungai. Lokasinya relatif dekat dari kawasan danau yang sudah dikenal wisatawan.

Destinasi Luwu Timur: Wisata Budaya di Tepi Danau Purba

Wisata budaya di Luwu Timur bukan kategori baru. Sejumlah situs masuk dalam penelusuran resmi Disparmudora sebagai daya tarik wisata budaya, dan sebagian di antaranya menyatu dengan Desa Wisata Matano di Kecamatan Nuha. Artinya, perjalanan menikmati danau bisa dirangkai dengan kunjungan ke situs sejarah tanpa harus menempuh rute yang berputar jauh.

Yang perlu dipahami sejak awal: ini bukan wisata bertema taman hiburan. Sebagian lokasi sakral bagi warga, sebagian lain situs arkeologis. Cara berkunjung yang sopan, memakai pemandu lokal, dan tidak mengubah apa pun di lokasi adalah syarat utama.

1. Gua Andomo dan Jejak Gambar Cadas

Gua Andomo terbentuk alami pada tebing vertikal yang diperkirakan setinggi 20 meter. Secara tradisional, gua ini digunakan masyarakat sebagai tempat pemakaman, sehingga nilai arkeologis sekaligus nilai spiritualnya tinggi. Studi arkeologis mengungkap panel gambar cadas berupa hand stencils, termasuk varian unik dengan jari menyempit yang khas Sulawesi bagian barat daya. Temuan itu menandakan Gua Andomo merupakan situs seni batu prasejarah penting, bukan sekadar ceruk tebing biasa.

2. Makam Mokole Rahampu’u

Masih di kawasan Matano, terdapat situs makam yang dipercaya sebagai tempat peristirahatan terakhir para Mokole Rahampu’u, penguasa lokal pada masa lampau. Nama yang tercatat sebagai pemilik makam adalah La Makandiu dan La Mataluia. Makam di situs ini memiliki nisan berbentuk menhir, sebuah bentuk kuno dengan nilai simbolisme arkeologis penting. Karena berada di kawasan Desa Wisata Matano, situs ini menjadi nilai tambah edukatif bagi pengunjung yang datang untuk melihat danau.

3. Rumah Patudu, Rumah Adat Suku Padoe

Masyarakat Suku Padoe bermukim di wilayah Nuha, Towuti, dan Wasuponda dengan adat serta tradisi yang kuat sejak masa lampau. Salah satu warisan pentingnya adalah Rumah Patudu, rumah adat tradisional yang hingga kini dianggap simbol identitas masyarakat Padoe. Bentuknya rumah panggung dengan ketinggian sekitar dua meter dari permukaan tanah dan ditopang 12 tiang utama yang kokoh. Bagi pengunjung, bangunan ini menjadi pintu masuk untuk memahami cara hidup masyarakat pegunungan di lingkar danau.

4. Mata Air Laa Laa yang Dulu Disebut Bura-Bura

Di Dusun Matano, Kecamatan Nuha, terdapat Mata Air Laa Laa. Sebelumnya mata air ini dikenal dengan nama Mata Air Bura-Bura, terletak di tengah perkampungan Desa Matano di dalam tembok menyerupai kolam yang jernih serta terawat. Nama Bura-Bura melekat karena warga setempat percaya, jika berdiri di pinggir kolam lalu mengucapkan kata “bura-bura”, akan muncul gelembung-gelembung air dari dasar kolam. Fenomena mata air yang muncul dari dasar danau inilah yang membuat kawasan Matano dikenal sebagai desa mata air.

5. Gua Batu Putih di Matompi

Di Desa Matompi, Kecamatan Towuti, terdapat Gua Batu Putih dengan dinding batu kapur berwarna putih alami serta formasi stalaktit dan stalagmit yang terbentuk selama ribuan tahun. Menurut cerita rakyat setempat, gua ini dahulu menjadi tempat perlindungan warga pada masa kerajaan dan dipercaya dijaga roh leluhur. Karena itu Gua Batu Putih dianggap tempat sakral yang menyimpan energi dan sejarah masa lalu, sehingga kunjungan perlu dilakukan dengan adab yang terjaga.

6. Bangkai Kapal di Sungai Malili

Salah satu daya tarik sejarah di Kecamatan Malili adalah bangkai kapal yang berada di Sungai Malili, tepatnya di Jalan Lure, Dusun Malluse Tasi, Desa Balantang. Meski sudah lama dikenal masyarakat lokal, bangkai kapal ini menawarkan nilai histori dan estetika yang memicu rasa penasaran wisatawan dari luar daerah, terutama soal kisah bagaimana sebuah kapal bisa berada di sungai tersebut. Situs semacam ini cocok masuk rangkaian kunjungan singkat saat berada di Kota Malili.

LPK Lunarica
Iklan
Redaksi SuaraLutim

Tim redaksi SuaraLutim mengabarkan isu Luwu Timur secara cepat, berani, dan dekat dengan warga. Setiap informasi diverifikasi sebelum diterbitkan.

Baca Juga