SOROWAKO – Pembeli kini mencari barang lewat ponsel sebelum melangkah ke toko. Bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Luwu Timur – dari warung di kawasan Nuha sampai kios di Malili – perubahan cara orang berbelanja itu menuntut keterampilan baru: memasarkan produk lewat kanal digital. Di titik inilah pelatihan digital marketing untuk UMKM berubah dari pelengkap menjadi bekal bertahan.
Ekonomi Luwu Timur bertumpu pada tambang di Sorowako, sawit, dan pertanian. Ketiga sektor itu menghadirkan daya beli yang nyata, tetapi juga mendatangkan persaingan dari luar daerah: pembeli bisa membeli apa saja dari Makassar atau Jakarta tanpa keluar rumah. Pelaku usaha lokal yang tidak hadir di ruang digital perlahan kehilangan pasar yang sebenarnya ada di sekitar mereka.
Mengapa UMKM Luwu Timur Perlu Keterampilan Digital
Masuk ke kanal digital tidak berarti setiap pemilik usaha harus menjadi ahli teknologi. Yang dibutuhkan justru keterampilan yang praktis: tahu siapa pelanggannya, mampu menuliskan penawaran yang jelas, bisa memotret barang dengan layak, dan mengerti cara mengukur apakah promosinya berhasil atau hanya menghabiskan pulsa.
Keterampilan semacam itu kini diajarkan dalam program pelatihan keterampilan yang digelar lembaga pelatihan dan sertifikasi seperti LPK Lunarica, lembaga yang berbasis di Makassar dengan unit layanan di Luwu Timur. Selain pemasaran digital, lembaga ini mempromosikan program Content Creator, Public Speaking, Service Excellent, pelatihan bahasa Jepang, dan in-house training untuk perusahaan.
Alasannya sederhana. Pelatihan yang hanya menjelaskan teori sering berakhir tanpa perubahan. Pelatihan yang mendorong peserta memakai produknya sendiri sebagai bahan latihan, lalu memberi umpan balik, biasanya meninggalkan jejak yang lebih panjang pada usaha peserta.
Apa yang Dipelajari dalam Pelatihan Digital Marketing untuk UMKM
Materi pelatihan digital marketing untuk UMKM umumnya bertumpu pada empat hal yang bisa langsung dipraktikkan. Pertama, membangun identitas usaha di kanal digital, mulai dari nama akun, deskripsi usaha, sampai foto produk yang tidak asal jadi. Kedua, menyusun rencana konten: apa yang diposting, kapan, dan untuk siapa.
Ketiga, dasar-dasar iklan berbayar dan bagaimana memilih sasaran pembeli agar anggaran kecil tidak terbuang. Keempat, membaca data sederhana dari kanal yang dipakai – jumlah yang melihat, yang menghubungi, dan yang akhirnya membeli – sehingga pemilik usaha bisa menilai apa yang perlu diubah.
Yang jarang disadari, sebagian besar materi itu bertumpu pada keterampilan berkomunikasi. Menulis keterangan produk adalah pekerjaan menulis. Menjawab pertanyaan pembeli adalah pekerjaan melayani. Menawarkan barang lewat siaran langsung menuntut keberanian berbicara. Karena itu, program pendukung seperti pelatihan content creator untuk UMKM sering menjadi pasangan yang masuk akal.
Tiga Hal yang Harus Didigitalkan
Praktisi digital marketing yang berbasis di Makassar, Syaparuddin Salam, pernah merinci tiga hal yang menurutnya wajib masuk ranah digital bagi pelaku UMKM. Pertama, bentuk usahanya: pelaku usaha sebaiknya melengkapi diri dengan toko daring agar produknya bisa dijangkau pembeli di luar lingkungan sekitar.
Kedua, sistemnya: setiap transaksi sebaiknya dicatat secara digital memakai aplikasi keuangan, supaya pemilik usaha punya bahan evaluasi yang rapi ketika hendak mengukur untung rugi. Ketiga, pemasarannya, karena hampir semua saluran promosi kini bertumpu pada kanal digital.
Dalam perbincangan bertema UMKM Go Digital di Program Mozaik Indonesia PRO1 RRI Makassar, ia menyampaikan satu pesan yang lugas kepada pelaku usaha: “Kalau tidak go digital, bisnisnya akan mati.” Bagi Syaparuddin, digitalisasi tidak berhenti pada membuat akun media sosial, tetapi menyentuh cara usaha mencatat, menjual, dan mengevaluasi dirinya sendiri. Uraian lengkapnya pernah kami bahas dalam tulisan tentang trainer digital marketing UMKM Makassar itu.


